
"Sayang, kamu serius dengan ucapanmu tadi?" tanya Kaivan ketika tiba di kediaman Prawira.
Usai menjenguk Luna, mereka langsung pulang, sedangkan Prawira masih menunggu di sana. Kini, Kaivan dan Nadhea sedang duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Ucapan yang mana?" Nadhea balik bertanya sembari menggelung rambut.
"Kamu akan membebaskan Luna?"
Nadhea tersenyum, "Iya. Bagaimanapun juga dia adikku, Bang. Tak peduli dia masih benci aku atau tidak, yang penting aku sudah membantu."
Kaivan diam sejenak. Lalu, menceritakan hubungan Luna dan ibunya, yang katanya sekarang sudah pergi setelah menghabiskan semua harta.
"Serius?" tanya Nadhea.
"Kata Luna seperti itu," jawab Kaivan.
"Aku akan menyuruh Papa untuk cepat mengurusnya. Kasihan Luna," gumam Nadhea.
Setelah berbincang seputar Luna, Kaivan beringsut dan memangkas jarak dengan Nadhea. Sebelah tangannya merangkul tubuh Nadhea dan sebelahnya lagi menangkup pipi.
"Sayang, setelah urusan Luna kelar, mau kan ikut aku pulang? Aku akan mengenalkanmu pada Papa dan Bunda sebagai calon istri," bisik Kaivan.
Nadhea tersenyum, "Aku mau, tapi minta izinlah dulu pada Papa."
__ADS_1
"Tentu saja. Terima kasih ya, Sayang."
"Aku yang lebih berterima kasih. Kamu mau mencintaiku diriku yang___"
Kaivan menempelkan telunjuknya di bibir Nadhea, "Jangan diteruskan! Bagiku, kamu yang paling sempurna."
Nadhea melebarkan senyuman, bibir yang merah nan ranum merekah sempurna dan memesona. Dalam hitungan detik, Kaivan terjatuh dalam hasratnya.
Jemarinya perlahan bergerak dan mengusap lembut bibir Nadhea, wajah pun terus mendekat hingga embusan napas masing-masing dapat dirasakan dengan jelas.
Merasakan sentuhan Kaivan yang makin intim, jantung Nadhea berdetak cepat. Kendati Kaivan adalah sosok yang dicintai, tetapi ia takut untuk melakukannya sekarang. Namun, logikanya kalah dengan hasrat. Sentuhan Kaivan yang amat membuai membuat Nadhea takluk dan tak bisa menolak. Pelan-pelan Nadhea membuka bibirnya, juga membalas rengkuhan Kaivan dan meremas kemejanya.
Ketika bibir keduanya nyaris menempel, Kaivan memejam. Kemudian, memeluk tubuh Nadhea lebih erat dan menyandarkan kepala wanita itu di dadanya. Sembari merutuki kebodohannya barusan, Kaivan mencium kepala Nadhea cukup lama.
Dalam pelukan Kaivan, Nadhea tersenyum lebar. Kali ini, pilihan hatinya tidak salah. Kaivan adalah lelaki terbaik yang pernah ia kenal—lelaki yang bisa menjaga wanitanya.
"Aku harap janjimu tidak main-main, Kai. Aku ingin setiap hari bisa bersandar di dadamu, menghirup aroma tubuhmu, seperti ini," batin Nadhea.
Saat keduanya masih asyik menikmati hangatnya pelukan, tiba-tiba ponsel Kaivan berdering, ternyata Kennan yang menelepon. Kaivan menerimanya tanpa menjauh dari Nadhea.
"Kamu udah janji mau pulang hari ini, Kai!"
"Sorry, Ken, ada urusan mendadak. Aku___"
__ADS_1
"Alesan!"
"Aku serius. Udah, kamu selesein aja kerjaan itu. Jangan lupa ya, dulu aku bantuin kamu dapetin Reya. Gantian," sahut Kaivan.
"Asem kamu!" umpat Kennan dari seberang sana.
Bukannya menjawab, Kaivan malah mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Diam-diam Kaivan mengulum senyum, ternyata ucapannya kemarin menjadi kenyataan. Walaupun tidak pulang ke Malang, tetapi dia benar-benar pergi dari Bali.
"Kamu nggak sedang libur, Bang?" tanya Nadhea.
Kaivan tersenyum, "Libur dong, kan Kennan yang gantiin aku."
"Ish, jangan gitu. Kasihan dia." Nadhea menepuk bahu Kaivan. "Kalau emang sibuk, pulang aja dulu, Bang," sambungnya.
Kaivan menggeleng, "Nanti aja kalau urusan Luna udah kelar. Aku mau pulang bawa kamu."
"Tapi___"
"Sayang, aku mau menikah sama kamu. Aku nggak mau menunda-nunda lagi," pungkas Kaivan dengan tatapan lekat.
"Baiklah."
Bersambung...
__ADS_1