
Dua bulan kemudian.
Luna duduk di tepi ranjang sambil memandangi kertas cokelat yang berhiaskan pita. Aroma wangi khas kartu undangan membuat Luna merasa sesak. Tanpa dipinta, air mata mulai menggenang dan menetes membasahi pipi.
"Kaivan," gumam Luna menyebut nama mantan pacar yang kini jadi ipar.
Kaivan dan Nadhea akan menikah esok hari. Mereka merayakan pesta besar di Kota Malang—di kediaman Kaivan. Sedangkan di rumah Prawira tidak ada apa pun, bahkan ijab kabul juga dilakukan di sana. Hal ini adalah permintaan Nadhea. Dia melakukannya untuk menjaga perasaan Luna.
Saat ini, Luna berada di rumah ayahnya. Berkat bantuan Nadhea, minggu lalu dia berhasil meninggalkan jeruji. Tidak sia-sia mengikuti sidang berulang kali, akhirnya dia bisa bebas dan berkesempatan merintis keriernya kembali.
Namun, sungguh tak disangka. Kepulangannya disambut dengan berita mencengangkan, yakni pernikahan Kaivan dan Nadhea, walau sebenarnya sudah tahu Kaivan telah melamar Nadhea, tetapi tak menyangka jika pernikahannya secepat itu. Meski kini hubungannya dengan Nadhea sudah membaik, tetapi jujur, Luna belum rela melepas Kaivan untuk Nadhea. Dia masih sangat mencintai lelaki itu. Hanya saja, kini Luna tak selicik dulu. Perjalanan hidup yang baru saja dilalui, menempanya menjadi sosok yang berakhlak. Dia hanya memendam lukanya dalam diam, tanpa merencanakan siasat buruk seperti dulu.
"Kenapa juga aku menyimpan ini. Sudahlah, aku harus melupakan dia." Luna meremas kertas undangan dan melemparkannya ke tempat sampah.
Ketika Luna masih larut dalam kesedihannya, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.
"Masuk!"
Pintu kamar terbuka. Tampak di sana, Prawira sedang tersenyum sambil berjalan ke arah Luna.
"Udah mau berangkat, Pa?" tanya Luna.
Ayahnya akan pergi ke Kota Malang, menjadi wali dalam pernikahan Nadhea. Ijab kabul akan dilangsungkan pukul 08.00 pagi, jadi Prawira berangkat hari ini.
Prawira mengangguk, "Iya, biar sampai sana nggak kemalaman."
"Hati-hati ya, Pa." Luna menunduk. "Maaf, Luna nggak bisa ikut," sambungnya.
Prawira mendekati anaknya dan duduk disebelahnya.
"Papa paham. Kamu jangan sedih ya, Nak, jalanmu masih panjang. Tanpa Kaivan, kamu masih bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik. Doa Papa selalu menyertaimu." Prawira berucap sambil mengusap-usap lengan Luna.
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya, Pa. Aku udah banyak salah, tapi Papa masih mau memaafkan aku." Luna menyandarkan kepalanya di bahu Prawira.
"Jangan dibahas lagi! Yang lalu biarlah berlalu, mari kita perbaiki yang belum saja. Papa akan berusaha menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk kamu," jawab Prawira.
"Iya, Pa. Aku sangat beruntung punya Papa dan juga Dhea."
"Kami juga beruntung punya kamu, Nak." Prawira tersenyum.
"Papa pulang kapan?" tanya Luna beberapa saat kemudian.
"Mungkin lusa."
"Nanti kalau udah mau pulang, Papa kabari ya. Aku mau masak, selama ini ... aku nggak pernah melakukan itu," ucap Luna seraya tersenyum lebar.
"Iya." Prawira mengangguk. "Oh ya, kalau udah siap datang ke kantor ya. Putri kecil Papa harus semangat. Masih ada banyak kesempatan untuk menjadi wanita karier. Oke," sambungnya.
"Siap, Papa. Terima kasih ya, udah menyelamatkan Victory." Luna tersenyum manja.
"Iya, Pa."
"Eh, Papa!" teriak Luna ketika ayahnya sudah beranjak.
"Iya, Nak."
"Aku mau titip sesuatu." Luna bangkit dan mengambil kotak warna cokelat yang disimpan di dalam laci.
"Apa ini?" tanya Prawira.
"Sedikit hadiah untuk Kaivan dan Dhea. Tolong kasihkan mereka ya, Pa," jawab Luna.
"Iya, Nak."
__ADS_1
Setelah menerima kotak hadiah dari Luna, Prawira keluar kamar. Lantas, berangkat menuju Kota Malang bersama sopir pribadi.
_____________
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Di kediaman Kaivan, semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Para crew Beauty Wedding Organizer menyiapkan segala sesuatunya agar acara berjalan lancar.
Dekorasi yang indah serta jamuan yang mewah sudah disiapkan, pun dengan fotografer yang andal—Kennan.
Sejak menangani pemotretan di Kota Batu, Chandra bersikeras merekrut kembali Kennan ke dalam timnya. Bukan hanya memotret, tetapi juga melatih beberapa fotografer lain yang ikut bergabung di Beauty Wedding Organizer, yang kebetulan belum se-andal Kennan. Sejak bulan lalu, Beauty Wedding Organizer membuka cabang di Bali, dan fotografer andalan mereka—Kaivan, dipercaya untuk menangani tim di sana. Itu sebabnya, Chandra bersikeras menyewa jasa Kennan.
Di sela-sela kesibukan, ada sosok serupa bidadari yang sedang menatap pantulan dirinya di cermin. Dia adalah Nadhea. Berbalut gaun putih panjang yang bertabur batu permata, serta kerudung panjang yang dihiasi roncean bunga melati, wajah ayu Nadhea tampak memesona. Mekap yang diaplikasikan tidak terlalu tebal, tetapi membuatnya menawan. Ditambah mahkota kecil berhiaskan permata, paras moleknya makin ketara.
"High hells-nya mau pakai yang mana, Mbak?" tanya Athreya. Sedari tadi dia menemani Nadhea saat dirias.
"Mmm, yang silver aja deh, nggak terlalu tinggi," jawab Nadhea sambil mengamati dua high hells berbeda warna—silver dan gold.
"Mbak Dhea cantik banget, semoga anakku kelak bisa kayak Mbak Dhea." Athreya berucap sembari mengusap perutnya yang sudah membuncit.
Nadhea tertawa renyah, "Apaan loh, Reya. Cantikan kamu dibanding aku."
"Ish, Mbak Dhea ini. Sukanya merendah."
Di tengah obrolan ringan, Kirana datang dan menyapa mereka, memberitahukan bahwa penghulu sudah menunggu di depan.
"Detik-detik menuju halal, Mbak. Jangan gugup yah," goda Athreya sambil beranjak. Nadhea menanggapinya dengan senyuman lebar.
Menatap canda mereka, Kirana turut bahagia. Satu per satu anaknya telah menikah, setelah ini tinggal Reyvan yang lajang.
Ditemani MUA yang tadi mengubah penampilannya, Nadhea berjalan keluar kamar. Lantas, menuju ruang tengah yang sudah disediakan. Di atas karpet merah yang berhiaskan bunga di setiap sudutnya, Nadhea menatap Kaivan yang jauh lebih tampan dari sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1