Noda

Noda
Sedikit Hadiah


__ADS_3

"Mas___"


"Sayang, diamlah! Sudah kukatakan ini pilihan yang terbaik, jadi jangan membantah lagi!" pungkas Arsen.


Dalam pelukan yang tidak sempurna—karena tangannya diborgol, Arsen merasakan sentuhan hangat di punggung. Lantas, sesuatu yang membasahi lehernya—Nadhea menangis.


"Jangan menangis! Aku tidak ingin ada air mata di pertemuan kita sekarang. Dengan begitu, aku bisa menyimpan kenangan manis sebelum pergi," ucap Arsen.


"Aku tidak bisa menahannya," jawab Nadhea dengan pelan.


Arsen tersenyum dan melepaskan pelukan. Kemudian, dengan kedua tangan dia mengusap air mata Nadhea.


"Tersenyumlah!"


Nadhea tetap menangis.

__ADS_1


"Bisa jadi ini pertemuan terakhir kita, karena malam nanti aku sudah dipindahkan. Jadi, jangan menangis terus! Kamu tidak mau, kan, jika nanti yang kuingat hanya wajah jelekmu ini?" goda Arsen.


Nadhea tidak menjawab, tetapi langsung memeluk Arsen dengan erat. Lagi-lagi, menumpahkan tangisnya di sana.


Meski sekarang sudah tidak tersisa rasa untuk Arsen, tetapi tak dipungkiri lelaki itu pernah menjadi satu-satunya orang yang peduli ketika dia sendiri. Itu sebabnya dia tidak tega jika Arsen berakhir tragis.


"Aku sudah tak punya aset, bahkan rumah yang pernah kita tempati juga disita. Hanya tersisa sedikit tabungan, berupa uang yang kusimpan dalam kartu kredit. Tapi, sekarang masih diurus David. Jadi, tolong tunggu beberapa hari lagi, nanti biar dia yang mengantar ke rumahmu. Dhea, kamu tidak perlu takut menggunakan uang itu, karena tidak termasuk aset yang harus disita. Aku memberikannya juga secara terang-terangan, jadi kamu tenang aja."


Nadhea mengurai pelukan usai mendengar penuturan Arsen. Ditatapnya lelaki itu dengan lekat, tetapi sekadar dibalas dengan senyuman lebar.


"Maaf, hanya sedikit. Tolong jangan marah andai tidak cukup untuk membantu kebutuhanmu selama masa iddah," ucap Arsen.


Ucapan Nadhea menggantung begitu saja karena dengan tiba-tiba Arsen mendaratkan bibirnya. Tidak *******, sekadar menempel sekilas. Sebelum Nadhea bereaksi, Arsen sudah berbalik badan dan menghampiri Prawira.


"Papa Mertua, terima kasih sudah bertindak bodoh, sehingga aku ada kesempatan untuk menikahi putrimu." Arsen menatap sinis.

__ADS_1


"Arsen___"


Arsen memotong ucapan Prawira dengan sebuah pelukan. Namun, bukan pelukan sayang, melainkan pelukan untuk melontarkan ancaman.


"Aku sudah berkorban banyak untuk Nadhea. Jika suatu hari nanti kamu masih bodoh, orang kepercayaanku akan mengantarmu menyusulku," bisik Arsen tepat di telinga Prawira.


Prawira diam seketika. Entah rasa takut atau rasa sesal yang membuatnya kehilangan kata untuk menjawab ucapan Arsen.


Karena sudah cukup lama berbincang, dengan terpaksa Nadhea dan ayahnya undur diri. Sebelum pergi, Nadhea menyalami dan mencium tangan Arsen, layaknya suami istri yang sesungguhnya. Arsen pun tidak diam, ia mendekat dan mencium kening Nadhea cukup lama.


"Inilah alasanku kenapa kemarin meminta tenggang waktu, agar tidak ada perceraian di antara kita. Dengan begitu, aku bebas memeluk dan menciummu, juga bebas mengenangmu sebagai istriku." Arsen tersenyum lebar. "Juga ... bebas memberikan sedikit hadiah untukmu," sambungnya dalam hati.


Usai menanggapi ucapan dan tindakan Arsen, Nadhea melangkah pergi. Sesekali dia menoleh dan menatap Arsen yang masih berdiri di tempat semula.


Setelah tubuh Nadhea menghilang di balik dinding, Arsen kembali digiring ke balik jeruji. Sembari menunduk, Arsen kembali tersenyum.

__ADS_1


"Sebenarnya, bisa saja aku memberikannya sekarang, tapi aku tahu benar bagaimana sifatmu, Dhea. Aku ingin kamu menerimanya setelah tidak ada kesempatan untuk protes," batin Arsen.


Bersambung....


__ADS_2