Noda

Noda
Lelaki Masa Lalu


__ADS_3

Aku tidak tahu pilihanku ini salah atau benar. Aku memutuskan untuk tinggal bersama Bu Fatimah. Selain karena beliau hidup tanpa keluarga, aku juga merasa bersalah atas kejadian di masa lalu. Ibu pula menerima keputusanku, beliau mengijinkan aku tinggal bersama Bu Fatimah, dengan catatan tetap bertukar kabar dan saling berkunjung.


Kini, waktu sudah berjalan tiga bulan sejak aku melahirkan Dara. Selama itu, tidak ada masalah yang berarti, justru segalanya jauh lebih baik dari semula. Kesehatan Ibu sudah pulih total, beliau bisa menjajakan kue seperti sedia kala. Aku juga sudah berulang kali menjenguknya.


Pelayan yang dipekerjakan Bu Fatimah, tetap di sana dan membantu pekerjaan Ibu. Hubungan dalam keluarga kami semakin baik, bahkan Mas Denis dan Mas Bayu pun sekarang tidak sinis seperti dulu. Aku benar-benar menemukan kembali cahaya kehidupan yang kala itu sempat padam.


Selain mengasuh Dara, aku mengisi keseharianku dengan membuat kue. Aku memelajari tutorial yang tersebar di media sosial. Kini aku bisa membuat kue bolu, kue brownis, dan juga kue ulang tahun. Sebenarnya, Bu Fatimah melarangku melakukan ini. Namun, aku bersikeras melakukannya. Aku ingin memiliki penghasilan, walaupun masih jauh dari kata cukup. Aku senantiasa bersyukur, setidaknya masih ada kesempatan untuk mengasah bakat yang lain, setelah gagal menjadi guru.


Sore ini, aku sedang duduk di kedai, di sebelah bengkel. Ban motor yang kubawa bocor dan sedang ditambal. Aku menunggunya sambil menyesap teh hangat.


Sesekali kusingkap sedikit lengan kemejaku, guna melirik jarum jam yang melingkar di sana.


"Lama banget, ya. Udah hampir satu jam aku menunggu," gerutuku dengan pelan. Sudah terlalu lama aku pergi dan aku khawatir Dara menangis.


Aku baru saja mengantarkan pesanan ke pelanggan. Sebenarnya hanya tiga tempat dan tidak membutuhkan waktu lama. Namun karena kendala ban bocor dan bengkelnya cukup ramai, aku pulang jauh lebih lambat dari perkiraan.


"Kirana."


Aku menoleh, kala mendengar seseorang memanggil namaku. Aku mengerutkan kening, karena tak menyangka bisa berjumpa dengannya di tempat ini. Kami pernah saling mengenal, tapi sudah lama tak saling sua.


"Kak Darren." Aku tersenyum kala menyapanya.


"Ternyata beneran kamu, tadi aku sempat takut salah orang. Penampilan kamu ... beda." Kak Darren duduk di depanku sambil memainkan kunci mobilnya.


"Iya, sekarang aku begini." Aku menjawab sambil menunduk.


"Cantik, dipandang lebih teduh," ujar Kak Darren, yang lantas membuatku semakin menunduk.


"Terima kasih," ucapku, pelan.


"Kamu apa kabar?" tanya Kak Darren.


"Alhamdulillah baik, Kakak sendiri gimana kabarnya?" Kuangkat sedikit wajahku dan kutatap dia sekilas.


"Aku juga baik. Mmmm kamu sendirian?" tanya Kak Darren.

__ADS_1


"Iya, aku tadi tidak sengaja datang ke sini. Banku bocor dan terpaksa menunggu." Aku tersenyum sambil menunjuk lelaki dewasa yang sedang sibuk menambal ban.


"Kamu mau ke mana?" Kak Darren kembali bertanya.


"Aku baru saja mengantarkan pesanan dan sakarang dalam perjalanan pulang. Kak Darren sendiri, mau ke mana?" Aku menjawab sambil melontarkan pertanyaan yang serupa.


"Tadinya mau berkunjung ke rumah Tante, tapi kosong, gak ada orang. Aku telfon juga gak diangkat, lagi ada acara mungkin," kata Kak Darren.


Aku menanggapinya dengan anggukan dan gumaman pelan. Lantas aku menawarinya minum, namun Kak Darren menolak, katanya ada air dingin di mobil.


"Masih lama ya, Ra?" Kak Darren bertanya sambil melirik ke arah bengkel.


"Sebentar lagi mungkin, itu sudah punyaku yang diperbaiki," jawabku.


"Apa kuantar aja? Nanti biar orang bengkel yang nganterin motormu," tawar Kak Darren.


"Nggak usah, Kak, tinggal bentar doang kayaknya." Aku menolak sambil tersenyum.


"Kirana, boleh aku___" Kak Darren menghentikan ucapannya, karena orang bengkel berteriak memanggilku.


"Oh iya, Bang, sebentar ya," jawabku juga dengan intonasi yang sedikit tinggi.


Kemudian aku menghampiri pemilik kedai dan membayar minumanku. Lantas aku kembali duduk di depan Kak Darren.


"Kak, motorku sudah selesai, aku balik dulu ya," pamitku pada Kak Darren.


"Kamu ... sedang buru-buru?" Kak Darren menatapku dengan lekat, entah apa yang dia pikirkan.


"Mmmm sebenarnya iya, ada sedikit kesibukan di rumah," jawabku, tidak berbohong. Aku harus cepat kembali karena Dara sedang menungguku.


"Ya sudah, hati-hati. Aku juga mau pulang." Kak Darren beranjak dan langsung melangkah meninggalkan aku.


Aku masih terdiam sambil menatap punggung Kak Darren yang berjalan menjauh. Entah aku yang salah lihat atau memang seperti itu kenyataannya. Aku menangkap gurat kecewa yang cukup dalam di netra Kak Darren. Mengapa?


"Neng."

__ADS_1


Aku terjaga dari lamunan, kala orang bengkel kembali memanggil. Kualihkan pandangan dan kuayunkan kaki ke arahnya. Aku mengulas senyum saat tiba dihadapannya.


"Berapa, Bang?" tanyaku.


"Dua belas ribu, Neng."


Kuambil dua lembar uang puluhan ribu, lalu kuserahkan padanya, tanpa meminta kembalian. Lantas kunaiki motor matic merah dan kubawa melaju, menyusuri jalanan.


________


Sang surya nyaris tiba di kaki langit barat, dan aku baru saja berhenti di garasi. Aku turun dari motor sambil mengernyit heran. Ada motor Ninja putih yang terparkir di halaman rumah. Siapa gerangan? Aku sama sekali tak mengenalinya.


"Apa mungkin temannya Bunda, ya. Tapi ... ini kayak motor cowok," gumamku seorang diri. Aku melirik mobil Bu Fatimah yang sudah terparkir di garasi.


"Ahh, sudahlah, tidak penting siapa dia. Sekarang aku harus cepat masuk dan menemui Dara. Kasihan dia, aku meninggalkannya cukup lama." Aku berkata sambil melangkah memasuki pintu utama.


Aku tersenyum, kala mendengar suara Bu Fatimah yang sedang bercanda dengan Dara. Dalam hati aku bersyukur, karena dia tidak menangis, meskipun aku terlambat pulang.


Tak lama kemudian, langkahku terhenti seketika. Aku menatap nanar ke arah ruang tengah. Ada sosok lelaki yang sangat familiar sedang duduk manis di atas sofa. Lelaki yang dengannya aku pernah dekat dan percaya. Lelaki yang pernah menjadi bagian dari kisah masa lalu.


"Mengapa dia ada di sini?" batinku.


Aku terperangah dan gemetaran, aku tak menyangka kami akan bertemu secepat ini. Aku melangkah mundur, dan hendak pergi meninggalkan ruangan ini. Namun karena terlalu gugup, aku menabrak karangan bunga yang ada di sudut ruang tamu. Suara yang kutimbulkan tidak terlalu keras, tapi cukup menarik perhatian Bu Fatimah dan juga lelaki yang tidak ingin kutemui.


"Kirana." Lelaki itu beranjak sambil menatapku dengan lekat.


Sontak aku langsung membuang pandangan, aku tak ingin jatuh terlalu dalam. Cukup waktu itu saja aku terbuai olehnya.


"Kirana."


Lagi-lagi suaranya mengalun merdu di udara, namun lidahku masih kelu untuk menjawab. Aku terus menunduk sambil mencengkeram rok panjang yang kukenakan. Hati dan pikiran ini mendadak kacau karena kehadirannya.


Aku semakin mundur, kala mendengar langkahnya yang kian mendekat.


"Kirana, aku ingin bicara," ucapnya ketika tiba di hadapanku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2