Noda

Noda
Bertemu Kembali


__ADS_3

Lima hari sudah waktu berjalan, sejak aku menerima pinangan Kak Darren. Selama itu kami hanya berhubungan via ponsel, dan baru hari ini kami berencana bersua. Kak Darren akan bertandang ke rumahku bersama orang tuanya. Namun, mereka tidak hanya bertiga, tapi juga mengajak kerabat dekatnya. Bersama keluargaku, mereka akan membahas hari pernikahan yang katanya akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Aku dan Kak Darren tidak banyak komentar, kami pasrah dengan keputusan orang tua. Daripada menimbulkan fitnah, mungkin memang lebih baik jika disegerakan.


Sejak matahari baru mengintip di kaki langit timur, aku dan Bu Fatimah sudah tiba di rumah Ibu. Bukan hanya kami saja, Mbak Diana dan Mbak Laras pun juga ada. Kami membantu Ibu menyiapkan jamuan untuk acara nanti malam. Aku sangat bersyukur, Mas Denis dan Mas Bayu mendukung keputusanku. Setelah sekian lama hubungan kami memburuk, sekarang benar-benar membaik, walaupun tidak sempurna seperti sedia kala.


Perbincangan riuh terdengar di ruangan dapur. Ibu dan Bu Fatimah memasak sambil bercanda bersama. Sesekali mereka mengenang masa suram yang pernah terjadi si waktu silam. Sedangkan aku, aku duduk di ruang tengah. Aku membuat adonan brownis sambil mengawasi Dara yang sedang bermain boneka di atas karpet.


Sedari tadi, hatiku tak berhenti berdebar. Pikiran pula ikut cemas dan waswas. Bermacam bayangan buruk datang silih berganti menghantui pikiran dan perasaan. Untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Ibu dan Ayah mertua. Bagaimana kira-kira tanggapan mereka?


Walaupun kata Kak Darren dan kata Bu Fatimah mereka sangat menyukaiku, tapi jujur aku sangat takut. Dengan keadaan dan statusku yang seperti ini, aku khawatir mereka memandangku dengan sebelah mata.


"Ya Allah, semoga semuanya berjalan lancar," bisikku. Entah sudah berapa kali aku memanjatkan doa yang serupa.


Terlalu dalam kubang luka yang pernah aku selami, itu sebabnya aku takut terjatuh kembali.


"Kirana, ada apa?" tanya Mbak Diana. Entah sejak kapan dia datang, tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahku sambil memangku Dara.


"Eh, Mbak Diana, mmm aku ... aku tidak apa-apa," jawabku, gugup.


"Mau dilamar kok ngelamun, tebar senyum dong harusnya." Mbak Diana menggoda sembari tertawa renyah.


"Aku nggak ngelamun, Mbak, aku hanya___"


"Hmmm iyakah? Itu adonannya sampai tumpah kamu nggak sadar lho, Ra," kata Mbak Diana.


Aku tersentak dan langsung menengok adonan yang memang tercecer dari wadahnya. Aku mendengus kesal karena tak bisa mengelak. Mau tidak mau harus mengakui jika barusan aku melamun.


"Gimana, masih nggak ngaku?" goda Mbak Diana.


"Nggak sengaja, Mbak." Aku menyahut sembari membersihkan ceceran adonan.


"Mau nikah itu emang deg-degan, Ra. Pasti banyak pikiran yang berseliweran. Entah itu tentang mertua, tentang calon suami, atau juga tentang ekonomi. Tapi, kamu nggak usah ragu. Peryalah, nikah itu enak. Seberat apapun masalahnya, akan dihadapi berdua, dan itu rasanya lebih ringan. Kalau udah nikah ada tempat untuk curhat, berkeluh kesah, berbagi suka dan duka. Apalagi jika suami itu sangat mencintaimu, hari-harimu pasti bahagia, Ra. Percayalah," terang Mbak Diana dengan panjang lebar.


"Iya, Mbak, terima kasih banyak ya nasihatnya," jawabku.


"Dia masa depanmu, cintailah dia. Sebaik apapun masa lalu, dia hanya kenangan. Jangan terbelenggu pada waktu yang telah berlalu." Mbak Diana menepuk bahuku dengan pelan.


"Iya, Mbak. Sebenarnya ... bukan itu yang kupikirkan. Aku hanya cemas, keadaanku seperti ini, aku takut mertuaku kurang menerima." Aku memberikan jawaban sembari menghela napas panjang.

__ADS_1


"Anaknya sudah memilihmu, tentu saja orang tuanya tidak jauh beda. Percayalah," kata Mbak Diana yang kemudian kutanggapi dengan anggukan dan senyuman.


"Ya sudah, tidurin Dara gih, kayaknya dia ngantuk. Biar Mbak saja yang nyelesain ini," ucap Mbak Diana.


"Iya, Mbak." Kuraih tubuh Dara dan kubawa dalam gendongan. Berkali-kali dia menguap, saat ini memang sudah memasuki jam tidurnya.


________


[Kami datang berenam. Ada Om, Tante, sama Adek juga. Mereka pengen ketemu sama calon istriku]


Satu pesan dari Kak Darren yang kuterima selepas senja. Mendadak hatiku cemas lagi, rasanya belum siap bertemu dengan calon mertua. Apalagi ini bersama kerabat lainnya, kepercayaan diriku benar-benar menipis. Jubah yang hendak kukenakan, masih menjuntai di tepi ranjang. Pesan Kak Darren pun juga kubiarkan tanpa balasan. Resah dan gelisah ini benar-benar membuatku tidak nyaman.


Cukup lama aku bergeming di depan cermin. Tidak beranjak, tidak pula merias wajah. Aku asyik melamun, sampai tak sadar jika pintu kamar dibuka dari luar.


"Kirana, ada apa?" tanya Bu Fatimah. Beliau menghampiriku sambil membawa Dara dalam gendongannya. Tadi, beliau mengajak Dara agar aku bisa bersiap-siap.


"Bun ... Bunda," sahutku dengan terbata.


"Kok belum ganti baju, kenapa?" tanya Bunda dengan kening yang mengerut.


"Mmm anu, Bunda, aku___"


"Bukan, Bunda, bukan seperti itu," jawabku dengan cepat. "Aku ... aku takut berjumpa dengan orang tuanya Kak Darren. Aku khawatir mereka tidak menyukaiku, Bunda." Aku menunduk dan menatap pangkuan dengan sendu.


Bu Fatimah menghela napas panjang, "sudah berulang kali 'kan Bunda bilang, mereka itu sangat menyukaimu. Mereka tidak mempermasalahkan statusmu, entah status masa lalu ataupun status saat ini. Percaya sama Bunda, mereka menyayangimu, Nak."


"Iya, Bunda, tapi ... rasanya gelisah gitu," jawabku.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang cepat siap-siap, biar Dara sama Bunda lagi. Mereka sekarang dalam perjalanan, jangan melamun lagi, nanti terlambat menyambut. Kalau nanti sikap mereka tidak sesuai dengan ucapan Bunda, silakan kamu marah-marah dan mencaci maki Bunda, Bunda rela," kata Bu Fatimah, meyakinkan diriku.


"Iya, Bunda. Aku percaya sama Bunda." Aku beranjak sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, Bu Fatimah melangkah keluar, dan aku pun mulai bersiap-siap. Kukenakan jubah warna hijau cerah dengan hiasan renda dan manik-manik putih. Kututup kepalaku dengan kerudung warna senada dan tak lupa kuhiasi dengan bros berbentuk apel. Kulirik sekilas jam tangan yang melingkar di lengan, rupanya aku sudah menghabiskan waktu hampir satu jam.


Baru saja aku hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba ponselku bergetar. Ada satu pesan dari Kak Darren.


[Aku sudah tiba depan rumah, kamu di mana?]

__ADS_1


Aku membelalak lebar, secepat itukah mereka datang?


Bukannya berjalan menuju pintu, aku justru berlari menuju jendela. Kusingkap sedikit tirainya dan aku menatap keluar. Tampak di sana dua mobil hitam perlahan berhenti di halaman. Jantungku mulai berdegup kencang, beberapa detik lagi aku bersua dengan calon mertua.


"Kirana! Kirana!" Teriakan Mbak Diana menggema dari luar ruangan.


"Iya, Mbak." Aku menyahut sambil berjalan keluar kamar.


Bersama Mbak Diana, aku melangkah menuju ruang tamu. Menyambut tamu agung yang sebentar lagi menjadi keluarga. Bu Fatimah dan Ibu sudah berkumpul di sana. Sedangkan Mas Bayu dan Mas Denis, mereka masih berada di ruang tengah.


Derap langkah mulai tertangkap dalam pendengaran, seiring dengan detak jantung yang semakin tak karuan.


Tak lama kemudian, wanita dan lelaki paruh baya datang mengucapkan salam. Mereka tersenyum dengan pandangan mata yang tertuju ke arahku. Mereka adalah calon mertuaku.


Usai menyodorkan parsel buah kepada Mbak Diana, Ibunya Kak Darren menghampiriku dengan senyum yang kian mengembang.


"Wahh cantiknya mantuku." Beliau berkata sambil memelukku dengan erat.


Oh Tuhan, lega rasanya hatiku, mendapat sambutan baik di keluarga Kak Darren. Tanpa malu, kubalas pelukannya dengan erat, lantas kurasakan hangat elusannya di punggung.


"Aku pinter 'kan, Ma, milih calon istri," celetuk Kak Darren yang saat ini sudah berdiri di dekat Ibu.


"Halah, pinter apanya. Wong kamu penakut gitu. Kalau nggak ada Tantemu, kamu nggak akan bisa dapetin dia." Ibu Kak Darren melepaskan pelukannya, beliau mencibir Kak Darren dengan logat Jawa yang khas.


"Assalamu'alaikum."


Dua orang lagi masuk ke ruang tamu. Mungkin mereka Om dan Tantenya Kak Darren. Dilihat dari wajahnya, lelaki itu sangat mirip dengan ayahnya Kak Darren. Tanpa bertanya pun, orang bisa menebak jika mereka bersaudara.


Kami saling menyapa dan berbincang sebentar, ternyata mereka juga ramah. Mereka membawa seserahan yang entah apa saja isinya. Mbak Diana dan Mbak Laras yang menerima seserahan itu dan menyimpannya di dalam.


"Kirana, bagaimana kabarmu?"


Aku tersentak dan menoleh seketika. Senyumku langsung memudar kala menatap sosoknya. Seorang lelaki berperawakan tinggi dengan rambut yang sedikit gondrong. Lelaki yang amat sangat kukenal. Lelaki yang hadirnya tidak akan pernah aku lupakan.


"Kamu," geramku dengan nada yang tertahan.


"Jangan bilang sepupunya Kak Darren itu dia," sambungku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2