
Usai berbincang dengan Nicko, Athreya masuk ke kamarnya dan duduk di dekat jendela. Dia menggenggam erat ponselnya sambil menatap ke luar. Sinar matahari mulai meredup, sebentar lagi akan masuk waktu magrib.
Sebelum air matanya benar-benar kering, Athreya memejam dan membayangkan sosok lelaki yang selama ini mengacaukan hidupnya. Lelaki bertubuh tinggi dengan wajah rupawan, rambut dicat cokelat terang, serta anting yang selalu menghiasi telinga kirinya.
Dari segi fisik, lelaki itu bukan gambaran yang buruk. Namun, dari segi watak dan sikap dia bukan sosok yang patut diidolakan. Selain perokok aktif dan pemabuk, dia juga lelaki playboy yang kurang menghargai wanita. Akan tetapi, sikap manis nan romantisnya mampu meluluh lantakkan pertahan Athreya.
"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah mengakhiri semua ini? Tapi, bagaimana dengan sesuatu yang telah hilang?" batin Athreya.
Lantas, dia menutup wajahnya dengan telapak tangan, merutuki kebodohan yang teramat besar. Ternyata hanya dalam pendidikan dia cerdas dan berprestasi, sedangkan dalam menghadapi buyuk rayu, dia amat bodoh dan tidak mampu mempertahankan pendirian.
Tak lama kemudian, ponsel Athreya kembali bergetar. Ada pesan baru yang lagi-lagi dari seseorang yang diberi nama 'A'. Lalu, Athreya membukanya dan membaca pesan tersebut.
[Reya, kamu baik-baik saja, kan? Please, jangan kayak gini. Seharian aku nggak tenang menunggu kabar darimu. Tolong balas pesanku, Reya.]
Athreya mengigit bibir, hatinya kembali goyah karena sebaris pesan yang entah ditulis secara tulus atau tidak.
__ADS_1
"Aku memilih kembali pada kesalahan ini." Athreya berbisik sambil mengusap tombol 'telepon' pada layar ponselnya.
______________
Dua bulan sudah waktu berlalu sejak Kaivan mengetahui identitas Nadhea. Kini hubungan Luna dan Kaivan sedikit datar, tidak sehangat dulu. Walaupun persiapan pernikahan tetap berlanjut, tetapi tak ada sikap manis dan romantis seperti dulu. Bahkan, dalam foto pre wedding minggu lalu, Kaivan dan Luna sangat kesulitan menciptakan chemistry.
Sebenarnya, Luna masih bersikap biasa, bahkan lebih perhatian dari sebelumnya. Namun, Kaivan yang seolah membatasi. Entah mengapa makin ke sini hatinya makin ragu.
Sewaktu menceritakan semuanya kepada Darren dan Kirana, mereka sangat terkejut, tak menduga bila ada keburukan di balik sikap lembut Luna. Kala itu, Darren dan Kirana tidak melarang seandainya Kaivan memilih mundur. Namun, Kaivan tak melakukannya. Kendati dia sangat kecewa, tetapi tak dapat dipungkiti rasa cintanya masih sama besar seperti dulu.
Di awal bab, diceritakan dengan jelas bahwa hubungan Aruna dan Jeevan tetap datar seperti semula, tak ada perasaan yang hadir di antara mereka. Jeevan tetap menjalin cinta dengan kekasihnya. Pada tahun kedua, Jeevan ada proyek di Lombok. Seminggu setelah dia di sana, Aruna datang menyusul. Wanita itu hendak berlibur sambil mencari inspirasi.
Pada bab itu, ada tokoh baru yang dideskripsikan dengan sempurna. Bahkan, Kaivan yang bukan penikmat sastra pun sangat terpukau dengan rangkaian diksinya. Tokoh lelaki yang diberi nama Kaisar Alister. Di dalam tokoh itu, seolah ada jiwa dari sang penulis yang benar-benar dihidupkan di sana. Bukan Kaivan saja yang berpikir demikian, beberapa pembaca lain juga memberikan pendapat yang sama di kolom komentar.
Satu hal yang membuat Kaivan yakin bahwa dia adalah Nadhea adalah kejadian yang sama persis seperti di Lombok, termasuk panggilan 'Bang Kai'. Di sana disebutkan bahwa Aruna mengagumi Kaisar karena sikapnya yang penyayang terhadap saudara. Aruna sengaja bersikap barbar untuk menghibur hatinya yang kembali sesak ketika mengingat keluarganya. Selain itu, dia juga ingin diingat selalu oleh Kaisar. Itu sebabnya bertingkah konyol.
__ADS_1
Waktu itu, Kaivan sempat berbincang banyak dengan akun Grey. Walaupun dia tidak mengakui identitasnya sebagai Nadhea, tetapi apa pun yang Kaivan tanyakan ditanggapi dengan ramah. Bahkan, ketika meminta nomor telepon pun, Kaivan juga diberi. Namun, baru saja Kaivan mengirimkan chat pertama, nomor itu sudah tidak bisa dihubungi, pun dengan akun Grey, tidak pernah aktif sampai saat ini.
Bab terakhir yang diunggah dalam novel Sayap-Sayap Patah, ketika Aruna dan Kaisar bertemu di rumah Vivian. Persis seperti kejadian nyata, dalam cerita itu Kaisar juga calon suami Vivian. Usai makan malam, Jeevan mengajak Aruna pulang. Namun, sebelum itu mereka singgah di hotel. Di sana, Jeevan merenggut kesucian Aruna dan menjadikannya pelampiasan karena sang kekasih telah berkhianat. Sebenarnya, status novel itu masih bersambung, tapi sampai dua bulan belum ada kelanjutan.
"Apakah Nadhea tidak baik-baik saja? Jika bab ini benar-benar nyata, besar kemungkinan dia sedang hancur." Kaivan berucap lirih sambil memandangi sampul novel di layar ponsel.
"Kai!" panggil seseorang ketika Kaivan masih larut dalam lamunannya.
"Ehh, iya." Kaivan sedikit tergagap. Ternyata Chandra yang datang. Saat ini, dia memang berada di tempat pemotretan dan kebetulan sedang beristirahat.
"Ada orderan baru," ucap Chandra. Lalu, dia duduk di sebelah Kaivan sambil menunjukkan alamat klien.
"I-ini, kan___" Mata Kaivan membelalak.
"Iya. Itu acaranya minggu depan, kamu bersedia, kan?" tanya Chandra.
__ADS_1
Bersambung...