Noda

Noda
Berterus Terang


__ADS_3

Kaivan turut tertegun. Dia tahu ke mana arah pandangan Luna—cincin yang belum sehari melingkar di jari manis.


Tadi, ketika berada di burung besi, Kaivan memakai sendiri cincinnya karena lamaran romantis yang direncanakan hanya berjalan separuh saja. Cincin yang dikenakan Kaivan hampir serupa dengan cincin yang diberikan pada Nadhea. Bedanya, milik Kaivan tidak berhiaskan batu permata. Di dalam cincin itu, tersemat nama masing-masing—Kaivan dan Nadhea.


"Kai, ini tidak seperti yang kupikirkan, kan?" tanya Luna.


"Maaf, Luna. Ini seperti yang kamu pikirkan," jawab Kaivan.


Perlahan genggaman Luna mengendur. Air mata yang tadi sempat reda, kini kembali berjatuhan. Setitik harapan untuk kembali bersama Kaivan, pelan-pelan memudar dan hilang sempurna.


"Siapa?" bisik Luna parau.


Bukannya menjawab, Kaivan justru diam. Lidahnya kelu untuk menyebut nama Nadhea. Dia takut hal itu memperburuk keadaan Luna.


"Kai, siapa?" Luna kembali bertanya.


Sementara itu, di luar ruangan Nadhea menatap mereka dari kaca jendela. Jauh di sudut hatinya ada perasaan yang tak nyaman. Namun, Nadhea berusaha keras menepisnya.


"Aku percaya Kaivan akan bersungguh-sungguh." Nadhea membatin sambil menggenggam erat cincin di jarinya.


"Dhea___"


"Pa, aku akan memanggil dokter," potong Nadhea.


Tak lama kemudian, Nadhea sudah kembali bersama seorang dokter. Dia masuk dan ikut menghampiri Luna, yang kala itu masih mendesak Kaivan.

__ADS_1


"Luna, dokter akan memeriksa kondisimu!" ujar Nadhea.


"Nadhea," gumam Luna.


Dia melepas tangan Kaivan sambil mengalihkan pandangan ke arah Nadhea. Satu hal yang pertama kali dilihat adalah jari manis, dan dari sana Luna merasa tertampar. Ada cincin yang hampir serupa dengan milik Kaivan, melingkar indah di sana.


Dokter mulai memeriksa kondisi Luna, detak jantung sudah stabil, tetapi tekanan darahnya masih rendah. Usai memberikan suntikan dan arahan, dokter keluar untuk membuatkan resep obat.


"Kaivan ... kamu bisa jelasin lagi hal apa yang aku lewatkan?" tanya Luna dengan suara yang lebih parau.


"Luna, jangan terlalu banyak berpikir. Cepatlah sembuh. Nanti, aku akan membantu membebaskanmu." Nadhea yang menyahut karena Kaivan masih terdiam.


Luna beralih menatap Nadhea. Tidak ada jawaban atau sekadar senyuman, Luna hanya menilik wajah Nadhea dengan tatapan benci. Dari jawaban Nadhea, Luna yakin ada sesuatu antara dia dengan Kaivan.


Dalam sepi yang hanya terisi embusan napas masing-masing, Luna teringat dengan kejadian silam—ketika dirinya merebut Rega, juga ketika Nadhea mengatakan 'semoga semua yang kamu capai bisa abadi agar kamu tidak merasakan sakitnya terjatuh. Mulai detik ini, aku akan mengikhlaskan semuanya. Nikmati harta yang kamu rampas dariku, semoga menjadi berkah dalam hidupmu'.


"Luna___"


"Jangan mengatakan apa pun jika kamu tidak mau menjelaskan yang sebenarnya!" pungkas Luna.


Nadhea dan Kaivan saling pandang, lantas keduanya saling mengangguk.


"Aku sudah melamar dia." Kaivan berucap sambil menggenggam tangan Nadhea dan mengangkatnya tinggi-tinggi, menunjukkan cincin serupa yang melingkar di jarinya.


Luna terkesiap. Air matanya kembali berjatuhan seiring dada yang kian sesak. Kendati sudah menduga, tetapi rasanya tetap sakit ketika Kaivan benar-benar mengatakan.

__ADS_1


"Kenapa, Kai? Kenapa harus dia? Kenapa kamu tidak mencari wanita lain yang masih perawan? Dengan begitu aku bisa menerima karena sadar dengan kekuranganku. Tapi, kalau begini, apa lebihnya dia dibandingkan aku? Kamu tahu, kan, apa yang dilakukan mantan suaminya? Dia jauh lebih buruk dari aku, Kai!" ujar Luna.


"Dia seperti itu bukan karena keinginannya! Dia terjebak keadaan, dan kamu ikut andil mengantarnya ke posisi itu. Sementara kamu, melakukannya dengan sengaja, membohongiku dengan sengaja, juga mengkhianati dengan sengaja! Kamu tidak lebih baik darinya, Luna!"


Umpatan rasa kesal yang hanya terlontar dalam batin. Kaivan masih punya hati untuk mengatakannya tepat di hadapan Luna.


"Jauh sebelum mengenalmu, aku sudah mencintainya. Aku pernah bilang, kan, kalau kami pernah bertemu di Rinjani? Waktu itu aku sudah menaruh rasa, hanya saja tidak ada kesempatan untuk mengejar. Sekarang, dia sudah sendiri, aku pun sudah sendiri, tidak salah kan jika cinta lama bersemi kembali?" jawab Kaivan sedikit berdusta.


Luna membuang pandangan, lalu menatap tajam ke arah Nadhea.


"Kamu juga. Sudah tahu kalau Kaivan itu tunanganku, masih saja mau. Dasar___"


"Selagi orang yang kita cintai membalas cinta kita, maka cinta itu tidak salah tempat, apa pun keadaannya. Oh ya, dia mantan tunanganmu, Luna, bukan tunangan," jawab Nadhea.


Lagi-lagi Luna merasa tertampar. Dia sangat familiar dengan kalimat itu. Dulu, sewaktu dia merebut Rega dan Nadhea mengetahuinya, jawaban itulah yang terlontar dari mulutnya. Hanya saja, dulu lengkap dengan hinaan dan cacian. Masih bagus sekarang Nadhea hanya mengucapkannya sepenggal saja.


"Keluar! Aku tidak ingin melihat kalian!" usir Luna dengan tangan yang mengepal.


"Baik, kami akan pergi! Tapi sebelumnya, dengarkan dulu ucapanku! Aku sering kecewa dengan tingkahmu, tapi aku tidak pernah membencimu. Entah aku masih kamu anggap saudara atau tidak, tapi aku tetap menganggapmu adik. Entah nanti kamu akan ingat sama aku dan Papa, terus mau hidup bareng lagi. Atau cuma ingat sama Mama dan mau hidup bareng Mama, terserah. Yang penting, sebagai seorang kakak aku akan bertanggung jawab. Aku akan berusaha membebaskan kamu. Sorry jika terlambat, mampuku baru sekarang." Usai berkata panjang lebar, Nadhea menggandeng tangan Kaivan dan mengajaknya keluar.


"Luna, cepat sembuh. Aku keluar dulu," pamit Kaivan.


Sepeninggalan Kaivan dan Nadhea, air mata Luna mengalir lebih deras. Sosok yang sedari dulu dibenci, sekarang justru datang mengulurkan tangan. Sedangkan sosok yang sangat disayangi, sekarang malah pergi dengan penuh keegoisan.


"Kenapa harus begini?" batin Luna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2