Noda

Noda
Sayap-Sayap Patah


__ADS_3

Gadis muda yang sedari tadi fokus membaca, langsung mendongak ketika mendengar langkah Kaivan. Lantas, dia tersenyum sambil meletakkan bukunya ke atas meja. Namun, tindakannya justru membuat Kaivan terkejut.


Bukan rupa ataupun penampilan, satu hal yang mencuri perhatian Kaivan adalah buku milik gadis itu. Gambar sampulnya mengingatkan Kaivan pada sosok perempuan yang entah di mana sekarang.


"Mas, ada yang salah dengan saya?" Gadis itu salah tingkah karena Kaivan terus menatapnya, bahkan sampai lupa menyerahkan jatah makanan.


"Eh, em, maaf. Ini ... ini jatah untuk kalian," ucap Kaivan.


Kemudian, dia bergegas meletakkan kotak makanan ke atas meja. Ketika membungkuk, pandangannya kembali tertuju pada sampul buku. Lantas, perasaannya mendadak kacau.


"Mmm, Mbak," panggil Kaivan.


"Iya."


"Boleh tahu ini ... buku apa?" tanya Kaivan sedikit ragu.


"Oh, ini novel. Lagi booming, Mas. Ceritanya bagus." Gadis itu tersenyum.


"Boleh ... lihat sebentar?" tanya Kaivan.


"Silakan, Mas!" Gadis itu mengambil bukunya dan menyerahkan pada Kaivan. "Alurnya bagus dan penulisannya rapi, rangkaian kalimatnya pun sangat indah. Tapi ... ceritanya sangat sedih, menyayat hati," sambungnya.


"Oh." Kaivan menjawab singkat sambil menerima buku dengan dominan warna biru terang.


Kaivan kembali mengamati gambar sampul—seorang gadis sedang duduk sambil memegang buku dan pena. Rambutnya digulung asal dan sedikit berantakan. Karena pengambilan gambar dari posisi samping, tatapan gadis itu terlihat jelas ke arah matahari yang hampir terbenam.


"Nadhea," batin Kaivan.


Ingatannya langsung menerawang pada kejadian empat tahun silam, ketika dirinya mendapati Nadhea sedang merenung sambil memangku buku. Gaya dan posisi Nadhea saat itu, sama persis dengan sampul buku yang ada di genggamannya saat ini. Terlebih lagi, latar belakang sampul juga sama dengan tempat Nadhea berada, yakni Gunung Rinjani.


Karena penasaran, Kaivan menatap tulisan demi tulisan yang tertera di sana. Satu kalimat yang pertama kali dia lihat adalah judul buku—Sayap-Sayap Patah. Lalu, beralih pada tulisan kecil yang ada di atas judul—Sad Story. Kamudian, berlanjut pada tulisan yang paling bawah—By GREY.


"Grey, apakah ini nama penulisnya?" gumam Kaivan. Meskipun pelan, tetapi dapat didengar oleh sang pemilik buku.


"Iya, Mas. Nama penulisnya Grey. Tapi ... itu nama pena, bukan nama asli."


"Nama aslinya siapa?" tanya Kaivan.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, dia sangat tertutup, tidak pernah menunjukkan informasi pribadinya," jawab gadis itu.


"Oh."


Usai melihat logo dan nama penerbit, Kaivan membalikkan buku itu dan membaca deretan kalimat panjang yang ada di sampul belakang.


~~Ibarat daun yang dipaksa gugur sebelum kering. Ia tak sempat menatap indah kuntum yang merekah, pun kepala putik yang perlahan menjadi buah.


Ia terjatuh dan terserak di antara onggokan sampah. Berjuang melawan deru angin dan hempasan debu, demi secercah asa yang masih jauh di mata.


Bergantung pada sebuah keyakinan bahwa kuasa Tuhan tak terkalahkan, ia tersenyum menantang sinar surya walau sebagian raga telah terbakar teriknya. Ia menjauh dari inangnya dan mencari tempat lain untuk bernaung. Namun, dunia adalah tempat yang keras. Masih adakah empati untuk barang tak berguna sepertinya? Entahlah~~


"Apa maksudnya ini?" batin Kaivan.


Sebenarnya, Kaivan ingin bertanya lebih lanjut. Namun, tidak lama kemudian ponselnya berdering, ternyata Kennan yang menelepon. Sahabatnya itu bertanya poisi karena dirinya tak kunjung kembali. Alhasil, Kaivan pamit undur diri dan gagal membaca buku 'Sayap-Sayap Patah'.


"Nanti saja kucari di internet," batin Kaivan sambil berjalan menuju tempat semula.


"Kamu ke mana aja, lama banget," tegur Kennan ketika Kaivan sudah mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Kamu kenapa? Ada masalah? Kliennya marah-marah atau___"


"Nggak," pungkas Kaivan.


"Terus?"


"Aku___"


"Kaivan, Kennan, setelah ini segera ke lokasi dan siapkan alat-alatnya! Usahakan selesai sebelum malam," ujar Candhra—penanggung jawab dalam acara itu.


"Baik, Pak," jawab Kennan dan Kaivan secara bersamaan.


Candhra berlalu dan menghampiri kru yang lain. Dia menghimbau mereka untuk bersiap-siap, termasuk Nia yang menjabat sebagai MUA. Kaivan pun tak ingin membuang waktu. Dia langsung membuka kotak makan dan mempercepat suapan. Lantas, beranjak dan menuruti perintah atasan. Pikirnya, memang lebih bagus bila selesai sebelum malam, sehingga bisa pulang dan tidak perlu menginap.


____________________


Tidak selamanya harapan sesuai dengan kenyataan, terkadang meleset jauh dari perkiraan. Seperti halnya malam ini, dengan terpaksa Kaivan dan Kennan bermalam di Kota Batu. Pemotretan yang dalam rencana akan selesai sebelum senja, ternyata telat hingga pukul 10.00 malam.

__ADS_1


Semua terjadi karena cuaca yang kurang mendukung, hujan deras tiba-tiba mengguyur tanpa permisi. Alat-alat yang sudah ditata terpaksa dikemasi dan menata kembali ketika cuaca sudah cerah, sangat membuang waktu. Selain itu, pemotretan setelah senja menggunakan tema yang berbeda, sehingga mereka meluangkan waktu yang tidak sebentar untuk mengganti properti. Itu sebabnya, pekerjaan tertunda sampai larut malam.


Detik ini, Kaivan merebahkan tubuhnya di ranjang—di hotel, di Kota Batu, tanpa mandi atau sekadar mengganti baju. Dia sangat lelah, sampai-sampai mengabaikan teguran Kennan yang sedari tadi menyebutnya jorok.


"Aku beneran muntah kalau kamu nggak mandi, Kai! Sumpah, asem banget keringat kamu!" umpat Kennan.


"Sebentar, masih meluruskan punggung," jawab Kaivan tanpa menghentikan aktivitasnya—berbaring sambil memainkan ponsel.


"Alesan! Bilang aja masih kangen calon bini," sindir Kennan. "Coba tuh ajak video call, pasti langsung ilfil sama kamu."


"Makin hari kamu itu makin cerewet, Ken. Bunda aja kalah sama kamu," sahut Kaivan.


Kennan tidak menjawab, hanya melemparkan bantal sofa ke tubuh Kaivan. Namun, yang dilempar sekadar tertawa, tanpa menoleh ataupun beranjak.


Sebenarnya, Kaivan tidak bergelut dengan aplikasi chat, melainkan sibuk browsing di internet. Dia sangat penasaran dengan novel Sayap-Sayap Patah, karya Grey.


Akan tetapi, rencana Kaivan kembali kandas. Pasalnya, ada telepon masuk sebelum artikel sempat dibaca.


"Reyvan ... tumben." Kaivan bergumam sambil mengusap tombol hijau. "Hallo, assalamu'alaikum, Rey," sapanya.


"Waalaikumsalam, Kak. Bisa pulang sekarang, nggak?" tanya Reyvan dengan cepat.


"Ada apa?" Kaivan langsung bangkit. Dia menangkap sesuatu yang buruk dari nada bicara adiknya.


"Kak___"


Bersambung...


Tebak yuk, apa lanjutannya.


A. Ada cewek barbar datang ke rumah.


B. Kak Luna dan keluarganya datang membatalkan pernikahan.


C. Ada sesuatu dengan Athreya.


D. Yang lain.

__ADS_1


__ADS_2