
Sayup samar, cahaya temaram berpendar di tengah kegelapan. Perlahan kubuka mata, dan kutatap wajah dokter yang tertutup masker. Seiring kesadaran yang kian pulih, rasa sakit pun kembali terasa. Aku meringis sambil merintih, rasa sakit itu jauh lebih besar dari beberapa waktu lalu.
"Syukurlah Ibu sudah sadar. Silakan diminum, agar tenaga Ibu kembali pulih." Dokter menyodorkan segelas susu dan segelas air putih. Dengan bantuan perawat, aku duduk dan meneguk habis minuman itu.
"Rileks ya, Bu, tidak usah takut. Bayinya normal dan baik-baik saja, jadi tidak perlu cemas lagi," ucap Dokter.
"Tapi Dokter, tadi___"
"Semua baik-baik saja, Bu. Jangan membebani pikiran dengan hal-hal yang buruk," pungkas Dokter.
Aku masih belum paham dengan situasi ini. Apa aku yang salah dengar, atau bayiku yang tiba-tiba normal dengan sendirinya.
"Atau mungkin___" Aku membatin sambil menilik perawat yang berdiri di sebelah dokter. Lantas aku mengulas senyum, setelah tahu bahwa perawat yang sekarang, bukan perawat yang tadi.
"Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan lancar, Ya Allah," doaku dalam hati.
"Tarik napas dalam-dalam, tidak usah takut, Ibu pasti bisa!"
Aku mengikuti arahan dokter, kutarik napas dalam-dalam, lantas kukeluarkan segenap tenaga untuk mendorongnya keluar.
Bukan hal yang mudah, tidak cukup sekali-dua kali aku melakukannya. Tenagaku terkuras habis, aku semakin lelah dan tak berdaya. Namun aku tak menyerah, dengan sisa-sisa tenaga aku terus berusaha. Aku harus berhasil mengantarnya ke dunia, sesakit apapun itu.
Hampir satu jam aku mengejan, namun sang jabang bayi belum juga keluar. Aku semakin tak bertenaga, tulang-tulangku serasa binasa bersama peluh yang membanjiri tubuh.
"Ayo, Bu! Sedikit lagi, Bu!"
Kutarik napas dalam-dalam, dan kukerahkan semua tenaga yang tersisa. Jika kali ini masih belum keluar, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Tenagaku benar-benar habis.
Beberapa detik kemudian, tubuhku seakan terbelah. Rasa sakit itu meningkat hingga beribu kali lipat. Tanpa sadar aku menjerit, berteriak keras tanpa malu ataupun canggung.
Usai berteriak, napasku tersengal. Tubuhku terkulai lemah, bahkan untuk bicara pun seolah tak mampu. Terlalu besar rasa sakit yang mendera, hingga aku tak bisa memastikan di mana pusatnya.
Di saat kesadaranku nyaris menghilang, tiba-tiba telingaku menangkap suara tangis bayi yang semakin lama semakin kencang. Aku membuka mata, dan mendapati tubuh mungil kemerahan yang berada dalam penanganan dokter.
"Dok ... Dokter," bisikku, pelan.
"Selamat ya, Bu, putrinya sangat cantik," jawab Dokter, yang lantas membuatku terharu.
Aku berhasil!
_______
__ADS_1
"Sabrina Dara Azzahra, gadis yang cantik berseri dan penyabar," gumamku sembari tersenyum.
Kubelai wajah mungil yang membuat netraku tak mampu berpaling. Kulitnya yang kemerahan, sangat serasi dengan rambutnya yang hitam nan tebal. Bola matanya bening kecokelatan, persis seperti ayahnya.
Setelah melewati perjuangan panjang, akhirnya aku bisa tersenyum senang. Rasa sakit dan lelah terbayar sudah dengan kehadirannya. Sosok kecil yang dititipkan Tuhan padaku, yang ke depannya akan menjadi prioritasku. Hidup ini akan lebih berwarna, berkat dirinya. Aku mengindahkan pesan Daniel, kusematkan nama Dara untuk anak kami. Kendati kami tidak bersama, tapi biarlah nama kami terukir abadi di dalam buah cinta yang terlarang.
"Hari ini, adalah hari terindah dalam hidup Bunda. Mendekap kamu, menatap wajah kamu, merasakan hangat napasmu, kebahagiaan yang Bunda rasa, tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata, Nak." Kuusap lembut pipi mungil yang masih lunak. Kusentuh dengan hati-hati, agar tak membangunkan lelap tidurnya.
Melihat sosok Dara, aku teringat akan Ibu. Beliau pasti bahagia melihat anakku lahir dengan sehat dan selamat. Rasa rinduku kian menggebu, namun aku masih menunggu waktu yang tepat untuk bertemu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Kulihat Bu Fatimah tersenyum sambil melangkah cepat ke arahku.
"Ya Allah, cantiknya cucu Oma," kata Bu Fatimah, ketika tiba di sampingku.
"Alhamdulillah, Bunda, aku berhasil melahirkan dia," jawabku dengan senyum yang kian mengembang.
"Kamu perempuan kuat, Kirana. Sudah pasti kamu bisa. Sudah diazani?" tanya Bu Fatimah.
"Sudah, Bunda. Tadi perawat yang melakukannya," jawabku, sedikit miris.
Aku tidak punya jalan lain, jadi aku meminta tolong pada dokter untuk memanggilkan perawat laki-laki, guna mengumandangkan azan di telinga Dara. Ahh, andai saja dia ada ayahnya, aku tidak akan repot-repot meminta tolong pada orang lain.
"Lelap sekali tidurnya. Boleh Bunda gendong, Nak?" Bu Fatimah menatapku.
"Tentu saja, Bunda." Aku menjawab sambil tersenyum.
Bu Fatimah mengambil Dara dari pangkuanku. Beliau menimangnya dan mengajaknya bicara. Dalam hati aku sangat bersyukur, begitu banyak nikmat yang Tuhan berikan padaku. Kendati Bu Fatimah hanya orang lain, namun kasih sayangnya tak beda jauh dengan seorang ibu.
"Siapa namanya?" tanya Bu Fatimah.
"Dara, Bunda. Sabrina Dara Azzahra." Aku berkata sembari mengulas senyum lebar.
"Nama yang indah," gumam Bu Fatimah. "Lho, matanya cokelat, Ra!" sambung beliau.
"Iya, Bunda." Aku geli melihat ekspresi Bu Fatimah. Beliau membelalak lebar dengan bibir yang sedikit terbuka, mungkin beliau sangat terkejut.
"Kok bisa?" Bu Fatimah menatapku, masih dengan ekspresi yang sama.
"Mata ayahnya juga cokelat, Bunda," jawabku.
"Ayahnya bule?"
__ADS_1
"Kakeknya yang bule, ayahnya asli Indonesia," ucapku dengan jujur.
Daniel memang asli Indonesia. Kendati ayahnya orang Jerman, namun belum sekali pun ia menginjakkan kaki di negara itu.
Di kala aku dan Bu Fatimah masih asyik berbincang, dokter datang menghampiri kami. Beliau membawakan resep obat, dan juga memeriksa kondisiku.
_______
Aku mengerjap dan menggeliat pelan. Perlahan kesadaranku kembali dan mengajakku meninggalkan dunia mimpi. Aku hendak bangkit dan menuju ke kamar mandi, namun niatku terhenti karena rasa sakit dan nyeri yang teramat parah.
"Aw, ahh." Aku merintih sambil memegangi punggung.
"Kenapa, Kirana?" tanya Bu Fatimah.
"Sangat sakit, Bunda." Aku menjawab sambil terus meringis.
Entah mengapa, rasa sakit ini kembali menjadi. Padahal kemarin rasa itu sudah mereda.
"Melahirkan memang seperti itu, Nak. Perbanyak istirahat saja, nanti sakitnya berangsur pulih. Dalam waktu dekat, Bunda tidak pergi ke toko. Bunda akan menemani kamu di rumah," kata Bu Fatimah.
"Terima kasih, Bunda." Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih, kamu itu anak Bunda. Oh ya, setelah ini susui Dara, ya. Dia sudah haus," ucap Bu Fatimah.
"Iya, Bunda. Tapi ... aku ke kamar mandi dulu ya." Aku turun dari ranjang, dan menuju ke kamar mandi. Kendati langkahku tertatih, namun aku berhasil melakukannya.
Usai dari kamar mandi, aku kembali duduk di atas ranjang. Menyandarkan punggung di bantal, sambil menyusui Dara. Aku tak henti-hentinya mengulas senyum, kala menatap tangan mungilnya yang memegangi dada. Ternyata sebahagia ini menjadi seorang ibu.
Aku menimang-nimang Dara yang mulai lelap dalam tidurnya. Sedangkan Bu Fatimah, beliau mengurus administrasi karena kami akan pulang pagi ini.
Sekitar satu jam kemudian, Bu Fatimah kembali, bersama dokter dan perawat. Setelah memberikan arahan perihal mengurus bayi, dokter mengijinkan kami pergi.
Aku duduk di atas kursi roda, sambil menggendong Dara. Seorang perawat mendorongku, dan kami bersama-sama menuju halaman rumah sakit.
Bu Fatimah berjalan lebih dulu, beliau mengambil mobil yang masih berada di tempat parkir. Aku menunggunya sembari terus menatap wajah mungil Dara.
"Kirana!"
Seketika jantungku berdetak cepat. Aku hapal benar, siapa pemilik suara itu. Mengapa dia ada di sini?
Bersambung...
__ADS_1