
Luna menilik Nessa dan memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Gadis itu adalah sosok yang pernah ditemuinya di Kantor Victoria. Kala itu, Nessa berbincang dengan Adhi Permana dan mengaku sebagai keponakannya. Nessa mengenakan jaket dan masker sehingga Luna tidak sadar bahwa dia adalah karyawan Kaivan. Maklum, selama ini Luna jarang berkunjung ke restoran. Jadi, tidak paham dengan satu per satu karyawan. Terlebih lagi saat tidak mengenakan seragam.
"Kamu ... gadis yang waktu itu, kan?" Luna kembali bicara.
Kini, semua mata tertuju pada Luna, meminta penjelasan lebih atas ucapan yang baru saja dilontarkan.
"Anda mengenal Saudari Nessa?" tanya polisi.
"Saya tidak mengenal, tapi pernah melihatnya di kantor saya." Luna mengambil ponselnya. "Ini rekaman yang Bapak minta. Maaf, saya baru hadir sekarang, kemarin masih menemani Papa. Beliau sedang sakit," sambungnya.
"Waktu itu dia mengaku sebagai keponakan Almarhum Adhi Permana, tapi saya tidak tahu dia jujur atau tidak. Mereka hanya berbincang biasa, jadi saya tidak curiga," ujar Luna ketika polisi melihat rekaman yang disodorkan.
Dalam rekaman itu, terlihat jelas bahwa Nessa sedang menemui Adhi di parkiran kantor. Mereka tampak berbincang dan kemudian Adhi memberikan amplop cokelat kepada Nessa. Setelah Nessa menyimpan amplop ke dalam tas, Luna datang dan mendekati mereka, sekejap saja. Lantas, Luna masuk ke mobilnya dan meninggalkan parkiran kantor. Tak lama setelahnya, Nessa pun meninggalkan Adhi.
"Maaf, saya sudah berbohong. Sebenarnya, memang Pak Adhi yang menyuruh saya. Waktu itu saya sangat panik melihat beliau bersimbah darah dan sangat ketakutan setelah tahu beliau meninggal. Saya tidak ingin dipenjara, itu sebabnya saya berbohong dan mengatakan bahwa semua ini rencana Pak Kaivan," ujar Nessa ketika polisi menanyakan perihal hubungannya dengan Adhi.
"Kamu memperumit masalah, Nessa!" kata Kaivan dengan intonasi tinggi.
__ADS_1
"Maaf, Pak." Nessa menunduk.
Lantas, dia menceritakan dengan jelas bagaimana kejadian yang sebenarnya. Sebelum bekerja di restoran Kaivan, Nessa bekerja di butik milik Lisa—kakak kandung Adhi. Selama bekerja di sana, Nessa kerap bertemu dengan Adhi, juga kerap mendapat bonus darinya. Itu sebabnya, hubungan mereka sangat baik. Nessa keluar dari butik bukan karena ada masalah, melainkan mencari pekerjaan yang lebih dekat dengan rumahnya.
Beberapa bulan setelah bekerja di tempat Kaivan, Nessa kerap melihat Nora dan Ginanjar. Keduanya sangat intim, sehingga Nessa bisa menebak bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Nessa kesal melihat pengkhianatan Nora, tetapi tak berani berbuat banyak. Namun, dari waktu ke waktu hubungan Nora dan Ginanjar makin mencolok mata. Lalu tanpa pikir panjang, Nessa melaporkannya kepada Adhi.
Kemudian, Adhi menyuruh Nessa untuk menghubunginya ketika Nora dan Ginanjar ada di restoran. Adhi akan memberikan pelajaran pada Ginanjar, itu sebabnya dia meminta Nessa mengenonaktifkan CCTV untuk sementara.
Adhi adalah kepala keuangan di Kantor Victoria, dia tidak ingin tindakan buruknya diketahui orang lain, termasuk atasannya—Aluna. Dia tidak rela mempertaruhkan nama baik demi memberikan efek jera untuk selingkuhan istrinya. Pikir Adhi, jika tidak ada bukti rekaman, maka tindakannya akan aman. Dia rela membayar Nessa demi hal itu.
Namun, di luar dugaan Ginanjar amat mencintai Nora. Lelaki itu hilang akal ketika terpancing emosi. Malang tak bisa dihindari. Rencana yang dibuat sendiri, justru mengantar Adhi pada kematian.
Sebenarnya, mudah bagi Kaivan untuk menambah hukuman kepada Nessa, dengan alasan pencemaran nama baik. Namun, Kaivan sadar bahwa tenaga Nessa dibutuhkan dalam keluarga. Orang tua gadis itu sudah renta dan sakit-sakitan, sedangkan adiknya masih sekolah. Kaivan kasihan jika membuatnya terkurung lama.
Meski demikian, Kaivan telah menambahkan nama Nessa dalam buku hitam. Sampai kapan pun dan dalam bisnis apa pun, Kaivan tidak membuka lapangan kerja untuk Nessa.
_________________
__ADS_1
Tepat pukul 05.00 sore, Kaivan keluar dari kantor polisi. Darren dan Kennan memyambutnya dengan gembira, pun dengan Reyvan dan Kirana yang saat ini sedang menunggu di rumah. Selain mereka, Luna juga ikut bahagia. Tebersit rasa bersalah karena tak bisa menemani sang kekasih kala dalam kesusahan. Namun, mau bagaimana lagi, saat itu pahlawan hidupnya terbaring di rumah sakit dalam keadaan kritis.
Saat ini, Kaivan dan yang lainnya sedang dalam perjalanan pulang. Darren mengemudi bersama Kennan, sedangkan Kaivan ikut di mobil Luna.
"Kai, maafin aku ya. Malam itu, tiba-tiba penyakit jantung Papa kambuh. Jadi, kami langsung ke rumah sakit. Keadaan Papa kritis, aku benar-benar panik sampai lupa pegang ponsel," ucap Luna dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Luna. Yang penting kan sekarang kebenaran udah terungkap, aku dan restoranku bebas." Kaivan tersenyum. "Aku juga minta maaf, sama sekali tidak tahu kalau Om Wira sakit. Sekarang, bagaimana keadaan beliau?" sambungnya.
"Udah mendingan. Pagi tadi sudah dibawa pulang, tapi ... masih dalam perawatan. Papa nggak betah di rumah sakit, katanya nggak nyaman. Jadi, terpaksa minta rawat inapnya di rumah sambil sewa suster. Nanti dicek dokter secara berkala," terang Luna.
"Semoga Om Wira cepat sembuh. Kamu yang sabar ya, Sayang." Kaivan menggenggam tangan Luna sekilas, lalu kembali fokus dengan kemudi.
"Iya." Luna menatap Kaivan lekat-lekat. "Nggak apa-apa, kan, kalau besok kutinggal lagi?" sambungnya sedikit ragu.
"Aku akan ikut kamu, Luna. Aku ingin melihat keadaan Om Wira," jawab Kaivan.
"Terima kasih ya, Kai."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, Luna, sudah seharusnya aku melakukan itu. Sebentar lagi kita menikah, orang tua kamu orang tuaku juga, begitu pun sebaliknya," sahut Kaivan.
Bersambung....