
Rintik gerimis yang sejak dini hari setia mengguyur kota, tak menyurutkan niat Nadhea untuk berkunjung ke kantor polisi. Setelah keluar dari rumah sakit dua minggu yang lalu, Nadhea ikut ayahnya pulang ke Surabaya. Mereka tinggal di rumah baru yang berada di dekat puncak. Rumahnya tidak sebesar dulu, tetapi asri dan nyaman. Nadhea sangat betah tinggal di sana, terlebih lagi sekarang kasih sayang sang ayah sudah utuh layaknya orang tua yang sesungguhnya.
Karena terlalu menikmati kehidupan barunya, Nadhea menunda sejenak urusan yang sebenarnya sangat penting, yakni mengurus perceraian. Baru semalam, Nadhea bertandang ke Bandung. Dia menginap di hotel kelas bawah dan pagi ini berangkat ke kantor polisi. Dia akan menemui Arsen sebelum mengurus perceraiannya.
"Semoga setelah ini hidupku benar-benar membaik," gumam Nadhea sambil terus melangkah. Dia sengaja jalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh.
Beberapa saat kemudian, Nadhea tiba di kantor polisi. Dia mengutarakan niatnya dan disambut baik oleh petugas. Dia dipersilakan duduk, sementara polisi memanggil Arsen.
Dua menit setelahnya, Arsen tiba di hadapan Nadhea. Wanita itu tersenyum sekilas ketika bertemu pandang dengan Arsen.
"Mas!"
"Kamu ingin menertawakan aku, iya?" Arsen bicara dengan intonasi tinggi. Dia sangat benci dengan suasana saat ini.
Menatap Nadhea yang cantik dan segar, Arsen merasa tertampar. Entahlah, seakan-akan ada sesuatu yang hilang dari hatinya.
"Aku ingin bicara baik-baik, Mas. Aku tidak akan tertawa karena sebenarnya aku juga tidak ingin melihatmu di posisi ini," jawab Nadhea dengan tenang.
"Omong kosong! Kamu pikir aku bodoh! Kaivan tidak akan datang kalau kamu tidak mengundangnya, Dhea!" ucap Arsen masih dengan intonasi tinggi.
__ADS_1
"Aku tidak mengelak, Mas. Aku memang meminta tolong padanya. Tapi, itu kulakukan karena sudah tidak ada jalan untuk pergi. Andai aku tidak meminta tolong pada Kaivan, masihkah sekarang aku bernyawa, Mas?" ujar Nadhea.
"Sekarang kamu sudah puas, kan? Kamu sudah berhasil membalas dendam. Jadi, lebih baik sekarang pergi!" Arsen memelotot tajam.
"Sudah kubilang, bukan seperti ini yang sebenarnya kuinginkan. Mas, aku memang kecewa dengan perlakuanmu. Tapi, bukan berarti aku akan membalas dendam. Semua sudah kuanggap selesai setelah aku bebas darimu," terang Nadhea.
"Omong kosong! Pergi sekarang! Jangan sok peduli padaku!" bentak Arsen.
"Aku memang peduli, Mas, bagaimanapun juga kamu berharga bagiku." Nadhea menatap Arsen lebih lama.
Arsen mendadak salah tingkah. Tatapan sendu yang dilayangkan Nadhea seolah mampu meruntuhkan keangkuhannya. Terlebih lagi, Nadhea juga melontarkan kata berharga. Mendadak Arsen menemukan kembali sesuatu yang hilang.
Nadhea tersenyum, "Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Kaivan, kami hanya sebatas kenal. Selama kita menikah, aku tidak pernah dekat dengan lelaki lain. Aku menghargai kamu sebagai suamiku, Mas."
Arsen tak menjawab, sekadar menoleh dan menatap Nadhea dalam-dalam.
"Aku memang kecewa dengan perlakuanmu, juga benci dengan keegoisanmu. Tapi, kamu tetaplah orang yang berharga. Aku nggak lupa, kamu adalah satu-satunya orang yang peduli saat aku sendiri. Kamu___"
"Jangan mengarang cerita, Dhea! Jangan pikir aku akan menyesal setelah mendengar dustamu!" pungkas Arsen.
__ADS_1
"Percaya atau tidak itu pilihanmu, Mas. Yang penting aku sudah jujur. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita. Aku ingin kita berpisah dengan cara yang baik."
"Pisah?" Arsen mengulangi ucapan Nadhea.
"Iya. Aku ingin kita cerai."
Jawaban Nadhea yang tegas membuat Arsen sesak seketika.
"Sebenarnya, polisi sudah menjamin dan siap membantu perceraian ini. Tapi, bagaimanapun juga kamu suamiku. Aku menghargaimu, makanya aku ke sini dan ngomong baik-baik. Aku harap kamu mau tanda tangan tanpa paksaan, lalu melepaskan aku dan membiarkan aku dengan hidupku sendiri." Nadhea menatap Arsen. "Mas, yang kamu lakukan kemarin, kuanggap timbal balik atas kebaikanmu sebelumnya. Anggaplah itu balas budiku padamu," sambungnya.
"Dhea___"
"Setelah ini, aku akan berdiskusi dengan Papa dan Kaivan, aku akan meminta mereka untuk meringankan hukumanmu," potong Nadhea.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Arsen dengan suara yang amat pelan.
Nadhea tersenyum, "Sudah kukatakan, aku tidak ingin kamu hancur. Aku melakukan ini kemarin, hanya untuk mendapat kebebasan dan rasa aman. Sekarang semua sudah kudapatkan, Mas."
Arsen terdiam cukup lama. Ada kelingan-kepingan rasa yang berserak di benak, yang membutuhkan banyak waktu untuk memahaminya dengan benar.
__ADS_1
Bersambung....