
Udara dingin menerpa dan menelusup ke dalam tulang. Entah darimana datangnya, mengapa di tengah terik surya ada angin yang sedingin salju. Aku mengerjap pelan, mencoba membuka mata yang rasanya sangat berat.
Gelap, itulah satu hal yang pertama kali tertangkap penglihatanku. Lantas aku beranjak, dan berusaha memahami situasi. Apakah aku sedang bermimpi? Di mana ini? Bukankah aku sedang menunggu bus?
Bermacam pertanyaan berputar-putar di dalam pikiran.
Aku mulai melangkah, dan tak sengaja menabrak benda keras yang entah apa sebenarnya. Lalu kuraba dan kuteliti, ternyata sebuah bangku.
"Aku masih di gudang, tapi kenapa gelap, dan ... suara apa itu? Di mana penumpang yang lain?" gumamku seorang diri.
Suasana di sekitarku memang gelap, namun di depan sana, ada beberapa kerlip cahaya yang menyerupai lampu. Samar-samar aku mendengar suara gemuruh, seperti hujan lebat.
"Jam berapa sih sekarang?" Kuraba-raba tas selempang yang kugantungkan di pundak. Tidak ada.
Jantungku berdetak cepat, pikiranku mulai dipenuhi dengan hal-hal negatif. Setelah aku yakin bahwa tas itu tidak ada, aku melangkah cepat menuju teras gudang. Di bawah cahaya remang-remang, aku mencari tas besar yang tadi kuletakkan di sana. Tidak ada. Bahkan jam tanganku pun juga tidak ada.
__ADS_1
"Kenapa, Ya Allah, kenapa Engkau timpakan ujian yang seberat ini padaku? Kenapa tidak ada seorang pun yang tulus, kenapa semua orang palsu?" teriakku dengan kencang, namun aku yakin tak seorang pun yang mendengar. Suaraku hilang ditelan derasnya hujan.
Aku melangkah ke pinggir jalan, menerjang hujan yang kian lebat. Tanpa alas kaki, aku terus berjalan tanpa arah. Entah jam berapa sekarang, jalanan sangat lengang, hanya satu-dua kendaraan yang sesekali melintas. Aku menangis, air mataku luruh bersama tetesan air. Betapa pedihnya jalan hidupku, seolah dunia benar-benar membuangku. Untuk kesekian kalinya, aku dikhianati oleh seseorang yang kupercaya. Ibu-ibu yang sempat kuanggap baik, ternyata hanya seorang pencuri. Aku tertipu oleh siasat liciknya.
Suasana kian mencekam, petir mulai menyambar, menggelegar melanglang buana. Kupeluk tubuhku dengan erat, tanpa menghentikan langkah. Aku tak peduli dengan apapun yang terjadi, biarlah hujan terus lebat, biarlah petir terus menyambar, jika dua hal ini membuatku mati, mungkin itulah yang terbaik.
"Tidak ada gunanya aku tetap di sini, kehadiranku sudah tidak diterima," ucapku berputus asa. Pasalnya, hanya sakit dan sesak yang dapat kurasakan saat ini.
Aku berhenti di ujung jembatan, tepat di dekat pagar pembatas. Aku menunduk, menatap gaun yang basah kuyup dan melekat membentuk lekuk tubuh. Kudekap perutku yang terlihat membuncit, kurasakan gerakan sang jabang bayi yang lebih agresif dari biasanya, mungkin dia tidak nyaman dengan kondisi ini.
Kemudian aku mendongak, menatap hamparan langit yang tertutup awan hitam. Sesekali cahaya petir menoreh, seakan membelah angkasa raya.
"Kenapa, Ya Allah, kenapa Engkau membuat aku seperti ini! Aku memang salah, tapi aku sudah bertobat, aku sudah berhenti melakukannya! Aku rela menerima aib ini, aku rela kehilangan segalanya, demi memegang teguh ajaran-Mu. Tapi kenapa, kenapa Engkau masih tak memberikan jalan! Kenapa!" teriakku dengan sekuat tenaga.
Sambaran petir menggelegar memekakkan telinga, ketika aku baru saja berhenti bicara. Akan tetapi aku tidak merasa takut, aku justru menatap percikan cahayanya yang enggan padam.
__ADS_1
"Aku tidak takut! Aku malah berterima kasih jika kamu mau menyambarku hingga mati!" teriakku tanpa ragu.
Aku kembali menunduk, mencengkeram ujung gaun yang kian melekat di tubuhku. Keindahan cinta yang membuatku bodoh dan tunduk pada permainannya. Kini, kebodohan itu yang mengantarku pada titik terendah dalam hidup. Tidak ada lagi secercah asa yang kupunya, segala impian dan harapan sirna bersama kenyataan yang menikam. Suluh dalam jiwaku telah padam. Setitik sinar yang tadi masih berpendar, kini ikut hirap ditelan kelam.
"Sudah tidak ada gunanya aku di sini, dunia adalah kepalsuan. Kendati aku selalu percaya dan menganggap semuanya baik, nyatanya hanya pengkhianatan yang kudapatkan.
Maafkan hamba yang tidak menerima takdir-Mu, Ya Allah. Bukan hamba tidak percaya pada pertolongan-Mu, tapi hamba sudah tidak kuat menghadapi cobaan yang Engkau berikan. Hanya Engkau yang hamba punya, jadi ijinkan hamba kembali ke sisi-Mu." Aku berkata sambil memanjat pagar pembatas.
Di bawah cahaya petir, aku bisa menatap arus sungai yang sangat deras, dan sungai itu dipenuhi bebatuan besar. Jika aku menjatuhkan diri ke bawah sana, aku tidak akan selamat. Aku pasti mati!
"Dunia terlalu keras, Nak, akan lebih baik jika kamu tidak pernah menatapnya." Aku menunduk sambil mendekap perutku dengan erat.
Tekadku sudah bulat, aku akan mengakhiri hidupku malam ini. Tinggal satu panjatan lagi, setelah itu aku tiba di atas pagar pembatas. Aku akan langsung melompat, dan semua rasa sakit ini akan berakhir. Namun, belum sempat aku melakukannya, tiba-tiba rasa sakit dan pening menyerang di kepala.
Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan diriku, hanya samar-samar mendengar teriakan seorang wanita. Entah itu nyata atau sekadar ilusi. Sebagian kesadaranku seakan menghilang, hingga aku tak paham di mana aku sekarang. Masih di alam yang semula, atau mungkin di ambang kematian.
__ADS_1
Bersambung...