Noda

Noda
Mengutarakan Niat


__ADS_3

Malam hari di Pulau Bali, di lantai tiga Queen Galery Kaivan berdiri di dekat terali. Dia menghirup udara malam sembari menatap jalan raya yang sedikit lengang, maklum saat ini sudah hampir dini hari. Bukan tanpa alasan Kaivan terdiam di sana, melainkan tak bisa memejam apalagi terlena. Bayangan Nadhea serta bisikannya tadi siang, sukses membuat Kaivan tak tenang. Mungkin hal itu akan berlangsung lama, hingga dia menuntaskan niatnya.


Kalau kamu akan mengatakan cinta, katakan dulu pada Papa. Dengan begitu, baru aku percaya.


Untuk kesekian kali suara Nadhea kembali terngiang dalam benak Kaivan, yang lantas membuatnya mengulum senyum, juga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Baru kali ini, dia merasa gugup ketika hendak berhadapan dengan Prawira. Bahkan, sewaktu memutuskan hubungan dengan Luna saja, dia tak segugup ini. Mengapa? Apakah takut niatnya ditolak? Entahlah.


"Yang kurasakan saat ini, lebih dari yang pernah kurasakan di waktu lalu. Nadhea, ternyata malah dia yang membuatku setakluk ini," gumam Kaivan di sela embusan angin malam.


Ketika Kaivan masih larut dalam bayang-bayang indah, tiba-tiba ponselnya berdering. Kaivan terkejut dan mengernyit seketika, siapa gerangan yang menelepon? Lantas, alis Kaivan makin mengerut saat menatap nama kontak penelepon—Kennan.


"Ada apa, Ken?" tanya Kaivan tanpa basa-basi.


Meski waktu Bali lebih cepat daripada Malang, tetapi jedanya hanya satu jam. Jika sekarang di tempatnya pukul 00.30, maka di Malang pukul 11.30. Untuk apa Kennan menghubunginya tengah malam? Bukan karena ada masalah genting, kan?


"Enak ya, santai di sana? Keliling Pulau Bali sama gebetan? Lupa sama aku yang hampir mati berdiri di sini?" sahut Kennan dengan intonasi tinggi.


Bukannya marah, Kaivan justru tertawa. Mendadak dia ingat bahwa Kennan masih menggantikan dirinya—memotret di Kota Batu. Menurut prediksi Chandra kala itu, jadwal di sana memang padat. Dalam lima hari itu, diperkirakan akan lembur sampai larut. Rupanya, memang benar.


"Papa dan Bunda yang berangkat akhir aja udah pulang, kamu malah masih enak-enakan di sana. Aku capek, Kai, kangen bini juga. Dasar ipar nggak punya hati kamu!" rutuk Kennan masih dengan emosi.


Kaivan tebak, saat ini Kennan baru pulang ke penginapan.

__ADS_1


"Jangan berlebihan! Kayak kamu nggak pernah lembur aja, Ken." Kaivan menyahut santai.


"Kalau asli pekerjaanku sih nggak apa-apa, tapi ini bukan. Mana di luar kota lagi. Inget, aku bukan lajang kayak kamu. Ada istri di rumah, lagi hamil. Kamu kira pikiranku bisa tenang di sini?"


"Reya pasti baik-baik aja, ada Papa, Bunda, Bibi, nggak perlu khawatir kamu." Kaivan masih santai, bahkan dia sempat tertawa di sela ucapannya.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya besok kamu harus pulang dan nyusul aku ke sini. Lusa aku mau balik. Aku nggak mau nunggu sampai jadwal di sini selesai!" ujar Kennan dengan tegas.


"Iya, besok aku pulang," jawab Kaivan dengan asal. "Udah ya, aku mau tidur. Baik-baik di sana, Ken, jangan menyinggung Pak Bos." Kaivan terkekeh-kekeh sembari mengakhiri sambungan telepon.


"Sorry, Ken, aku di sini masih ada urusan penting. Lagian, kerjaan itu udah deal kamu ambil. Jadi ya ... tuntasin aja sekalian," gumam Kaivan sambil menatap layar ponsel, yang lagi-lagi menampilkan tulisan 'Kennan is calling'.


Pagi-pagi sekali Kaivan sudah terjaga. Dia bergegas mandi dan menghampiri Prawira yang kala itu sedang membaca koran di sofa. Kaivan duduk di hadapannya, lalu menyapa dengan sedikit gugup.


"Selamat pagi, Om."


"Pagi, Kaivan." Prawira meletakkan koran dan menatap Kaivan sekilas, kemudian menyesap teh yang tinggal setengah. "Jika mau kopi, ke dapur saja. Dhea sedang masak, suruh membuatkan sebentar," sambungnya.


"Iya, Om, nanti saja." Kaivan tersenyum. "Mmm, sebenarnya, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Om," sambungnya.


"Apa itu?" tanya Prawira.

__ADS_1


"Tentang ... Nadhea," jawab Kaivan.


"Katakan saja!"


Kaivan menunduk, "Sebelumnya, saya minta maaf jika niat ini termasuk lancang dan menyinggung Om. Tapi, saya tidak bisa menyimpannya sendiri. Saya ingin Om tahu karena apa yang saya rasa memang sungguh-sungguh. Om, saya mencintai Nadhea, saya ingin menikahinya dan membahagiakan dia."


Prawira terkesiap. Meski sebelumnya hal itu sudah dia tebak, tetapi tetap mengejutkan ketika Kaivan benar-benar mengutarakan. Bukannya dia membenci Kaivan, hanya saja ada banyak hal yang perlu diluruskan sebelum mengambil keputusan.


"Kamu serius?" tanya Prawira.


"Sangat serius, Om. Bahkan, saya sudah membicarakan hal ini dengan Papa dan saya sudah mendapat restu dari beliau. Selain itu, saya juga sudah menyiapkan bukti niat ini." Kaivan bicara sambil mengeluarkan kotak kecil dari saku celana—cincin permata yang dia beli kemarin lusa.


"Kamu sudah mengatakan hal ini sama Dhea?" Prawira kembali bertanya.


Kaivan mengembuskan napas pelan, "Sebelum saya mengatakannya, Nadhea menyuruh saya untuk bicara terlebih dahulu sama Om."


Prawira tersenyum, tetapi sorot matanya menyiratkan kemelut. Entah apa saja yang dipikirkan pria paruh baya itu.


"Om!" panggil Kaivan karena Prawira terlalu lama berdiam diri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2