Noda

Noda
Dikurung


__ADS_3

Kaivan tersentak dan langsung bangkit dari duduknya, lantas menatap Nessa dengan nyalang. Gadis muda yang sudah satu tahun bekerja dengannya, tiba-tiba berkhianat dan menjerumuskannya ke dalam masalah pelik. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa kira-kira yang memperdaya Nessa?


"Kamu jangan sembarangan bicara! Saya tidak pernah menyuruh kamu melakukan yang macam-macam. Apa maksudmu mengatakan demikian?" bentak Kaivan. Dadanya terlihat naik turun seiring embusan napas yang makin memburu.


Kaivan benar-benar geram. Selama ini dia memperlakukan karyawan dengan baik dan sekarang balasannya sangat mengecewakan. Ibarat peribahasa, air susu dibalas dengan air tuba. Sebenarnya, bukan hanya Nessa dan Fia yang bekerja di Romantic Resto. Ada dua lainnya, yakni Ratna dan Sasmita. Namun, sejak kemarin Ratna tidak masuk karena sakit, sedangkan Sasmita izin pulang lebih awal karena ada hajatan di rumah saudaranya.


"Silakan duduk kembali, Pak Kaivan! Saya harap Anda bisa tenang dan tidak emosi!" kata polisi.


Kaivan mengangguk dan kembali mendaratkan tubuhnya di kursi. Ekor mata tetap mengawasi gerak-gerik Nessa. Akan tetapi, gadis itu sekadar diam sambil menggigit bibir.


"Yang dia katakan sangat salah, Pak. Saya tidak pernah menyuruh dia melakukan yang aneh-aneh, hanya bekerja dan melayani pengunjung yang datang ke restoran. Saya tidak tahu mengapa dia melakukan tindakan ini. Saya sama sekali tidak ikut campur, Pak," terang Kaivan kepada polisi.


"Harap sertakan bukti atas jawaban kalian!"


"Maaf, Pak, saya tidak ada bukti apa-apa. Pak Kaivan membayar saya dengan uang tunai dan saat memberikan perintah juga secara lisan, jadi tidak ada bukti chat atau riwayat transfer," sahut Nessa sebelum Kaivan membuka suara.


"Pak, itu tidak benar! Saya berani bersumpah, bukan saya yang menyuruhnya. Silakan periksa ponsel saya atau kamar saya, atau hal-hal pribadi saya yang lain. Saya tidak takut, Pak, karena saya sama sekali tidak terlibat." Kaivan bicara panjang lebar sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.


Nessa makin menunduk, bahkan tetes-tetes air mata mulai membasahi pangkuan. Sebenarnya, dia sangat takut melibatkan Kaivan. Namun, apalagi yang bisa dilakukan. Dia tidak ingin dipenjara. Sementara orang yang menyuruhnya, tidak mungkin memberikan bantuan.


Di sela-sela ketakutannya, sesekali Nessa melirik polisi yang sedang memeriksa ponsel Kaivan. Harapannya ada sesuatu yang mencurigakan di sana, tetapi jawaban polisi sangat mengecewakan.


"Kami tidak menemukan hal yang mencurigakan dari ponsel Anda. Tapi, kami juga belum bisa membebaskan Anda. Anda akan tetap di sini sampai pelaku berhasil kami temukan. Selain itu, untuk sementara waktu restoran Anda kami tutup."


"Tapi, Pak___"

__ADS_1


"Mohon kerja samanya, Pak Kaivan," pungkas polisi.


Kaivan menggeram dalam hati, tetapi tidak bisa menolak keputusan polisi. Kesaksian Nessa sudah mengarah padanya, mau tidak mau dia harus mematuhi hukum yang ada.


Sembari meredam emosi, Kaivan kembali menatap Nessa. Gadis itu tampak lebih pucat dari sebelumnya.


"Apa salahku padamu? Kenapa kamu melakukan ini?" batin Kaivan.


Tak lama kemudian, Kaivan dan Nessa digiring menuju ruang tahanan. Untuk malam ini dan entah sampai kapan, Kaivan dikurung di balik jeruji. Sebuah keputusan yang membuat Kirana menangis histeris. Dia yakin anaknya tidak bersalah, tetapi tak bisa melakukan apa-apa karena Nessa telah menyeret nama Kaivan.


"Tenang, Sayang, kita sabar sebentar. Aku janji akan membebaskan Kaivan secepatnya. Akan kubuat Nessa atau siapa pun yang ada di belakangnya menyesal karena telah menyulitkan Kaivan," ujar Darren menenangkan istrinya.


"Akan saya bantu, Om. Saya pun tidak rela Kaivan difitnah demikian," sahut Kennan yang sama geramnya.


____________________


Lelaki itu adalah Ginanjar Pratama. Dia bukan lelaki kaya, sekadar pemilik toko elektronik yang tidak terlalu besar. Nora sangat mencintainya karena Ginan bisa menghargai wanita, tidak seperti Adhi yang gemar membentak dan melayangkan tamparan. Namun, Nora bersaksi bahwa pembunuhan itu bukan rencananya. Dia justru shock saat menyaksikan tindakan Ginan pada malam itu.


"Kami hanya makan bersama, tiba-tiba Mas Adhi datang dan memukul saya. Semua ini tidak direncanakan, bahkan saya dan Mas Ginan tidak tahu bahwa Mas Adhi akan datang," terang Nora.


"Jika tidak ada perencanaan, tidak mungkin CCTV dinonaktifkan. Lagipula, Saudari Nessa sudah mengaku bahwa ini memang disengaja. Menurut keterangannya, Saudari Nessa diperintah oleh Pak Kaivan. Apakah Anda atau suami Anda ada masalah dengan Pak Kaivan?"


"Kami tidak pernah bermasalah dengan beliau. Saya hanya menjadi pelanggan di restorannya, sedangkan suami saya malah tidak kenal. Walaupun dia bekerja di perusahaan milik tunangan Pak Kaivan, tapi dia tidak pernah menyebut nama Pak Kaivan," jawab Nora.


Walau demikian, polisi tetap mengamankan Noranda Sugia, setidaknya sampai ada titik terang dari masalah itu. Selain mengamankan Nora, Kaivan, dan Nessa, polisi juga memeriksa kediaman mereka. Namun, sayang sekali tidak ada bukti atau petunjuk sedikit pun. Mau tidak mau mereka harus menunggu sampai Ginanjar Pratama berhasil ditemukan.

__ADS_1


___________________________


Pada hari ketiga, polisi belum berhasil menemukan Ginanjar. Namun, Darren dan Kennan menemukan sedikit petunjuk. Tak ingin membuang waktu, mereka langsung melaporkannya ke polisi.


"Tiga hari sebelum kejadian, Nessa izin keluar saat jam kerja. Katanya, dia ada urusan penting dengan saudaranya. Waktu itu tidak ada yang curiga. Tapi, dengan adanya kejadian ini, kami berinisiatif untuk menyelidiki." Darren menjeda kalimatnya.


"Dia berangkat menggunakan ojek online. Setelah cukup lama mencari tahu, kami berhasil menemukan driver-nya. Ternyata, Nessa pergi ke Kantor Victoria. Sebagai karyawan restoran, bukankah aneh berkunjung ke kantor besar seperti Victoria? Padahal, saat itu masih pukul sembilan, masih masuk jam kerja," sambung Darren.


Polisi mengangguk, lantas menatap Anton—driver yang pernah mengantar Nessa. Darren dan Kennan memang mengajaknya untuk memberikan kesaksian.


"Ini bukti orderannya, Pak. Dari Romantic Resto ke Kantor Victoria. Waktu itu, saya hanya menunggu di depan gerbang. Jadi, tidak tahu siapa yang ditemui Mbak Nessa," terang Anton.


"Berapa lama Saudari Nessa di sana?"


"Tidak lama, Pak, hanya seperampat jam," jawab Anton.


Mendengar kesaksian Anton, Kaivan sedikit lega. Setidaknya ada setitik sinar untuk masalahnya. Namun, ada satu hal yang sangat mengganjal. Mengapa Nessa ke Kantor Victoria? Dan mengapa sejak kejadian itu Luna tidak bisa dihubungi? Apakah keduanya saling berkaitan?


"Ya Allah, jangan hadapkan hamba pada pilihan yang sulit," batin Kaivan.


Bersambung....


Gimana, gimana?


Udah bisa ditebak?

__ADS_1


__ADS_2