
Kaivan tak punya sepatah kata pun untuk menjelaskan tentang dua barang yang dipegang ayahnya. Yang satu sebungkus alat kontr*sepsi dan satu lagi jaket abu-abu miliknya—yang terdapat dua bekas lipstik di bagian dada, warnanya merah merona dan berbentuk bibir sempurna.
"Papa sudah percaya sama kamu dan sekarang kepercayaan itu malah kamu nodai dengan fatal!" bentak Darren.
Kirana menggigit bibir, sangat terpukul dengan kenyataan yang ada. Mengapa anaknya melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya, apakah ini karma atas dosa di masa silam?
Sementara itu, Athreya hanya menunduk. Kaivan adalah sosok idola dalam hidupnya dan sekarang menorehkan kekecewaan yang amat besar. Kendati jauh di dalam hatinya Athreya kurang percaya, tetapi bukti menguatkan dugaan.
"Papa, Bunda, ini tidak seperti itu. Ini ... ini ... ini___"
"Jangan berkilah, Kaivan! Papa menemukan ini di dalam jaket kamu!" pungkas Darren sambil melemparkan alat kontr*sepsi ke arah Kaivan.
"Itu salah dia, Pa, aku___"
"Kamu diperk*sa, kamu jadi korban, begitu maksud kamu?" Darren kembali memotong ucapan Kaivan. "Papa tidak bodoh, Kai. Kamu laki-laki, tidak mungkin ada perempuan yang seperti itu. Dan lagi, jika kamu tidak menghendaki, barang-barang ini tidak mungkin kamu bawa pulang. Tapi ini, kamu membawanya dengan mengemas rapi. Mau kamu jadikan kenang-kenangan, begitukah?" sambungnya.
"Bunda tidak pernah mempermasalahkan prestasi kamu, cita-cita kamu, ataupun hobi kamu. Hanya satu yang Bunda pinta, Kaivan, jaga akhlak kamu. Tidak ada dampak baik dari perbuatan itu, justru sangat buruk dan bisa menghancurkan hidupmu. Dengarkan nasihat Bunda, Kaivan! Jangan sampai kamu menyesal setelah semuanya sudah terlambat!" Kirana turut bicara. Suaranya terdengar keras dan gemetaran. Dalam hitungan detik, air mata luruh membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Ketika suasana masih tegang, Reyvan datang dan langsung terpaku di ambang pintu. Dia memandangi wajah ibunya yang penuh amarah. Padahal, selama ini selalu lembut dan penuh kasih.
"Apa yang dilakukan Kak Kai, kenapa Bunda sampai semarah itu?" batin Reyvan.
Sesaat kemudian, Kaivan berlutut di hadapan orang tuanya. Sembari meraih tangan keduanya, Kaivan meminta maaf dan memohon sempat untuk menjelaskan semuanya.
Setelah diberi kesempatan, Kaivan bercerita banyak tentang Nadhea. Sedari pertama bersua di bandara sampai berpisah di ambang senja. Kaivan menceritakannya dengan detail, mulai dari sikapnya yang aneh sampai kata-kata cinta yang diungkapkan olehnya. Kaivan juga menceritakan tentang kronologi jaket, yang dipinjam dan dibungkus dari sana.
"Seperti itu, Bunda. Kupikir bungkusannya dari jasa laundry, jadi tidak kubuka. Aku tidak tahu jika isinya seperti itu," ucap Kaivan usai bercerita.
"Alasanmu kurang masuk akal, mana ada perempuan seperti itu. Lagi pula, kamu ditempat asing, kenapa sedekat itu dengan orang yang tidak kamu kenal? Kamu ada niat lain, kan?" sahut Darren masih dengan intonasi tinggi.
"Bunda belum percaya sebelum kamu memberikan bukti," jawab Kirana.
"Buk-bukti apa, Bunda?"
"Berdiri dan ambil ponselmu!" Kirana bicara sambil mengusap wajahnya. Air mata sudah berhenti mengalir meski dadanya masih amat sesak.
__ADS_1
"Untuk apa, Bunda?" tanya Kaivan sambil beranjak.
"Ambil!" perintah Darren dengan tegas.
Kaivan berjalan ke arah meja. Lantas, mengambil ponsel yang belum lama ditaruh. Dengan perlahan Kaivan kembali mendekati orang tuanya. Lalu, mengulurkan ponselnya pada sang ibunda.
"Bunda akan mencari tahu kebenarannya lewat ponsel ini. Selama satu bulan ke depan, ponselmu akan Bunda bawa dan semua akunmu dalam kendali Bunda. Jangan berusaha membuka akunmu dari perangkat lain! Jika kamu berani macam-macam, ponsel ini akan lebih lama di tangan Bunda. Paham?" ucap Kirana yang lantas membuat Kaivan tersentak.
"Ta-tapi, Bunda___"
"Atau kamu lebih suka kami tidak percaya?" potong Darren.
"Ti-tidak, Pa." Kaivan kembali menunduk. "Baiklah, silakan Bunda bawa ponselnya," sambungnya dengan berat hati.
Tak lama setelah itu, Darren dan Kirana keluar dari ruangan, disusul Athreya dan Reyvan. Kini, tinggal Kaivan seorang, berdiri sambil menatap nanar ke arah barang-barang. Oleh-oleh yang dia bawa masih menumpuk di atas sofa, berjajar dengan baju-baju miliknya. Bahkan, gelang mutiara Lombok pun masih belum dibawa sang empunya.
"Ahh, sial! Sial! Sial! Dasar cewek sinting! Kenapa tidak mati saja kemarin!" umpat Kaivan sambil menendangi udara hampa. Kali ini, emosinya pada Nadhea sudah melebihi batas maksimal.
__ADS_1
Karena ulah Nadhea yang tidak masuk akal, Kaivan harus menerima hukuman. Satu bulan tanpa ponsel merupakan sesuatu yang berat, terlebih lagi bila jangka itu diperpanjang. Ah, membayangkannya saja membuat semangat Kaivan jatuh pada angka nol.
Bersambung....