Noda

Noda
Bulu Kuduk Meremang


__ADS_3

Aku mengerjap kala merasakan hawa dingin menerpa tubuhku. Makin lama makin terasa, seolah menembus pori-pori dan menelusup ke dalam tulang. Tubuhku seakan membeku dibuatnya.


Dengan berat aku hendak membuka mata, tetapi belum sempat kulakukan, tiba-tiba ada hujan yang mengguyur. Di mana aku sekarang?


Aku membuka mata dan mendapati susana terang di sekitar. Tak ada hujan ataupun gerimis, lantas apa yang mengguyurku?


Lalu aku menunduk dan mendapati baju yang memang basah kuyup. Kemudian aku terpaku pada ujung rambut yang menjuntai menutupi sebagian dada. Di mana kerudungku? Apa yang terjadi padaku?


"Cepat bangun!"


Sebuah teriakan yang menggema bersama guyuran air. Aku tersentak dan sadar kalau air itu memang sengaja disiramkan ke tubuhku. Kemudian aku mendongak dan mendapati sosok Amanda berdiri di hadapan dengan tatapan tajam. Mengapa ia di sini, dan mengapa aku sendiri, di mana Dara?


Aku hendak mengusap wajah yang basah, tetapi niatku gagal karena tangan tak bisa kugerakkan, begitu pula dengan kaki. Sekian detik memahami situasi, akhirnya aku tahu bahwa tubuhku diikat di atas kursi. Mengapa bisa seperti ini? Bukankah aku sedang ke rumah Mala bersama Mayra, lantas di mana mereka? Di mana anakku?


"Aku tidak tahu apa yang membuat Darren tergila-gila padamu, padahal statusmu tidak jelas. Dibilang perawan, kamu sudah punya anak. Dibilang janda, kamu belum menikah. Mungkin ... sebutan ******* yang lebih cocok untukmu." Amanda melangkah mendekatiku. "Tapi ... sekarang aku punya cara untuk membuat Darren berhenti mencintaimu," sambungnya diiringi senyuman lebar.


"Di mana Dara?" tanyaku dengan cepat.


"Pikirkan saja keselamatanmu, tidak perlu memikirkan anak yang tak berguna. Kamu tahu, dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Jangan macam-macam padanya, aku tidak akan mengampunimu!" bentakku.


"Ampun? Memangnya siapa yang mengharap ampunanmu?" Amanda tertawa.


Lalu ia meraih daguku dan memaksaku mendongak. Lantas mengarahkan pisau kecil ke wajahku. Tak ada yang bisa kulakukan selain membuang pandangan. Kaki dan tanganku diikat kuat, tak bisa bergerak sedikit pun.


"Karena wajah ini, Darren mengabaikan aku." Amanda bicara sambil menggoreskan pisaunya di pipiku.


Aku mengerang, menahan rasa perih dan sakit yang mulai mendera. Namun, Amanda tak lantas berhenti, justru tertawa dan menggoreskannya lebih dalam lagi. Dalam hitungan detik, darahku mengalir dan menetes di pangkuan.


"Menangislah, habiskan air matamu. Tapi ... itu tidak akan menghentikan pisau ini. Ia akan tetap menari-nari di wajahmu!" Amanda terbahak-bahak.


"Buka matamu!"


Kurasakan tamparan mendarat di pipi, bersamaan dengan teriakan Amanda. Luar biasa sakitnya, mungkin sekarang lukaku makin terkoyak. Aku membuka mata, tetapi tak menatapnya, tak ingin melihat tawa kemenangan. Mendengarkannya saja sudah cukup membuat hatiku perih. Mungkin, ia adalah iblis yang menjelma dalam tubuh manusia, sehingga tak memiliki nurani dan perikemanusiaan.


"Lihat aku! Lihat!" Amanda berteriak sembil menjambak rambutku dengan kasar. Mungkin ada beberapa helai yang terlepas dari tempatnya.


"Aku lebih cantik dari kamu, aku juga yang lebih dulu bersama dengan Darren. Dia milikku, tak 'kan kubiarkan siapa pun mengambilnya dariku, termasuk kamu," kata Amanda diiringi deru napas yang memburu.

__ADS_1


"Dia sudah menikah denganku, dan kamu pun sudah punya suami. Kamu___"


"Diam!" Amanda melotot tajam. "Kamu tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tanggaku, jadi jangan sok memberi nasihat!" sambungnya.


"Tapi kamu___"


"Diam! Kamu tidak berhak bicara denganku!" Amanda mengeratkan cengkeramannya, hingga menimbulkan rasa sakit yang makin menghujam di kulit kepala.


Bahu Amanda terlihat naik turun, embusan napas pun terdengar kasar dan tak beraturan. Mungkin, amarahnya makin membuncah.


"Aku tahu sikapku jahat, tapi semua ini bukan tanpa alasan. Sejauh ini, hanya Darren yang bisa mengerti aku. Selama bertahun-tahun aku tak pernah bahagia, dan hanya Darren yang bisa membuatku merasakan itu. Aku tak ingin menderita lagi, Kirana, jadi ... apa pun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan Darren. Paham!"


Usai bicara, Amanda mengentakkan tangannya dengan kasar. Kepalaku terhuyung dan membentur sandaran kursi. Sakit. Lagi-lagi hanya rasa sakit yang dapat kurasakan. Mengenai ucapan Amanda, aku tak paham apa maksudnya, tetapi tak lantas bertanya. Aku hanya menggigit bibir sembari memanjatkan doa kepada Tuhan. Semoga aku dan Dara tetap ada dalam lindungan-Nya.


Tak lama kemudian, Amanda menjauh dariku. Kulirik sekilas, ia duduk di kursi, di sudut ruangan. Dari celah-celah rambut yang menjuntai, kulihat ia memainkan ponselnya. Entah apa yang akan dilakukan.


Sekitar lima menit kami saling diam. Amanda sudah meletakkan ponselnya, tetapi tak beranjak dari kursi. Sekadar menatap tajam dan sesekali tersenyum miring. Mungkin ia masih menyusun rencana lain.


Aku tersentak, kala mendengar pintu dibuka dari luar. Sontak aku mendongak dan melihat siapa yang datang, seseorang yang amat-sangat kukenal. Awalnya aku bernapas lega karena kupikir ia akan menolongku. Namun, aku salah, ia justru memberikan sesuatu kepada Amanda. Sebuah barang yang membuat bulu kudukku meremang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2