
"Memang cukup jauh dari sini, tapi dia pembisnis besar, sayang kalau ditolak. Lagipula kamu tidak sendirian, Kai. Selain crew yang lain, Kennan juga ikut serta. Jadi, bisa kan?" Chandra kembali bicara.
"Iya, saya bisa. Pasti bisa," jawab Kaivan sedikit gugup.
Untuk nama jalan dan nama kecamatan, Kaivan tidak terlalu kaget. Namun, ketika membaca tulisan di akhir alamat—Kota Bandung, jantung Kaivan langsung berdetak cepat. Itu adalah sebuah kota yang ditempati Nadhea. Akankah nanti berjumpa dengannya? Entahlah.
"Bagus! Memang seperti ini yang kuharapkan, profesional." Chandra tersenyum sambil menepuk bahu Kaivan. Lantas, beranjak dan pergi meninggalkannya.
Setelah Chandra pergi, Kennan yang datang menghampiri Kaivan. Dengan mata yang menyipit, lelaki itu mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Kamu kenapa? Kusut banget tuh muka," ucap Kennan.
"Memangnya Pak Chandra belum ngasih tahu kamu?"
"Sudah, tapi apa masalahnya? Kamu nggak rela ke luar kota ninggalin Luna?" tanya Kennan.
"Kamu lupa Bandung itu mana, tempat tinggal Nadhea, Ken," sahut Kaivan dengan nada yang sedikit tinggi.
"Ah, iya. Kenapa aku tadi nggak inget ya." Kennan menatap Kaivan.
Selama ini, Kaivan sudah menceritakan semuanya kepada Kennan. Lelaki itu hanya menggeleng-geleng saat mengetahui sikap Luna terhadap Nadhea. Sebenarnya, dia pun turut kecewa. Namun, tak ada keberanian untuk bicara banyak hal. Dia tahu Kaivan amat mencintai gadis itu.
"Kira-kira ini dekat nggak ya dengan alamat Nadhea?" ucap Kaivan.
"Kamu mau nyamperin dia?"
"Entahlah." Kaivan mengembuskan napas kasar sambil menyandarkan punggungnya.
"Kamu ... mulai ada rasa ya, Kai?" tanya Kennan dengan sedikit ragu.
__ADS_1
"Enggak lah, aku tuh cuma___"
Kaivan mengatupkan bibir dan membiarkan kalimatnya menggantung begitu saja. Sejauh ini, Kaivan belum menceritakan perihal 'Grey' dan mungkin sampai nanti pun tidak akan bercerita. Itu sebabnya, Kaivan tak bisa menjelaskan terkait kekhawatirannya. Namun, dia tak sadar bahwa sikapnya sekarang membuat Kennan beropini lain.
"Cuma apa?"
"Enggak. Cuma pengin tahu kabarnya," kilah Kaivan.
"Jiah langsung gugup." Kennan tertawa. "Cakep kok, Kai, dan kayaknya lebih innocence. Nggak ada salahnya kalau sein kanan belok kiri," sambungnya.
"Sembarangan." Kaivan menatap tajam.
Kennan mencondongkan tubuhnya dan menepuk bahu Kaivan, "Kalau menurutku ya, Kai. Cinta itu tentang kenyamanan, bukan kesempurnaan. Pikirkan baik-baik sebelum melangkah lebih jauh."
Kaivan terdiam, bibirnya mengatup seketika. Mendengar kata kenyamanan, perasaannya mulai bergejolak.
________
Pukul 03.00 sore, Kaivan meninggalkan tempat pemotretan. Namun, dia tak langsung pulang. Beberapa waktu lalu Luna menghubunginya dan meminta dijemput. Katanya, ingin jalan-jalan sebentar.
Karena tempat pemotretan tidak terlalu jauh, dalam waktu singkat Kaivan sudah tiba di Kantor Victoria. Sang kekasih sudah menunggu di ruangannya.
"Aku kangen, Kai," sambut Luna diiringi pelukan manja.
"Aku juga." Jawaban Kaivan sedikit datar, tetapi tangannya merengkuh erat tubuh Luna.
"Nggak lelah, kan? Aku pengin jalan-jalan, udah lama nggak menghabiskan waktu bareng kamu, Kai," ujar Luna.
"Enggak, Sayang. Hari ini pekerjaannya nggak banyak," jawab Kaivan.
__ADS_1
Usai tersenyum lebar, Luna melepaskan pelukan dan menggandeng tangan Kaivan. Mereka melangkah bersama menuju parkiran. Dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Luna dan Kaivan banyak berbincang. Mulai dari foto-foto pre wedding minggu lalu sampai dekor untuk acara nikahan nanti. Selain itu, Luna juga membahas kondisi ayahnya yang makin membaik. Bahkan, sekarang Prawira sudah aktif bekerja. Usai mendengar perkataan Luna, Kaivan tergerak untuk menanyakan satu hal yang sejak jauh hari mengganjal.
"Kabar ... kakak kamu gimana?" Setelah berkecamuk lama, akhirnya Kaivan memutuskan untuk bertanya.
"kakak? Maksud kamu Nadhea?" Luna balik bertanya dengan raut wajah yang masam.
"Iya."
"Kenapa menanyakan dia?" Luna tertawa sumbang.
"Hanya ingin tahu. Harapanku ... hubunganmu dengan dia membaik. Bagaimanapun juga, ada hubungan darah di antara kalian. Sebenci apa pun kamu sama dia, kenyataan itu nggak akan berubah," ucap Kaivan. Sebenarnya dia ingin mengorek informasi tentang Nadhea. Namun, demi menghindari prasangka, Kaivan berlindung di balik nasihat bijak.
"Dia baik," jawab Luna singkat.
Kaivan tak menjawab, hanya menatap Luna sekilas. Luna memutar bola mata, sedikit jengah karena ekspresi Kaivan seolah menampilkan keraguan.
"Aku sering telfonan sama dia, Kai. Jadi tahu benar bagaimana kabarnya. Dia sekarang lagi bahagia, bisnis suaminya makin berkembang," dusta Luna dengan asal.
Lagi-lagi Kaivan diam. Sambil menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan, dia memikirkan cara untuk menanyakan nomor Nadhea. Akan tetapi, Luna salah memahami. Menurutnya, diamnya Kaivan karena ragu dengan jawaban barusan.
Tak ingin merusak suasana, Luna mengambil ponselnya dan menulis pesan untuk nomor yang sebenarnya tidak pernah dihubungi. Lantas, dia menunjukkan ponselnya kepada Kaivan.
"Nih, kalau kamu nggak percaya. Hubunganku sama dia tuh udah membaik. Aku udah minta maaf. Sekarang, kami kerap bertukar pesan dan juga telfonan. Aku sering mengirim pesan candaan seperti ini lebih dulu," terang Luna.
Kaivan tak melewatkan kesempatan. Ponsel yang sekadar ditunjukkan, langsung diraih dan dipandangi. Dengan berpura-pura membaca pesan yang dikirimkan Luna, Kaivan melihat detail nomor yang tertera.
"Ini kan___" batin Kaivan.
Bersambung...
__ADS_1