
Satu hari setelah Kaivan melaporkan kejahatan Gara, polisi dengan sigap menindaklanjuti kasus tersebut. Berdasarkan penyelidikan, Gara ditetapkan sebagai tersangka pemerkosa*an terhadap Athreya. Gara dijatuhi hukuman yang cukup berat.
Kendati demikian, Kaivan belum bernapas lega, karena Athreya belum juga membuka mata. Berulang kali dia mendatangi adiknya—menggenggam tangannya dan juga membisikkan kalimat-kalimat indah. Namun, sang adik masih betah dalam alam bawah sadarnya.
"Nak, makan dulu!" ujar Kirana sambil menyodorkan kotak makan ke hadapan Kaivan. Sejak kemarin, keadaan Kirana sudah membaik.
"Belum lapar, Bunda," jawab Kaivan lirih.
Kaivan menunduk dan merenungi segala peristiwa yang terjadi di sekitar, mulai dari Nadhea, Athreya, dan juga Luna. Semuanya menyisakan rasa sesak yang mengimpit dada, hingga Kaivan tak merasakan lapar ataupun dahaga.
"Nak, kamu dari pagi belum makan, apalagi sejak kemarin sibuk, juga melakukan perjalanan jauh. Kamu harus jaga kesehatan, jangan telat makan."
Kaivn tersenyum, lalu meraih kotak makan yang dibawa Kirana. Akan tetapi, Kaivan tak membukanya, justru meletakkan di kursi.
"Kai___"
"Bunda, duduklah sebentar! Aku ingin bicara. Setelah itu, aku akan makan," potong Kaivan.
"Baiklah." Kirana menurut dan duduk di sebelah Kaivan. Dia menatap anaknya dengan lekat, tetapi yang ditatap sekadar tersenyum, tak sedikit pun menunjukkan bahwa dia akan membuka suara.
"Kai! Katanya mau bicara?" Kirana kembali berujar karena Kaivan masih saja diam.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Kaivan justru membaringkan kepalanya di pangkuan Kirana. Mata hitamnya menatap wajah sangat ibunda dengan lembut. Ada ketenangan dalam jiwanya ketika melakukan itu.
Kaivan tak peduli meski Kirana mengatainya manja, atau juga orang-orang yang berlalu lalang menatap sambil tertawa. Saat ini, yang dia butuhkan hanya ketenangan, dan semua itu ada pada Kirana.
"Bunda, sebelum pulang tadi, Papa ada ngomong sesuatu nggak?" tanya Kaivan mengawali perbincangan.
Pagi-pagi sekali, Darren dan Reyvan pulang ke Kota Malang. Ada sedikit masalah dengan bisnis di sana, semua terjadi karena kerja samanya dengan Perusahaan Victory. Setelah kasus Luna dan keberadaan Nadhea mencuat keluar, harga saham di Perusahaan tersebut menurun drastis, pun dengan beberapa investor, banyak yang menarik kembali investasinya. Sebagai pebisnis yang terlibat kerja sama dengannya, Darren pula terkena imbas, sehingga dengan terpaksa dia pulang dan meninggalkan anaknya yang koma—demi menjaga bisnis tetap dalam kendali. Darren tak ingin keluarganya merasa kekurangan.
Di media sudah banyak berita tentang keluarga Prawira. Banyak yang menduga bahwa keluarga tersebut akan menghilang dari dunia bisnis. Sebenarnya dugaan tersebut cukup masuk akal, karena ada beberapa rival yang sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk menghancurkan Perusahaan Victory.
"Ngomong? Ngomong yang gimana maksud kamu?" Kirana menatap Kaivan.
"Kenapa harus marah?" Kirana balik bertanya.
"Aku udah banyak salah, Bunda. Gara-gara kerja sama dengan Om Wira, sekarang bisnis Papa banyak kendala. Dan aku nggak bisa melakukan apa-apa, malah Reyvan yang bantu menyelesaikan. Selain itu, aku juga bikin malu keluarga. Kabar pernikahanku dengan Luna sudah banyak yang tahu, tapi sekarang aku batalkan. Aku nggak bisa jadi kebanggaan Bunda dan Papa," sesal Kaivan dengan mata yang setengah terpejam.
"Jangan menarik kesimpulan sendiri, Kaivan. Semua ini bukan salahmu, dulu Mas Darren sendiri yang memutuskan untuk kerja sama dengan Prawira. Kalau___"
"Papa nggak akan kenal Om Wira kalau aku nggak pacaran sama Luna, Bunda," pungkas Kaivan.
"Ya, mungkin itu benar. Tapi, bukan berarti bisnis papamu akan mulus tanpa kendala, kan?"
__ADS_1
Kaivan terdiam.
"Dalam kehidupan, masalah itu pasti ada. Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas sandungan yang terjadi dalam pekerjaan papamu. Kalaupun tidak ada Prawira, masalah itu pasti datang dari celah yang lain. Kaivan, kami tidak marah, kami justru bangga punya anak yang berhati besar sepertimu. Bunda tahu, kamu masih mencintai Luna, tapi kamu berani melepaskan dia. Kamu tidak bodoh karena cinta, dan itu cukup membuat Bunda bangga," ucap Kirana dengan panjang lebar. Dia berani bicara demikian karena sudah paham dengan kasus Luna yang sebenarnya.
"Benarkah Papa tidak marah? Tapi, nanti keluarga kita akan menahan malu, Bunda. Pasti banyak yang menggunjing karena pernikahanku batal, juga pasti banyak yang bilang kalau kita mau enaknya saja. Meninggalkan Luna ketika dia dalam kesulitan. Kalau cuma aku yang digunjing sih ggak apa-apa, tapi kalau Bunda dan Papa juga___"
"Mereka tidak mungkin selamanya menggunjing kita. Kaivan, malu sesaat tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaanmu. Apa gunanya menutup rasa malu jika yang dikorbankan adalah masa depanmu?" Kirana menunduk dan mengusap-usap kepala Kaivan. "Tidak, Nak, Bunda dan papamu tidak egois. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan itu. Jika Luna bukan lagi pilihanmu, ya sudah. Jalani hidupmu dengan semestinya, menikahlah jika sudah bertemu dengan wanita yang tepat. Tidak usah memaksa demi menutupi rasa malu," sambungnya.
Kaivan membuka mata lebar-lebar, sangat bahagia mendengar penuturan ibunya. Memang, hal terbaik dalam hidup adalah keluarga.
"Sudah selesai, kan, bicaranya? Sekarang bangun dan makan. Bunda nggak mau kalau kamu sakit," ucap Kirana beberapa saat kemudian.
"Belum, Bunda, masih ada satu lagi," jawab Kaivan dengan cepat.
"Apa?"
Kaivan tak segera menjawab. Dia hanya beranjak dan menatap ibunya dengan lekat. Ada keraguan untuk mengutarakan isi hatinya kali ini. Kirana memandanginya tanpa kedip, berusaha menerka apa gerangan yang dipikirkan Kaivan.
"Bunda___"
Bersambung....
__ADS_1