Noda

Noda
Lembaran Mencurigakan


__ADS_3

Amanda tertawa renyah, seakan-akan meremehkanku. Setelah Kak Darren menatap tajam, baru ia menghentikan tawanya, tetapi tak lantas mengalihkan pandangan.


"Aku nggak percaya kamu nikah sama dia, Ren. Dia bukan tipemu, aku paham itu," kata Amanda.


"Jangan lancang, Amanda! Dia istriku, sejak dulu hanya dia wanita yang kucintai!" Kak Darren membentak sambil beranjak dari duduknya.


"Cinta? Apa aku tidak salah dengar? Otakmu yang hanya dipenuhi *****, sekarang bicara tentang cinta? Konyol sekali, Ren." Lagi-lagi Amanda tertawa. Kali ini sambil menatap Kak Darren.


Emosiku makin tersulut. Entah yang ia bicarakan benar atau tidak, tetapi aku sangat ingin menyumpal mulutnya dengan pot bunga.


Sebelum Kak Darren menyahut, aku beranjak dan membuka suara. Tak kubiarkan diriku terlihat lemah di depan umum.


"Kak Darren memang mencintai saya. Konyol atau tidak, tapi itulah kebenarannya. Anda sudah berkeluarga dan Kak Darren pun sudah menikah. Jika Anda memang wanita yang beretika, tidak seharusnya mengusik kami seperti ini." Aku berkata sambil melotot tajam. Kutunjukkan padanya, bahwa aku adalah wanita tegas yang tak mudah ditindas.


"Cinta, kebenaran?" Amanda turut beranjak. "Kamu belum tahu siapa aku?" sambungnya.


"Siapa pun kamu, aku tidak peduli. Yang jelas Kak Darren sudah menikah denganku. Jadi, berhenti mengharapkannya!" sahutku.

__ADS_1


Kupicingkan mata guna membalas tatapannya yang berkilat. Aku tak lagi memanggilnya 'anda' karena ia pun tak melakukan itu.


"Pernikahan hanyalah hubungan yang tertulis di atas kertas, apa istimewanya? Asal kamu tahu ya, hubunganku dengan Darren sudah sangat jauh. Permainanku, wajahku, bibirku, itu adalah candu baginya. Sedangkan kamu___" Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. "___dengan wajah udik ini, Darren tidak mungkin betah berlama-lama. Dia tidak akan puas demganmu! Lihat saja nanti, kamu ... pasti akan ditinggalkan."


"Amanda, cukup! Kamu makin gila, ya!" bentak Kak Darren. "Sayang, ayo kita pergi."


Kak Darren berusaha melerai, tetapi aku tak mengindahkan. Amarah ini terlanjur membuncah, aku tak ingin melepaskan Amanda begitu saja. Kendati aku bukan wanita karier seperti dirinya, tetapi aku punya martabat yang kini harus kujaga.


"Kamu sedang memperingatkan aku atau justru membicarakan dirimu sendiri? Masih sadar 'kan, kalau yang ditinggalkan itu kamu." Aku berucap sambil tersenyum miring.


"Kurang ajar!" Amanda membentak sambil melayangkan tangannya.


"Tak peduli serendah apa kamu memandangku, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku bukan wanita lemah yang hanya menangis saat rumah tanggaku diusik. Selama aku benar, tak ada kata takut. Sedikit saja kamu mencari masalah, aku tak segan-segan melebamkan wajahmu ini," ucapku padanya.


"Sayang, sudah, Sayang. Ayo kita pergi saja." Kak Darren menggenggam tanganku. "Amanda, hubungan kita sudah berakhir. Kamu sudah setuju ketika aku membahasnya. Sekarang aku sudah menikah, tolong mengertilah," sambungnya pada Amanda.


"Ren, aku___"

__ADS_1


"Kita berdua tahu bahwa hubungan itu untuk mencari kesenangan belaka, tak ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Kamu sudah menikah, memang seharusnya hubungan kita berakhir, agar aku pula bisa menjalani kehidupan layaknya orang lain," pungkas Kak Darren.


"Kamu lelaki berengsek, Darren!" teriak Amanda.


Keributan di antara kami makin mencuri perhatian pengunjung. Kulirik mereka saling berbisik dengan rekan masing-masing, mungkin sedang membicarakan kami. Ahh, betapa malunya.


Tanpa banyak kata, aku meluluskan ajakan Kak Darren, yakni melangkah pergi. Terus meladeni Amanda hanya membuatku kehilangan muka, begitulah pikirku. Namun, baru dua langkah kami berjalan, Amanda kembali berteriak.


"Jika kamu bukan pengecut, pasti berani melihat ini, Ren!"


Aku dan Kak Darren menoleh seketika. Kulihat Amanda menggenggam lembaran kertas. Entah dokumen apa, yang jelas membuatku resah dan gelisah.


"Aku menuntut janji, Ren," ucapnya dengan senyuman lebar.


Lantas ia mendekat dan menyerahkan lembaran itu ke tangan Kak Darren.


Jantungku berdetak cepat. Aku menunduk dan tak berani melirik isi tulisannya, justru meremas tali tas dan mencoba menenangkan hati yang kian kacau. Pikiranku mulai dipenuhi prasangka-prasangka buruk. Mungkinkah itu surat keterangan hamil?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2