
Lukisan yang tadi belum jelas seperti apa wujudnya, sekarang tampak indah dan nyata. Seorang wanita cantik sedang mengepakkan sayapnya dan terbang di antara awan-awan yang berarak. Bentangan langit yang biru, dipadu dengan warna keemasan, pun dengan awan, sayap, rambut, dan wajah sang wanita, semua berwarna keemasan. Seolah pelukis sengaja menegaskan bahwa saat itu matahari sedang memamerkan keanggunan.
Di sebelah lukisan itu, terdapat lukisan lain dengan teknik spray. Kali ini, alirannya romantisme, bukan surealisme seperti lukisan yang sebelumnya.
Dalam lukisan itu, terlihat dua orang—lelaki dan wanita sedang bergandengan tangan. Namun, latar keduanya berbeda. Sang lelaki berdiri di antara senja, sedangkan sang wanita bediri di antara fajar. Dengan dominan warna jingga, latar keduanya disatukan dengan halus.
"Nadhea, ini ... hasil lukisan kamu? Luar biasa," puji Kaivan.
"Jangan membuatku besar kepala," sahut Nadhea sembari menenteng jaketnya. Sebelum membangunkan Kaivan, dia terlebih dahulu mengambil jaket itu.
"Aku serius. Hebat loh kamu, sebentar aja udah menghasilkan dua karya." Lagi-lagi Kaivan memuji.
"Enggak lah. Yang ini udah kubuat dari kemarin-kemarin. Tadi, sekalian aku siapkan, biar besok nggak ribet." Nadhea menjawab sambil menunjuk lukisan yang romantis.
"Oh. Mmm, kalau boleh tahu, ini apa maknanya?" tanya Kaivan.
"Coba tebak."
__ADS_1
Kaivan berpikir keras. Baginya, lukisan tak beda jauh dengan puisi—sebuah karya yang memiliki sejuta makna—beda penikmat, beda penafsiran. Hanya orang-orang pilihan yang sanggup mendefinisikan sesuai dengan maksud penciptanya.
"Mmm, yang ini ... mungkin intinya kebebasan." Kaivan menunjuk lukisan wanita bersayap. "Kalau yang ini, mungkin cinta yang tak terpisahkan meski keadaan berbeda," sambungnya sembari menunjuk lukisan fajar dan senja.
Nadhea tersenyum, "Yang itu benar, kebebasan. Tapi, kalau yang ini kurang tepat. Yang kumaksud bukan cinta yang seperti itu."
"Lalu?"
"Jangan dipikirkan! Udah yuk, tidur!" jawab Nadhea.
"Tapi___"
"Apa!" Kaivan berteriak, tak menyangka bila tidurnya terlalu nyenyak—hampir empat jam.
"Ayo!" ajak Nadhea tanpa menghiraukan kekagetan Kaivan.
Tak ada pilihan, Kaivan beranjak dan mengikuti langkah Nadhea yang menuju lift. Ketukan sepatu mereka terdengar nyaring, maklum suasana sudah hening. Tak ada seorang pun yang beraktivitas di sana.
__ADS_1
Setelah tiba di lantai tiga, Kaivan dan Nadhea masuk ke kamar masing-masing. Namun, Kaivan sekadar telentang di ranjang. Rasa kantuknya hilang seketika. Bahkan, berulang kali memejam, tetap saja pikirannya menerawang—menerka makna lukisannya Nadhea.
_________________
Keesokan harinya, acara peresmian Queen Galery berjalan lancar. Para undangan hadir dan mengikuti acara dengan tertib. Banyak di antara mereka yang membeli lukisan dan karya seni lain sebelum pulang. Melihat hal itu, Kaivan turut senang. Rasa lelahnya terbayar karena kenyataan berjalan sesuai harapan.
Namun, rasa senang itu tak bertahan lama. Ketika hendak menemui Nadhea di ruangannya, Kaivan terpaku di samping pintu. Di dalam ruangan, ada tiga seniman yang sedang berbincang dengan Nadhea. Mereka memberikan komentar tentang lukisan semalam—sangat pedas. Katanya, lukisan itu masih mentah dan tidak mengandung kesan. Mereka memberikan saran dan masukan yang sangat menggurui. Kaivan tidak senang mendengarnya.
"Rabun pasti 'tuh mata. Lukisan sekeren itu, malah dibilang mentah dan nggak ada kesan. Dasar belagu!" gerutu Kaivan dengan kesal.
Tanpa menyapa Nadhea atau juga seniman yang ada di sana, Kaivan melangkah pergi, dengan batin yang terus menggerutu.
Kaivan duduk di salah satu kursi, di sudut ruangan. Kendati di sekitarnya masih banyak tamu yang menikmati hidangan, tetapi Kaivan tidak tergoda sama sekali. Dia terus memikirkan kritikan sang seniman, yang menurutnya pasti melukai Nadhea.
Setelah cukup lama larut dalam pikiran yang menjengkelkan, Kaivan kembali bangkit. Kali ini, dia menemukan ide terbaik untuk menghibur dirinya dan juga Nadhea.
"Aku pastikan dia akan tersenyum setelah ini." Kaivan membatin sembari mengulas senyum lebar. Tak ada yang tahu dia akan ke mana, yang jelas langkah kaki makin meninggalkan galeri.
__ADS_1
Bersambung...