Noda

Noda
Butuh Pelarian


__ADS_3

Langkah kaki Arsen terasa ringan kala menyusuri apartemen di pusat kota. Bagaimana tidak, dia akan menemui kekasihnya yang sudah dipacari selama enam tahun—Liora Patricia. Dalam kurun waktu lima tahun, mereka menjalani hubungan jarak jauh karena Liora mengejar karier di New York. Arsen mengulas senyum lebar ketika tiba di depan pintu. Sampai sekarang dia tetap positive thinking walau dalam satu tahun terakhir Liora seakan membentangkan jarak di antara mereka.


Sepuluh detik setelah Arsen memencet bel, pintu aparteman terbuka. Tampak di sana wanita cantik memesona sedang berdiri menatap Arsen. Lekuk tubuhnya terlihat jelas karena hanya dibalut dress tipis yang panjangnya jauh di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat meriap menutupi bahu yang tanpa tertutup kain.


"Silakan masuk, Arsen!" Liora membalikkan badan dan hendak melangkah menuju sofa. Namun, gerakannya terhenti karena Arsen menarik tangannya.


"Aku merindukanmu, Sayang," ucap Arsen. Namun, Liora tak menyahut, hanya menyunggingkan senyuman tipis.


Tanpa basa-basi, Arsen melangkah lebih dekat dan merengkuh pinggang Liora. Wanita itu dibawa ke pelukannya dan didekap dengan erat. Akan tetapi, semua itu tak berlangsung lama. Arsen melepaskan pelukannya karena sama sekali tak mendapatkan balasan. Liora tetap berdiri tanpa menggerakkan tangannya, justru mengatupkan bibir walau Arsen terus mengutarakan rindu.


"Sayang, kenapa?" Senyuman Arsen memudar. Dia menangkap firasat buruk dalam sikap Liora.


"Duduklah! Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu!"


Arsen menurut dan duduk di sofa, Liora pun melakukan hal yang sama. Namun, dia tidak duduk di sebelah Arsen, melainkan di hadapannya. Arsen sekadar diam sembari menilik wajah Liora yang lebih cantik dari enam tahun lalu. Akan tetapi, wanita itu tidak membalas tatapannya, justru sibuk sendiri dengan ponsel.


"Sayang!" panggil Arsen.


Liora mendongak dan kemudian meletakkan ponselnya. Lantas memandang Arsen dengan tatapan dingin.


"Aku ingin kita berakhir," ucapnya tanpa basa-basi.


"Apa maksudmu?"


"Cukup sampai di sini saja hubungan kita, Arsen. Aku tidak bisa lanjut denganmu," jawab Liora.


"Kenapa, Sayang? Apa salahku?" tanya Arsen dengan jantung yang berdetak cepat. Dia amat mencintai Liora, sangat tidak rela bila berpisah dengannya.

__ADS_1


"Kamu sudah menikah."


"Sayang, kamu tahu, kan, alasanku menikah? Aku hanya disuruh Mama, aku tidak bisa menolak karena saat itu beliau sedang sakit keras. Aku menyuruhmu pulang, tapi kamu tidak mau dan mementingkan karier. Lalu, kamu malah menyuruhku nikah kontrak dengan orang lain. Akhirnya, dengan sangat terpaksa aku melakukan itu. Tapi, kamu juga tahu. Selama lima tahun menikah, aku tidak pernah menyentuh Dhea. Bahkan, kami juga tidak tinggal satu kamar. Masihkah itu jadi masalah, Sayang?" terang Arsen dengan panjang lebar.


"Menyentuh atau tidak, aku juga tidak tahu. Kamu di sini dan aku jauh di sana," sahut Liora.


"Kamu meragukan aku?" tanya Arsen, yang kemudian ditanggapi dengan lirikan sekilas oleh Liora.


"Selama ini, aku tidak pernah mengabaikan telepon ataupun pesan darimu. Walaupun berjauhan, aku selalu ada untuk kamu. Apa itu masih tidak cukup untuk dijadikan bukti? Jika iya, ayo ajak Dhea ke rumah sakit. Akan kupastikan bahwa dia masih perawan."


Lagi-lagi Liora tak menyahut, hanya memutar bola matanya dengan jengah. Di hadapannya, Arsen terus menjelaskan tentang kesungguhan cintanya, yang sontak saja membuat Liora makin risih.


"Oke, 'kan aku jelaskan alasan yang sebenarnya!" kata Liora setelah tersudut.


Arsen menatapnya dengan lekat.


"Kamu mengkhianatiku? Inikah tujuanmu menyuruhku kemari?"


"Iya. Aku ingin mengucap kata putus, tapi kurang nyaman kalau hanya lewat ponsel." Liora beranjak. "Sekarang semua sudah jelas, jadi pergilah! Cintai istrimu saja, kurasa dia cukup cantik untuk kamu," sambungnya.


"Aku tidak percaya ini, Liora. Kamu hanya bercanda, kan?"


Liora tak menjawab, tetapi langsung melangkah pergi. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan membawa buku nikah serta surat keterangan hamil. Dua barang yang menyakiti mata Arsen.


"Sial! Dia benar-benar brengsek!" umpat Arsen usai mengingat kejadian buruk itu. Masih tidak menyangka kalau Liora tega mengkhianatinya.


Setelah menghempas bayangan Liora, Arsen mengingat awal pernikahannya dengan Nadhea. Dia menikah dengan perempuan itu atas bantuan relasi bisnis. Ketika ada proyek di Surabaya, salah satu rekan mengenalkannya pada Nadhea, yang kebetulan sedang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah itu. Selain memperkenalkan, rekannya juga menceritakan tentang kehidupan Nadhea yang sangat diabaikan oleh keluarganya. Bahkan, sebagai majikan saja, membutuhkan waktu satu tahun untuk mengetahui identitas Nadhea yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kita jadikan pernikahan ini sebagai hubungan yang saling menguntungkan. Aku akan mengangkat derajatmu dan membawamu tinggal jauh dari keluarga. Kamu tidak perlu merasakan sakit karena diabaikan, sebaliknya di sana orang-orang akan menghargaimu sebagai Nona Muda Osric. Aku tidak akan menyentuhmu, tapi bersikap baiklah di hadapan orang tuaku dan juga di hadapan publik. Kita harus terlihat seperti suami istri yang sebenarnya," kata Arsen waktu itu.


Entah karena lelah diabaikan dan direndahkan, atau ada alasan lain, yang jelas Nadhea menerima tawaran itu. Bahkan, dia tidak keberatan ketika Arsen merencanakan perceraian apabila Liora sudah pulang.


"Jika ada lelaki yang kamu cintai, bicara saja padaku. Aku akan mendukungmu. Aku tidak membatasi pergaulanmu, tapi tolong, jangan tunjukkan pada publik. Aku tidak ingin tersebar berita miring tentang hubungan kita," ucap Arsen ketika Nadhea sudah sah menjadi istrinya.


Pernikahan yang tidak wajar itu berjalan lancar. Tidak ada yang curiga dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Bahkan, orang tuanya pun percaya saat Arsen menjelaskan bahwa kala itu sedang menjalani perawatan hormon, sehingga belum bisa memiliki keturunan dalam waktu dekat. Arsen dan Nadhea menjalani keseharian sebagai seorang teman. Bila malam tiba, keduanya masuk ke kamar masing-masing dan bertemu kembali esok pagi.


Selama lima tahun, Nadhea tak pernah menyukai lelaki lain. Hari ini adalah pertama kalinya Nadhea mengungkapkan hal itu. Andai saja Liora masih seperti dulu, mungkin Arsen tidak masalah, justru bahagia karena bercerai pada saat yang tepat. Akan tetapi, sekarang Liora telah berkhianat. Hati Arsen kacau dan senantiasa diliputi amarah, sampai berdampak pada Nadhea. Walaupun tidak ada rasa untuknya, tetapi Arsen tidak rela jika wanita itu mengejar cintanya.


"Aku butuh pelarian," gumam Arsen di tengah napas yang memburu.


"Aku kutunjukkan pada Liora bahwa aku pun bisa melakukannya. Dia hamil dengan orang lain, aku juga akan menghamili wanita lain. Kamu akan menyesal, Liora!" batin Arsen.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi diketuk dari luar. Arsen menoleh dan melangkah ke sana.


"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Nadhea dari luar.


Arsen membuka pintunya dengan lebar, "Kita pulang malam ini."


"Pulang?" Nadhea mengernyitkan kening.


"Iya. Ada urusan penting yang harus kukerjakan," jawab Arsen.


"Baiklah." Nadhea tersenyum lebar, tanpa menduga bahwa ada bahaya yang sedang mengintainya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2