Noda

Noda
Aluna Aldamaya


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu sejak Kaivan mendaki Puncak Rinjani. Sejak saat itu, dia mengesampingkan sejenak hobi travelling-nya. Dia fokus dengan pendidikan dan pekerjaan.


Tahun lalu, dia berhasil menyandang gelar sarjana. Meski sedikit terlambat, tetapi akhirnya tercapai jua. Setelah wisuda, Kaivan mulai bekerja tetap. Dia bergabung dengan Beauty Wedding Organizer dan menjabat sebagai fotografer. Kaivan bekerja di sana bersama Kennan, sedangkan Elbi ikut kakaknya ke luar negeri. Sekarang, bukan lagi motor besar yang menjadi kendaraan kesayangan Kaivan, melainkan mobil Pajero hitam.


Sejak lima bulan lalu, Kaivan mulai membuka hati untuk seorang gadis. Pertemuan pertama di sebuah acara pernikahan, menyisakan kesan yang amat dalam di hati Kaivan. Kala itu, dia sedang memotret di sana dan gadis itu hadir sebagai bridesmaid. Menurut pandangan Kaivan, wajah ayu dan lembutnya mengalahkan perempuan yang menjadi ratu dalam acara itu.


Karena sangat terpesona, Kaivan memberanikan diri untuk menyapa dan ternyata gadis itu sangat ramah. Dia adalah Aluna Aldamaya, putri dari Prawira Bagaskara—pebisnis besar di Kota Surabaya—pemilik Victoria Group. Victoria Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri. Sejak tahun lalu membuka cabang di Kota Malang dan Luna yang menjadi direktur di kantor tersebut.


"Bisa memiliki kamu, rasanya masih seperti mimpi, Luna," gumam Kaivan. Dia mengulum senyum sambil memandangi foto Luna yang dipajang di atas meja.


Setelah berjuang selama empat bulan, akhirnya Kaivan berhasil meluluhkan hati Luna. Gadis itu resmi menerima cintanya pada bulan lalu. Kaivan ingat benar betapa bahagia hatinya saat itu. Cinta pertama dan ternyata tidak membuat kecewa.


"Semoga hubungan kita berakhir di pelaminan, Luna." Kaivan kembali bergumam.


Terlalu larut dalam sebingkai foto, Kaivan sampai tak sadar dengan kehadiran seseorang. Tiba-tiba saja dia sudah duduk merapat di sebelah Kaivan.


"Aku kalah cantik sama dia," ucap gadis ayu nan manis yang selalu menutup rambutnya dengan kerudung, siapa lagi kalau bukan Athreya.

__ADS_1


"Tiba-tiba nongol aja," sahut Kaivan.


"Aku tadi udah permisi, tapi Kak Kai nggak jawab," kata Athreya.


"Iyakah?" Kaivan tersenyum lebar.


Athreya menghela napas panjang, lantas menunduk dan meremas rok panjang yang dikenakannya. Sejak tiga tahun terkahir dia berjauhan dengan keluarganya—menempa pendidikan di Ibu Kota. Tahun ini, dia sudah menamatkan bangku SMA dan menjadi mahasiswi. Dengan segudang prestasi yang dia capai, Athreya berhasil masuk di universitas favorit, di Ibu Kota. Minggu depan, dia kembali ke sana dan mulai masuk kuliah.


"Jatuh cinta yang wajar itu gimana sih, Kak?" tanya Athreya yang lantas membuat Kaivan mengernyit heran.


"Kamu udah jatuh cinta?" Kaivan balik bertanya.


"Lalu kenapa menanyakan itu?" Kaivan kembali bertanya.


"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu," jawab Athreya sambil membuang pandangan.


"Athreya, katakan saja! Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu," ujar Kaivan. Dia menilik tingkah adiknya yang sedikit lain.

__ADS_1


Terselip rasa khawatir dalam benak Kaivan. Athreya sudah remaja dan hampir dewasa. Selama ini menjalani kehidupan yang jauh di sana. Orang tuanya hanya kadang kala mengunjungi, tidak bisa mengawasi setiap hari seperti dulu. Walaupun di sana ada pamannya, tetapi pasti berbeda dengan orang tua kandung. Mungkinkah Athreya telah mengalami sesuatu yang kurang baik?


"Tidak ada, Kak. Aku hanya ingin tahu aja, karena ... kelihatannya Kak Kai sangat bahagia setelah pacaran dengan Kak Luna." Athreya beranjak sambil berusaha tersenyum. "Nanti titip salam ya untuk Kak Luna," sambungnya.


"Athreya, tunggu!" teriak Kaivan ketika Athreya mulai menjauh.


"Tidak ada sesuatu, Kak. Beneran, aku sekedar penasaran aja," jawab Athreya tanpa menghentikan langkah.


"Athreya!"


"Aku mau istirahat, Kak." Athreya menoleh sekilas sambil mengulas senyum, berusaha meyakinkan kakaknya bahwa tak ada apa pun yang disembunyikan.


Awalnya, Kaivan berusaha mengejar. Namun, niatnya diurungkan setelah Athreya masuk kamar dan menutup pintu. Sembari mengembuskan napas kasar, Kaivan berbalik arah dan menatap jarum jam yang sudah menunjukkan angka 02.00 siang. Lalu, dia menyambar kunci mobil dan bersiap-siap menuju kantor Victoria. Kaivan akan menjemput Luna, mereka ada janji untuk jalan-jalan bersama.


Di balik pintu yang tertutup rapat, Athreya mendengarkan langkah Kaivan yang makin menjauh. Lalu, dia menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan gemetaran.


"Maafkan aku, Kak, belum bisa menceritakan semua ini walau hanya dengan Kakak," bisiknya.

__ADS_1


Athreya menunduk dan menyembunyikan wajahnya di kedua lutut. Dia menyesali sebuah hal yang tak bisa lagi diperbaiki.


Bersambung...


__ADS_2