
Sudah genap satu tahun Kaivan dan Luna menjalin hubungan. Cinta di antara keduanya makin tumbuh dan merekah. Masing-masing saling berkomitmen meski terkadang berjauhan. Tak sekali pun mereka cemburu atau curiga, keduanya pandai menjaga perasaan pasangan.
Kesungguhan dan keseriusan sudah dibuktikan. Bulan lalu, mereka bertunangan, sedangkan pernikahan akan dilangsungkan lima bulan lagi. Kedua keluarga saling setuju. Baik Prawira maupun Darren, tidak ada yang mencela calon menantu. Bagi mereka, pilihan anaknya adalah yang terbaik.
Pesta pertunangan digelar di Surabayaโdi rumah Prawira, sangat meriah dan dihadiri beberapa orang penting, termasuk rekan bisnis Darren. Banyak di antara mereka yang memuji keserasian Luna dan Kaivan. Selain cantik dan tampan, keduanya sama-sama konglomerat. Yang satu direktur dan satunya lagi fotografer sekaligus owner Romantic Resto. Berkat bantuan Reyvan, Kaivan berhasil mengembangkan restorannya dan sekarang masuk jajaran rekomendasi terbaik di Kota Malang. Meski demikian, Kaivan tetap bekerja di Sunny Wedding Organizer, karena dunianya memang fotografi.
Akan tetapi, ada juga yang merasa iri dan kecewa karena gagal bersanding dengan mereka. Tak heran, Kaivan dan Luna adalah sosok yang istimewa, tentu banyak yang menyukainya. Baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Bahkan, tak jarang juga masih berusaha mendekati meski mereka sudah bertunangan.
"Maaf, aku sudah punya pasangan." Jawaban Kaivan dan Luna ketika ada seseorang yang menyatakan perasaan. Biasanya, mereka menjawab demikian sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis.
"Aku udah nggak sabar untuk menikahimu, Luna," batin Kaivan sambil menatap layar ponsel. Dia dan Luna sedang bertukar pesan, mencurahkan perhatian lewat tulisan.
Sejak selumbari, Luna pulang ke rumah orang tuanya, sedangkan Kaivan tidak ikut karena ada pemotretan di Kota Batu. Untuk sementara mereka menahan rindu, memadu cinta sekadar lewat maya.
"Cie yang udah ngebet nikah, dipantengin terus tuh chat dari calon bini," goda Kennan yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Kaivan.
"Apaan sih." Kaivan menyahut asal sambil menyimpan ponselnya.
Saat ini, mereka sudah berada di lokasi dan alat-alatnya pun sudah disiapkan, tinggal menunggu calon mempelai yang masih dimekap. Pemotretan kali ini bukan acara pernikahan, melainkan pre wedding.
"Kai!" panggil Kennan beberapa saat kemudian.
"Hmmm."
"Cewek yang waktu itu gimana ya kabarnya?" Kennan bertanya sambil duduk di depan Kaivan.
"Cewek mana?" Kaivan balik bertanya.
__ADS_1
"Yang ketemu kita di Rinjani, yang katanya suka sama kamu. Sedih nggak, ya, andai tahu kamu udah tunangan," jawab Kennan.
Kaivan memutar bola mata, "Nggak pengin tahu kabarnya, cewek setengah gila."
"Katamu ... di pertemuan ketiga dia minta dinikahi. Kalau nanti beneran ketemu gimana?"
"Ck, apa sih, Ken, yang kamu pikirkan? Itu hanya bacotan dia, nggak ada persetujuanku. Mau ketemu mau enggak, aku nikahnya tetap sama Luna. Emang dia siapa, ketemu juga sebentar doang. Itu pun jadi biang masalah. Ikutan gila aku kalau nikahin dia," sungut Kaivan sambil melipat tangan di dada.
"Mengingat sikapnya yang barbar, aku jadi penasaran, apa yang akan dilakukan ketika ketemu kamu," ucap Kennan.
"Mikirmu kejauhan, Ken. Dia itu asli Bandung, sedangkan kita di Malang, jauh banget jaraknya. Kemungkinan ketemu itu sangat kecil, satu banding seratus," jawab Kaivan.
"Siapa tahu aja dia temannya saudara kamu, atau saudaranya tetangga kamu gitu." Kennan bicara sambil tersenyum. Merasa lucu saat menatap raut wajah Kaivan yang makin kesal.
"Kamu pikir ini sinetron, atau film, atau cerita novel gitu, yang segala sesuatunya saling berhubungan. Ini dunia nyata, Ken, luas. Nggak ada kebetulan yang seaneh itu," sahut Kaivan.
_____________
Tepat pukul 12.00 siang, Kaivan dan yang lainnya beristirahat sambil mengisi perut. Foto dengan tema indoor sudah selesai, tinggal tema outdoor yang akan dilakukan beberapa saat lagi.
Kennan langsung mengambil jatahnya dan menyantapnya dengan lahap. Tadi pagi, dia tidak sempat makan dan sekarang seperti orang kelaparan.
"Pelan-pelan, Ken, nggak ada yang minta," goda Kaivan.
"Kamu enak, tadi udah makan. Aku belum, Kai," sahut Kennan dengan mulut yang penuh.
"Siapa suruh jadi tukang molor." Kaivan mulai membuka jatahnya.
__ADS_1
"Mas Kaivan!" panggil Vitaโtim konsumsi.
"Iya, Vit." Kaivan menoleh dan menatap Vita.
"Sebelumnya maaf, aku mau minta tolong. Ini jatah untuk klien kita, aku ... udah nggak tahan. Mau ke kamar mandi, Mas." Vita meringis sambil memegangi perutnya.
Kaivan menatap ke sekeliling, semua kru sudah makan, tinggal dirinya saja yang belum. Akhirnya, Kaivan mengiakan permintaan Vita dan menyuruh gadis itu untuk bergegas pergi ke kamar mandi.
"Terima kasih, Mas!" teriak Vita sambil berlari.
"Aku tinggal dulu, Ken, titip jatahku. Jangan dimakan!" kata Kaivan sebelum beranjak.
"Kamu pikir aku perut karet!" sahut Kennan dengan intonasi tinggi.
Kaivan tertawa renyah sambil berjalan menjauhi Kennan. Dia menuju ruangan tempat klien beristirahat.
Karena jaraknya tidak terlalu jauh, Kaivan tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di sana. Usai mengucap 'permisi', Kaivan melangkah masuk dan menghampiri mereka.
Selain calon mempelai, ada dua orang lagi di ruangan itu. Yang satu wanita paruh bayaโibu dari calon mempelai wanita, yang tadi ikut menyaksikan jalannya pemotretan. Sementara yang satu lagi adalah gadis muda, yang kemungkinan besar adalah adiknya. Namun, entah ke mana saja tadi, Kaivan baru melihatnya detik ini.
"Ini jatah___"
Ucapan Kaivan terhenti setelah menatap si gadis muda. Ada satu hal dalam dirinya, yang membuat Kaivan terpaku seketika.
Bersambung...
Mmmm ... anu, ini aku mau tanya. Ada nggak yang nebak kalau Nadhea dan Luna adalah orang yang sama?
__ADS_1
Cuma nanya loh ya, cuma nanya๐๐๐๐๐๐๐๐๐