Noda

Noda
Sebelas Digit


__ADS_3

Lima adalah angka pertama yang ada di sana, diikuti deretan angka nol sebanyak sepuluh. Bukan jumlah yang sedikit, bahkan Nadhea belum pernah melihat uang sebanyak itu. Maklum, dulu dia diabaikan oleh ayahnya. Jadi, tidak pernah tahu sebanyak apa harta keluarga.


"Lima puluh miliar. Mas ... Mas Arsen, kenapa tabungan sebanyak ini yang kamu berikan padaku?" batin Nadhea. Dia celingukan ke sana kemari, khawatir ada yang mengintip walaupun itu mustahil.


Lantas, dengan gerakan cepat Nadhea mengeluarkan kartu itu dan menyimpannya kembali dalam tas. Dia melangkah keluar dengan waswas, takut ada orang jahat yang merebut paksa kartu kreditnya. Padahal, itu adalah kemungkinan yang sangat kecil terjadi, penampilannya sederhana, siapa yang akan mengira dia banyak uang.


Dengan pikiran yang masih tak karuan, Nadhea segera menuju supermarket. Ketika belanja, dia sangat gugup, beberapa kali menjatuhkan barang, juga menabrak pembeli lain. Nadhea sekadar tersenyum sambil mengucap kata maaf, tak menanggapi meski di antara mereka ada yang mengomel.


"Cepat belanja dan pulang. Lebih mudah menenangkan diri kalau di rumah," batin Nadhea.


_______________


Belum genap pukul 09.00, Nadhea sudah tiba di rumahnya. Senyuman dari sang ayah yang sedang duduk di ruang tamu membuat Nadhea makin gugup. Perasaannya kacau, bingung harus memilih keputusan yang mana—bercerita atau tidak.


"Nak, kamu sudah pulang?" sapa Prawira dengan senyum yang makin mengembang.


"Iya, Pa." Nadhea menjawab sembari mencengkeram kantong belanja yang belum sempat diletakkan.


"Duduklah! Biar Papa yang menyimpan ini, sekalian kuseduhkan teh krisan, sepertinya ... keadaanmu kurang baik." Prawira beranjak dan kemudian meraih kantong belanjaan di tangan Nadhea.


"Tapi, Pa___"


"Tidak apa, Nak. Sekali-kali Papa yang bantu kamu," potong Prawira.

__ADS_1


Nadhea tak lagi membantah, pasalnya pria paruh baya itu sudah berlalu dari hadapannya. Tak ada pilihan, Nadhea langsung duduk dengan pandangan mata yang tak beralih dari tasnya.


Hampir lima belas menit, Nadhea terus menunduk sembari memikirkan jumlah nominal yang dalam waktu singkat menjadi miliknya. Sampai-sampai ia tak sadar dengan kehadiran ayahnya. Setelah pundaknya ditepuk, Nadhea tersentak dan lagi-lagi gugup menghadapi sang ayah.


"Minumlah!" perintah Prawira.


Nadhea tersenyum dan kemudian meneguk tek krisan buatan ayahnya. Rasa hangat dan manisnya cukup memanjakan tenggorokan, tetapi tidak mengurangi beban pikiran.


"Pa, tadi ... Pak David ke sini," ujar Nadhea beberapa saat kemudian. Dia memutuskan untuk bicara perihal uang dari almarhum suami.


"Simpanlah dengan baik, Nak! Setelah hatimu tenang, gunakan untuk membuka usaha," sahut Prawira. Dia mengerti benar apa yang membuat Nadhea gundah.


"Papa tahu?"


"Sebelas digit, Pa," gumam Nadhea.


Prawira mengangguk-angguk. Baginya, itu bukan jumlah yang mengejutkan. Mengingat sikap Arsen pada pertemuan terakhir, yang sempat mengancam dirinya. Tentu saja itu terjadi karena Arsen sangat mencintai anaknya, dan dengan cinta, tidak mungkin tidak memikirkan masa depan.


"Bisnis Papa sedang tidak baik, bagaimana kalau uang ini___"


"Tidak, Nak, itu hakmu," pungkas Prawira dengan cepat. "Bisnis Papa biarkan menjadi urusan Papa. Sedangkan uangmu, simpan dan gunakan untuk membuka bisnismu sendiri."


"Tapi, aku nggak bisa, Pa." Nadhea menatap ayahnya.

__ADS_1


Prawira menghela napas panjang, "Bukan tidak bisa, melainkan belum bisa. Maafkan Papa yang dulu tidak memberimu kesempatan."


Nadhea terdiam, belum tahu harus menjawab apa.


"Jika kamu sudah siap, Papa akan mengajarimu teori bisnis. Papa janji akan telaten dan tidak berhenti sampai kamu bisa." Prawira menepuk bahu Nadhea. "Bukankah kamu sangat hobi melukis, ini adalah kesempatan untuk mengembangkan dan menunjukkan hobimu," sambungnya.


"Melukis?" Sorot mata Nadhea perlahan berbinar, seiring pikiran yang mulai berkhayal tentang karya lukisnya yang dipandang orang.


"Apakah ... aku bisa, Pa?" sambung Nadhea setelah tersadar dari khayalan.


"Jika kamu bersungguh-sungguh, kenyataan akan lebih baik dari yang kamu impikan. Percayalah!" jawab Prawira.


Nadhea tersenyum girang dan kemudian menghambur ke pelukan ayahnya.


"Terima kasih banyak, Pa," ucapnya.


"Jangan berterima kasih, Nak, seharusnya Papa melakukan ini sejak dulu."


"Jangan mengungkit masa lalu, Pa. Aku sangat bahagia sekarang." Nadhea mengusap punggung Prawira yang sedikit kurus.


"Papa juga bahagia, Nak." Prawira tersenyum haru. "Tuhan sangat pemurah, pria bodoh sepertiku masih diberi sempat untuk memeluk anak sebaik kamu. Maafkan Papa, Nadhea," sambungnya dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2