Noda

Noda
Beban Hidup


__ADS_3

Mobil hitam milik Kaivan berhenti tepat di halaman Kantor Victoria. Sebelum turun, Kaivan menatap sejenak ke arah bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya.


Sesungguhnya, terselip rasa insecure di dalam sudut hati. Bagaimana tidak, dirinya sekadar fotografrer, sedangkan Luna seorang direktur. Walaupun Sunny Wedding Organizer termasuk Wedding Organizer terbesar di Kota Malang, tetapi gaji yang dia dapat tidak sebanding dengan gaji direktur. Terlebih lagi, Luna adalah perempuan cantik dan cerdas, sangat bertolak belakang dengan dirinya yang payah, yang tak memiliki kelebihan apa-apa selain andal memotret.


"Sekarang aku paham apa maksud Papa dulu. Profesi ini kurang menjanjikan untuk mencari jodoh. Tapi, mau bagaimana lagi, hanya ini yang aku bisa." Kaivan menghela napas panjang. "Semoga saja Luna tidak mempermasalahkan hal ini," sambungnya.


Usai menata hati, Kaivan turun dan melangkah memasuki kantor. Kehadirannya mengundang perhatian beberapa perempuan yang bekerja di sana. Kaivan memang tampan nan rupawan, makin dipandang makin manis, cocok sebagai suplemen hati. Selain wajah mulus dan hidung mancung, Kaivan juga memiliki rambut hitam dan lurus, dipotong dengan gaya taper cut ala-ala bintang Korea.


"Selamat siang, Pak Kaivan," sapa beberapa karyawan perempuan.


"Selamat siang. Bu Luna ada, kan?" jawab Kaivan dengan ramah.


"Ada, Pak, di ruangannya. Langsung masuk saja," kata salah satu karyawan.


Sejak resmi menjalin hubungan, Luna memperkenalkan Kaivan sebagai kekasih. Tak heran bila sekarang semua karyawan menghormatinya.


"Terima kasih." Usai melemparkan senyuman, Kaivan melanjutkan langkah dan menuju ruangan Luna.


Beberapa karyawan menatap punggung Kaivan yang makin menjauh. Mereka mengagumi dalam diam, tanpa berani mengutarakan. Meski terkadang merasa iri dan ingin sehari saja menjadi pacar Kaivan, tetapi apa bisa dikata. Kaivan adalah kekasih Luna—atasan mereka, siapa yang berani bersaing dengannya.


Selain kaya raya, Luna juga cantik dan anggun. Kulitnya putih mulus tanpa cela, postur tubuhnya ideal bak bintang layar lebar. Hidung mancung, pipi berlesung, bibir mungil nan ranum. Rambutnya hitam panjang dan curly di bagian bawah, tampak indah dengan paduan poni samping yang selalu tertata rapi.


Kaivan tersenyum ketika tiba di depan ruangan Luna. Sebelum mengetuk pintu, dia terlebih dahulu membenarkan tatanan rambut dan jam tangan silver yang selalu melingkar di lengannya.


"Udah tampan kayaknya," gumam Kaivan.

__ADS_1


Lantas, dia mengetuk pintu dan tak lama kemudian Sarah membukanya dari dalam. Sarah adalah sekertaris Luna.


"Silakan, Pak!" ucap Sarah sambil berjalan keluar.


Kaivan mengangguk. Lalu melangkah masuk dan menghampiri Luna, yang kala itu sedang membereskan beberapa berkas di mejanya. Untuk kesekian kali Kaivan terpesona dengan penampilan Luna. Celana putih panjang, dipadukan dengan kemeja panjang warna senada. Rambutnya digerai dan sebagian meriap di bahu. Pipi kemerah-merahan, bibir dipoles lipstik warna pink, serta pelupuk mata dihiasi eye shadow warna cokelat terang. Kombinasi yang cocok dengan alis hitam nan tebal.


"Sebentar, ya, aku rapikan ini dulu," ujar Luna.


"Iya." Kaivan tersenyum sambil mendaratkan tubuhnya di kursi, menikmati wajah ayu memesona yang sesekali mengeluarkan suara merdu.


"Jangan dilihatin terus, nanti bosen loh," tegur Luna sambil tertawa renyah. Pipinya makin merona karena tersipu.


"Sama kamu nggak ada bosennya,, Luna," jawab Kaivan.


"Ish, gombal kamu, Kai." Luna sedikit berpaling, tak ingin menunjukkan wajahnya yang makin merah.


Luna terkekeh-kekeh, lantas meminta izin sebentar untuk ke kamar mandi. Kaivan mengiakan dan kembali mengulas senyum termanis. Kaivan tak mengalihkan tatapan sampai tubuh Luna menghilang di balik pintu.


"Kamu selalu membuatku terpesona, Luna. Jangan tinggalin aku, ya. Aku sangat mencintai kamu," gumam Kaivan.


Ketika Kaivan masih asyik memandangi daun pintu, tiba-tiba ponsel milik Luna bergetar. Karena penasaran, Kaivan menoleh dan sedikit beranjak. Dia ingin tahu siapa yang menelepon kekasihnya.


Tak lama kemudian, Kaivan mengernyitkan kening. Nama kontak sang penelepon adalah 'Beban Hidup', siapa kira-kira dia dan apa hubungannya dengan Luna?


Kaivan terus bertanya-tanya sampai getar telepon berhenti dengan sendirinya. Meski sangat penasaran, tetapi Kaivan tak ada keberanian untuk menerimanya. Dia tidak ingin Luna kecewa dan menganggap lancang.

__ADS_1


Bersambung...


Ada yang tahu siapa kira-kira 'Beban Hidup' itu? Aku kasih pilihan ya...


A. Anaknya Luna


B. Suaminya Luna


C. Mantannya Luna


D. Yang Lain


Oh ya, aku sekalian promosi ya. Jangan dimarahin, aku orangnya baperan, eitss salah, laperan.


Udah tanggal 15 loh, tiga hari lagi tutup PO. Yakin nih nggak ada yang minat? Nggak ada yang penasaran gitu sama akhir kisah Vander?


Cuma 80.000 saja kok, hemat lah. Atau kalau mau lebih hemat, ambil paket bundling aja (Padam Suluh Jiwa + Elegi Cinta Aynara), 150.000 saja. Kalau beli satu-satu totalnya 170.000, kalau langsung ambil dua aku kasih diskon 20.000, jadi untuk dua buku cukup bayar 150.000 saja. Lebih hemat, kan?


Hayukk ya buruan, mumpung masih ada waktu dan masih ada stok. Mau langsung order atau tanya-tanya dulu boleh banget. Chat di nomor yang tertera aja, insya Allah fast respon. Atau kalau enggak, chat aja di akun F*B-ku. Nama akun sama dengan nama pena—Gresya Salsabila.


Aku tunggu ya, Kakak-Kakak semua.


(Yang pengin baca sebagian kisah Padam Suluh Jiwa dan Elegi Cinta Aynara, klik aja profilku. Sebagian kisahnya aku up di aplikasi ini).


Terima kasih.

__ADS_1




__ADS_2