
"Kenapa, hmm?"
Aku terkesiap. Kak Darren bertanya sembari meraih daguku. Ekor matanya menatap tajam dan sesekali melirik ke arah Daniel.
"Tidak apa-apa, aku___"
"Aku mencintaimu, Sayang. Jangan membuatku membencinya," pungkas Kak Darren dengan bisikan.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku milikmu, Kak," jawabku juga dengan bisikan. Tak lupa kuulas senyum lebar, guna menenangkan hatinya yang mungkin cemburu.
"Maaf jika aku berlebihan." Kak Darren membalas senyumku. "Ya sudah, ayo minta restu sama Mama-Papa, Ibu, dan Bunda juga," sambungnya.
Aku mengangguk dan mulai beringsut mendekati Ibu dan Mama Renata. Meskipun di satu sudut Daniel menatap sendu, aku mencoba mengabaikannya. Aku tak ingin menyinggung Kak Darren untuk yang kedua kali.
Kak Darren langsung menyalami Mama Renata dan memeluknya dengan erat, sedangkan aku berhenti di hadapan Ibu dan bersujud di pangkuannya. Bayang-bayang kesalahan yang kulakukan di waktu lalu, mengundang air mata dan membuatku tak ada daya untuk mengangkat kepala.
"Nak, sudah, jangan menangis. Ini hari bahagiamu, jangan diwarnai dengan air mata. Ayo bangkit, Ibu ingin melihat senyummu," bisik Ibu di dekat telingaku.
Namun, aku tak lantas mendongak. Dalam beberapa detik aku tetap di posisi semula.
Ibu pun tak memaksa, beliau mendekap kepalaku dan mengusapnya dengan lembut.
Dua menit berlalu, aku mulai mengangkat kepala. Lantas kujatuhkan tubuhku dalam rangkulan Ibu.
"Senyum, jangan nangis terus. Ini hari pernikahan, jangan diisi dengan kesedihan," ucap Ibu.
"Maafkan aku, Bu."
Kendati banyak hal yang ingin kulontarkan, tetapi hanya tiga kata yang mampu kuucapkan. Sesak di dada membuatku kesulitan mengeluarkan suara.
"Apa yang membuatmu minta maaf, Nak? Tidak ada yang salah dalam dirimu, justru Ibu yang banyak menyulitkanmu. Maafkan Ibu, ya Kirana." Ibu mengusap punggungku. "Sekarang kamu sudah menikah, berbaktilah pada suamimu. Ridhonya yang akan mengantarmu menggapai surga. Kirana, jangan lagi mengungkit kesalahan yang telah lalu. Sadarlah, Allah telah meninggikan derajatmu dengan mengirim imam sebaik Darren. Ibu merestui pernikahanmu. Ibu doakan semoga rumah tanggamu sakinah mawaddah warahmah. Semoga ini menjadi awal yang indah untuk hidupmu, Nak."
"Amin, terima kasih banyak, Bu. Maafkan aku yang belum bisa membalas kebaikan Ibu," ujarku tanpa melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan. Kamu adalah yang terbaik, Nak."
Tak lama kemudian, Ibu melepaskan pelukan dan mengusap titik-titik air mata yang masih membasahi pipiku. Lantas beliau tersenyum dan menyuruhku meminta restu pada Mama Renata, kebetulan Kak Darren sudah selesai melakukannya.
Kepada Mama Renata, aku pun melakukan hal yang sama, yakni menyalami sambil bersujud. Namun, air mataku tak sederas tadi.
"Mama, terima kasih sudah mengizinkanku menikah dengan Kak Darren. Bimbing aku agar bisa menjadi istri dan menantu yang baik. Restui pernikahan kami, ya, Ma."
"Mama juga berterima kasih, Nak. Mama bahagia kamu bersedia menikah dengan Darren. Kamu wanita istimewa, sudah tentu kamu menjadi istri dan menantu yang baik. Mama sangat merestui pernikahan kalian. Mama doakan semoga rumah tangga kalian lancar dan selalu ada dalam lindungan-Nya. Semoga ini menjadi langkah awal untuk meraih masa depan."
Usai memberikan doa terbaik, Mama Renata membimbingku bangkit. Lalu memeluk dan mengusap-usap punggungku.
"Jika Darren membuatmu kesal, bicara saja sama Mama. Nanti Mama yang akan memarahinya," kata Mama Renata, yang lantas membuatku tersenyum simpul.
"Tidak mungkin Kak Darren melakukan itu, Ma. Dia sangat baik," jawabku.
Setelah cukup lama berpelukan, aku beralih mendekati Papa Fadhil. Menyalami dan meminta restu pada beliau. Lantas, aku pun menghampiri Bu Fatimah. Mengucap terima kasih, sekaligus meminta restu darinya. Tak lupa pula aku menyalami Mas Denis, Mas Bayu, Mbak Diana, dan Mbak Laras, juga kerabat-kerabat lain yang ikut hadir menyaksikan ijab kabulku.
"Kirana, Darren," panggilnya. "Aku izin pulang. Maaf tidak mengikuti acara hingga akhir, ada urusan yang tak bisa kutinggalkan."
"Pu ... pulang?" tanyaku.
"Iya." Daniel mengangguk.
"Tapi___" sahutku.
"Terima kasih sudah mengizinkanku hadir di acara pernikahanmu Selamat ya, Ra, semoga kamu bahagia." Daniel menatapku sambil tersenyum.
"Terima kasih." Aku menjawab pelan. "Semoga kamu pun bahagia, Niel," sambungku dalam hati.
"Ren, selamat ya. Aku titip Dara dan___" Daniel menggantungkan kalimatnya. Lantas mendekati Kak Darren dan berbisik di telinganya.
Kak Darren tak menjawab, hanya mengangguk pelan dengan raut wajah yang datar. Entah apa yang Daniel bisikkan.
__ADS_1
Di antara bising berbincangan, kulihat langkah Daniel makin menjauh. Dalam hati aku memanjatkan doa untuk kebahagiaannya. Aku berharap masa lalu yang kami lalui tak menjadi kendala untuk masa depannya.
Tak ingin merusak suasana, aku tidak mempertanyakan apa yang Daniel bisikkan. Aku justru menggandeng tangan Kak Darren dan mengajaknya bergabung dengan keluarga yang lain. Lantas kami menikmati jamuan yang telah disediakan.
Usai makan bersama, aku kembali ke kamar. Menyimpan beberapa hadiah, sekaligus mengganti baju. Sebentar lagi masuk waktu dzuhur, aku hendak bersiap lebih awal.
Aroma mawar dan melati menyeruak ke dalam hidung kala aku membuka pintu kamar. Tanpa dipinta, pipiku merona dan detak jantung pun makin tak karuan. Ada apa dengan diriku?
Pikiranku terus menerawang seiring langkah kaki yang membawaku ke dekat ranjang. Kemudian kuletakkan kotak hadiah di sana, lalu kupandangi sprei putih yang bertabur kelopak mawar.
"Aku sangat gugup," bisikku.
"Aku temani ya, biar nggak gugup."
Hangat lengan tiba-tiba melingkar di pinggangku, juga embusan napas yang menyembur menembus kerudung yang menutupi leherku. Tanpa menoleh pun aku tahu siapa ia, Darren Alfando—suamiku.
"Kak ... Kak Darren," panggilku dengan gugup.
Entah sejak kapan ia datang. Sedari tadi aku tak mendengar pintu dibuka, apalagi langkah kaki. Tetapi tiba-tiba ia di belakangku dan memelukku dengan erat.
"Sayang, apa kamu tidak gerah memakai pakaian ini?"
Belum sempat aku membuka suara, Kak Darren memberiku gigitan kecil di pundak. Kendati tertutup lengan kebaya dan kain kerudung, tetapi aku bisa merasakan hangat bibirnya.
"Kak, aku ... aku___"
"Aku merindukanmu, Sayang," pungkas Kak Darren, tanpa menghentikan tindakannya.
Walau di masa lalu aku pernah melalukan hal yang lebih dari ini, tetapi sekarang rasanya jauh berbeda. Gugup, malu, haru, dan entah apa lagi, sulit sekali mendefinisikan perasaanku saat ini. Sentuhan dan bisikannya membuat hatiku porak-poranda.
"Sebatas pelukan saja aku sekacau ini. Bagaimana nanti jika dia meminta lebih?" batinku dengan mata yang terpejam.
Bersambung...
__ADS_1