Noda

Noda
Happy Ending


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, tetapi Kaivan dan Nadhea baru saja masuk kamar. Pesta besar yang digelar cukup menyita waktu dan tenaga. Banyak rekan dan saudara yang anteng dan tidak segera beranjak. Itu sebabnya, Kaivan pun turut diam di sana. Tidak enak jika meninggalkan tamu undangan begitu saja.


"Padahal cuma menyalami tamu loh, tapi kok lelah ya," ucap Nadhea sembari menyimpan high hells ke dalam rak.


"Jangan bilang lelah dong, Sayang." Kaivan melirik Nadhea sambil melepas jas hitam yang membalut tubuhnya.


Nadhea tertawa renyah. Lantas, melepas kerudung dan sanggul tanpa memedulikan tatapan Kaivan yang penuh arti.


Merasa digoda, Kaivan mendekati Nadhea dan memeluknya dari belakang, sangat erat. Lagi-lagi Nadhea menunduk menahan malu.


"Istriku sangat pemalu, ya?" Kaivan menyelipkan rambut Nadhea ke belakang telinga. Kemudian, mengusap pipi mulusnya dengan mesra.


"Aku ... masih nggak percaya ini bisa terjadi. Menikah dengan kamu, rasanya seperti mimpi, Mas." Nadhea menjawab sambil menggenggam tangan Kaivan yang masih menempel di pipinya.


"Benarkah?" goda Kaivan.


"Ish, kamu ini, Mas. Jangan pura-pura nggak tahu, kamu loh udah paham kalau aku menaruh hati sejak di Rinjani. Iya kalau kamu, cintanya belakangan. Gitu bilang ke Luna katanya cinta lama bersemi kembali. Suka bohong deh." Nadhea pura-pura merajuk, dan hal itu membuat Kaivan makin gemas.


"Mungkin ... jatuh cintaku memang kalah awal, tapi ketulusannya nggak diragukan lagi, Sayang. Udah melebihi batas maksimal ini."


"Gombal," cibir Nadhea.


"Aku serius. Bahkan, sebenarnya awal pertemuan kita juga membuatku berkesan loh. Tahu nggak, hadiah dari kamu masih kusimpan sampai sekarang." Kaivan menaikkan alisnya. Dia sedikit berdusta demi melihat ekspresi malu di wajah Nadhea, yang menurutnya sangat menggemaskan. Sebenarnya, alat kontrasepsi waktu itu sudah dibuang dan yang ada sekarang adalah kontrasepsi yang baru dibeli beberapa hari lalu.


"Hadiah? Hadiah apa? Sebelum kita menjalin hubungan, aku tidak pernah memberikan hadiah." Nadhea mengernyitkan kening, sangat heran dengan ucapan Kaivan.


"Yang waktu di Rinjani, yang kamu selipkan di jaketku," jawab Kaivan.


"Di Rinjani? Jaket? Aku mencucinya dengan jasa laundry dan langsung kukasih alamat hotel tempat kamu, Mas. Waktu itu, Mas Arsen mengajakku kembali ke Bandung karena ada urusan mendadak terkait bisnisnya. Aku nggak menyelipkan apa pun, memangnya barang apa yang ada di jaket kamu?" Nadhea makin heran.


Kaivan membalikkan tubuh Nadhea dan menatapnya dengan lekat, "Kamu serius, Sayang?"


"Ya serius. Aku nggak ada waktu untuk nyuci sendiri, jadi pakai jasa laundry."


Mendengar jawaban Nadhea yang tak menyiratkan kebohongan, Kaivan mulai berpikir keras. Lalu, pikirannya tertuju pada satu orang yang menyemat gelar sahabat terdekat. Dulu, dialah yang satu kamar dengannya, dia pula yang pertama kali menerima paket jaket itu.


"Sayang, tunggu sebentar! Aku ada urusan dengan Kennan!" Kaivan langsung pergi sebelum Nadhea memberikan tanggapan.


Dengan tidak sabar, Kaivan bergegas keluar dan menuju kamar Athreya, yang ada di lantai bawah. Tanpa pikir panjang, Kaivan menggedor kamar itu, tak peduli meski mengganggu sang empunya, yang entah sedang tidur atau melakukan hal lain.

__ADS_1


"Ken, bangun! Kennan! Kennan!" teriak Kaivan.


Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka dari dalam, tampak di sana Kennan sedang menggaruk kepala. Selain wajah kusut dan rambut berantakan, ia juga bertelanjang dada, rupanya barusan sudah tidur.


"Kamu apaan sih? Mau tanya macam-macam gaya, ya?" tanya Kennan dengan asal.


Bukannya menjawab, Kaivan justru mendorong tubuh Kennan dan mengimpitnya di dinding. Tatapannya tajam seiring kepalan yang mengerat. Kali ini Kaivan kesal dengan candaan Kennan, yang menurutnya berlebihan. Selain merusak image Nadhea, hal itu juga membuatnya dihukum tanpa ponsel selama tiga bulan.


"Hei! Kamu apa-apaan sih, Kai?"


"Katakan apa yang kamu lakukan sewaktu di Rinjani? Apa yang kamu selipkan di jaketku?" tanya Kaivan dengan cepat.


Kennan tersenyum lebar, "Ops ketahuan. Sorry, maksudku biar kamu terkesan dan nggak melupakan dia. Melihat tingkahnya yang barbar dan bikin kamu kesal, aku merasa kalian cocok aja. Tapi, aku nggak nyangka sih kalau ternyata beneran berjodoh."


Kaivan makin jengkel dengan jawaban Kennan yang kelewat santai. Beruntung, dia masih bisa menguasai emosi dan tidak mendaratkan bogeman di wajah Kennan.


"Kamu dapat dari mana?" tanya Kaivan.


"Nemu di barang-barangnya Elbi."


"Jadi itu bekas bibirmu?" Kaivan kembali bertanya.


Kaivan menggeram, tetapi kekesalannya sedikit memudar. Dia membayangkan betapa konyolnya tingkah Kennan yang memakai lipstik hanya demi meninggalkan bekas di jaketnya.


"Mas Kennan!"


"Mas Kai!"


Teriak Athreya dan Nadhea secara bersamaan. Merek heran melihat pose Kennan dan Kaivan yang saling berimpitan, layaknya pasangan yang sedang kasmaran.


Kennan mendorong tubuh Kaivan agar beringsut menjauh, "Dia hanya tanya-tanya seputar ... itu, Sayang. Maklumlah belum berpengalaman."


"Kita ke kamar, Sayang!" ajak Kaivan seraya menggandeng tangan Nadhea.


"Mas, kamu kenapa? Kok kayak kesal gitu?" tanya Nadhea ketika di kamar.


"Nggak apa-apa, kok. Aku___"


"Soal hadiah tadi, aku masih penasaran loh, Mas," pungkas Nadhea.

__ADS_1


Kaivan berpikir keras, "Mmm itu ... anu. Di jaketku ada setangkai bunga. Kupikir dari kamu, ternyata Kennan yang iseng ngasih."


"Bunga?"


"Iya." Kaivan sengaja berdusta.


Nadhea menghela napas panjang, "Maaf ya kalau waktu itu aku bikin kamu jengkel, Mas. Aku cuma bosen aja dengan hidupku yang ... begitu. Aku kagum dengan kepribadianmu yang sangat menyayangi saudara, itu sebabnya aku iseng, setidaknya biar kamu ingat kalau kita pernah ketemu. Aku nggak nyangka kalau di kemudian hari kamu hampir jadi ipar dan sekarang malah jadi suami. Tahu gini, dulu aku nggak akan se-iseng itu."


"Sudah, jangan dibahas! Aku suka kok dengan sikapmu waktu itu. Bahkan, aku merindukanmu kebarbaranmu sekarang. Barbar di sana, kayaknya seru deh." Kaivan berbisik sambil menunjuk ranjang yang sudah dihiasi kelopak mawar dan bunga melati.


"Apaan sih, Mas!" Nadhea menunduk malu.


"Aku serius. Atau kalau nggak mau sekarang, nanti pas di Rinjani? Janji, ya?" goda Kaivan.


Lusa, mereka akan terbang ke Lombok dan mengulang kenangan di Rinjani. Sebenarnya, bulan madu ke sana bukan bagian dari rencana. Hanya saja, Luna memberikan hadiah tiket pesawat ke Lombok. Jadi, mereka memutuskan untuk menikmati waktu di tempat itu—tempat awal mereka bertemu.


"Nggak ah, itu bukan sifat asliku. Aku nggak bisa," tolak Nadhea.


"Baiklah, kalau gitu aku aja yang barbar. Oke?"


"Mas___"


Belum sempat Nadhea meneruskan kalimatnya, Kaivan sudah membungkamnya dengan ciuman. Kali ini, lebih agresif dibandingkan tadi siang.


Dalam waktu singkat, tubuh keduanya sudah terbaring di atas ranjang, di antara kelopak mawar dan melati yang harum mewangi—yang membangkitkan gairah hingga puncak tertinggi.


Seiring malam yang kian beranjak, keduanya kian hanyut dalam melodi kasih, menapaki langkah demi langkah yang bercucur peluh, sampai akhirnya tiba di batas taman impian. Senyum terkulum di bibir yang lelah meracau, keringat berjatuhan di sela wangi-wangi cinta. Keduanya terkulai dalam manis candu yang tak kasatmata.


(Adegan detailnya, menurut imajinasi masing-masing. Mau kutulis takutnya salah gaya, nanti pada encok.)


TAMAT


Terima kasih untuk Kakak semua yang masih setia dengan kisah Kaivan dan Nadhea hingga ending. Selama setahun lebih, akhirnya novel Noda bisa tamat tepat di 200 bab.


Semoga ada hal baik yang dapat dipetik dari kisah ini. Nggak banyak yang ingin aku sampaikan, intinya tetap semangat meski kita tidak berkesempatan menempa pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi. Tanpa pendidikan, bukan berarti tanpa masa depan. Masih ada banyak harapan, selagi kita berusaha dan berdoa.


Btw, jangan diunfav dulu ya novel Noda, masih ada ektra bab yang mau aku up.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2