
"May," panggilku beberapa saat kemudian.
"Sebenarnya ... aku pengin ngajak kamu makan-makan, juga ke rumah Mala, perempuan yang kutemui di bui. Ibunya memroduksi tas rajut, bagus-bagus, Ra. Aku mau beli couple-an sama kamu, biar kita kompak gitu, Ra. Itung-itung itu hadiah buat pernikahanmu." Mayra bicara panjang lebar tanpa mengangkat wajah.
"Mmm, ya udah, ayo kita pergi. Tapi ... bentar ya, aku telfon Kak Darren dulu," ujarku.
Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk menerima ajakannya, karena tak ingin membuatnya kecewa. Sebelum berangkat, aku terlebih dahulu meminta izin pada Kak Darren. Ia mengizinkan, walau awalnya juga heran mendengar Mayra bebas. Sebelum telepon terputus, Kak Darren berpesan padaku, yakni pulang sebelum senja dan senantiasa menghidupkan ponsel.
Setelah itu, aku mengganti baju dan tak lupa memakai kerudung. Sambil menggendong Dara, aku berpamitan kepada Bibi. Kamudian menyusul Mayra yang terlebih dahulu masuk ke mobil. Dara tertawa riang ketika mobil mulai melaju, aku dan Mayra pun turut mengiringi tawanya.
Setengah jam kemudian, Mayra menghentikan mobilnya di halaman restoran. Kami makan-makan di sana dan Mayra yang membayar. Sebenarnya aku tidak enak, tetapi ia memaksa. Katanya bersyukur karena sudah bebas.
Usai makan, kami melanjutkan perjalanan, yakni ke rumah Mala. Sambil mengemudi, Mayra bercerita banyak hal padaku, tak terkecuali tentang lelaki yang akan menikahinya. Ternyata bukan Reza, melainkan Jino. Sebuah nama yang baru pertama kali kudengar. Kata Mayra, ia adalah kolega ayahnya. Sudah duda, tetapi masih tampan. Ia mau menerima Mayra dan bayinya.
Dari cerita Mayra, kutebak Jino adalah orang kaya. Bahkan besar kemungkinan, ia juga yang membantu membebaskan Mayra. Sebenarnya aku ingin memastikan benar-tidaknya, tetapi Mayra hanya tersenyum kala aku bertanya tentang itu.
Tak lama kemudian, Mayra membelokkan mobilnya dan memasuki gang kecil. Sangat sempit, bahkan untuk menghindari motor pun Mayra kesulitan. Aku tak banyak bertanya, tetapi menduga-duga dalam hati, mungkin Mala bukan orang kaya seperti Mayra.
Makin lama, gang yang kami makin tempuh makin sempit. Alhasil, kami turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan dengan langkah kaki.
"Rumahnya masih jauh, May?" Aku bertanya sambil menilik ke sekeliling. Rumah berjajar rapat, bahkan atapnya pun saling menyambung satu sama lain.
"Enggak, tinggal beberapa meter aja." Mayra menjawab sambil menatap ponselnya. Mungkin memastikan alamat yang akan kami tuju.
Detik berikutnya, kami berjalan bersama, menyusuri gang yang sedikit berlumpur. Sebenarnya tempat ini tidak terlalu jauh dari pusat kota, tetapi sangat asing bagiku. Maklum, aku tidak punya kenalan di sekitar sini.
"Lelah juga ya, Ra," keluh Mayra sembari berkacak pinggang.
__ADS_1
Memang saat ini sinar mentari cukup terik. Beruntung aku memakai kerudung, sehingga kepalaku terhindar dari sengatannya. Berbeda dengan Mayra, kulihat pipinya kemerahan dan bintik keringat pun membasahi wajahnya.
Sepuluh menit kemudian, kami tiba di ujung pemukiman. Sudah tak ada rumah warga, sekadar pohon pisang yang terlihat membentang.
"Di mana, May?" tanyaku dengan heran, pasalnya Mayra masih tak menghentikan langkah.
"Di depan sana." Mayra menunjuk jalan setapak yang banyak berlubang.
"Masih ada rumah?"
"Katanya ada," jawab Mayra.
Lalu kami meneruskan langkah dan mengikuti jalan setapak yang membelok ke kiri. Beberapa waktu kemudian, aku menatap ujung atap yang berwarna biru. Mungkin itu rumahnya, pikirku.
"Ketemu, Ra, itu rumahnya!" teriak Mayra diiringi tawa renyah.
"Yakin. Katanya cat biru dan bersebelahan dengan rumah cat putih. Itu yang satu rumah Mala, satu lagi rumah kakaknya," terang Mayra.
Aku mengangguk, karena ciri-cirinya memang sesuai dengan perkataan Mayra. Sembari berjalan, aku menilik rumah itu. Sederhana. Bahkan saat tiba di teras, hanya ada motor butut yang kulihat terparkir di samping rumah.
"Mungkin ... dia pun mengalami kesulitan ekonomi, sehingga terjebak pekerjaan terlarang. Kasihan," batinku.
"Assalamu'alaikum," sapa Mayra.
"Waalaikumsalam," jawab wanita paruh baya. Beliau tersenyum dan mempersilakan kami masuk.
Kami duduk di kursi rotan yang sudah usang. Sembari berbincang, aku memandangi tas rajut yang ada di sudut ruangan, ditata rapi dalam rak kusam. Aku hitung jumlahnya ada 21, dengan warna dan model yang berbeda.
__ADS_1
Tak lama kemudian, perempuan gemuk datang menyingkap tirai. Masih muda, mungkin sebaya denganku. Ia menyapa kami dengan ramah, apalagi saat berbincang dengan Mayra, sangat akrab. Ia adalah Mala.
"Makan dulu yuk, aku udah selesai masak," ucap Mala.
"Aku masih kenyang, La. Tadi___"
"Kamu gitu, May, nggak suka ya sama makananku yang sederhana," rajuknya dengan bibir yang manyun.
"Apaan sih, La, lebay deh kamu." Mayra tertawa. "Ra, makan dulu yuk," sambungnya mengajakku.
"Ayo." Aku mengangguk. Kendati perut ini masih kenyang, tetapi aku tak menolak. Takut Mala berprasangka buruk.
Lantas aku dan Mayra beranjak. Namun, Mayra berhenti sebentar dan melepas high hells.
"Duluan gih," bisiknya.
Aku melirik kakinya, lecet dan sedikit berdarah, "salah sendiri demen hak tinggi," godaku juga dengan bisikan.
Mayra melengos dan mengusap lukanya dengan tisu, sedangkan aku berjalan dan mengikuti langkah Mala. Entah apa sebabnya, Dara menangis keras saat aku berpijak di ruang tengah. Baru hendak kutenangkan, tiba-tiba aku kesulitan bernapas. Ternyata ada tangan yang membekap hidung dan mulutku. Aku memberontak, tetapi terkendala aroma yang amat menyengat. Entah apa itu, yang jelas sekarang tenagaku makin menghilang. Makin lama tubuhku makin ringan, pikiran pun kian mengambang. Belum sempat kupahami situasi, semuanya berubah menjadi gelap.
Bersambung....
Kok konfliknya berat, Kak?
Iya, biar sama kek badanku. Kagak ringan-ringan dari dulu.
Tapi....
__ADS_1
Bagi yang udah pernah baca karyaku yang lain, pasti ejoy wae. Seberat apa pun konfliknya, endingnya pasti_____(harap diisi dengan pendapat masing-masing)