Noda

Noda
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Di atas hamparan rumput hijau, aku berjalan mengikuti arah angin. Entah di mana aku sekarang, aku sama sekali tak mengenali tempat ini. Aku pula merasa heran dengan diriku, tak ada perasaan takut, kendati hanya aku seorang yang berada di sini.


Cukup lama aku berjalan, namun tak ada setitik pun petunjuk, seolah tempat ini memang diciptakan tanpa batas. Lantas aku berhenti sejenak dan duduk di antara bunga-bunga yang bermekaran.


"Sangat cantik." Kupetik setangkai bunga yang menyerupai mawar. Kelopak jingganya indah memesona bak cahaya senja.


Kuhirup semerbak wanginya, keharuman yang menenangkan. Hati dan sukma yang sempat terserak, perlahan menyatu dan membawaku dalam kedamaian.


"Kirana!"


Aku tersentak, mataku yang semula terpejam, kini terbuka lebar karena suaranya. Aku ingat benar siapa pemilik suara itu, lelaki dewasa yang menjadi pahlawan dalam hidupku, lelaki yang biasa kupanggil Ayah.


Aku beranjak dan menatap lurus ke depan. Dalam balutan baju putih yang longgar, Ayah berjalan ke arahku.


"Ayah!" seruku dengan kegirangan. Aku merindukan Ayah, dan aku hendak menghambur ke pelukannya.


"Jangan, Kirana!" Ayah melangkah mundur dan menghindari sentuhanku.


"Kenapa, Yah?" tanyaku tak mengerti.


"Tempatmu bukan di sini, Kirana. Tidak seharusnya kamu datang dan memeluk Ayah ... belum saatnya." Ayah menggeleng sambil tersenyum.


"Tapi, Yah___"


"Kamu gadis yang tegar, Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini. Ayah memaafkan kesalahanmu, Kirana ... asalkan kamu mau kembali ke jalan yang benar. Jangan bertindak bodoh, jangan mencelakai anugerah yang dititipkan oleh Allah.


Baik-baiklah di sini, Ayah akan kembali!" Ayah membalikkan badan dan pergi meninggalkan aku.

__ADS_1


"Ayah! Tunggu, Ayah!"


"Ayah! Tunggu, Ayah!"


Aku terus berteriak, namun Ayah sama sekali tak peduli. Beliau terus melangkah, meninggalkan aku dalam kesendirian.


"Ayah! Ayah!" teriakku, kini diiringi dengan derai air mata.


"Nak! Nak! Nak, bangun, Nak!"


Samar-samar aku mendengar suara wanita memanggilku, entah di mana dia. Aku menatap ke segala arah, namun tak jua kutemukan sosoknya. Lantas, cahaya di tempatku berdiri kian menyilaukan. Aku terpaksa menutup mata, dan kembali membukanya, kala cahaya itu sudah meredup.


Aku mengernyit heran, bukan hamparan rumput hijau yang kulihat, melainkan sebuah ruangan bercat putih dengan aroma disinfektan. Apa yang terjadi, mengapa aku di rumah sakit?


"Nak, syukurlah kamu sudah sadar," ucap wanita paruh baya yang duduk di sebelahku.


Tak lama kemudian, seorang dokter menghampiriku. Dia memeriksa kondisiku dan kemudian mengulas senyum lebar.


"Keadaanya sudah membaik, saya akan membuatkan resep untuknya," kata Dokter pada wanita paruh baya.


"Terima kasih, Dok." Wanita itu tersenyum, dan kemudian menatapku.


"Sudah dua hari kamu pingsan, untunglah sekarang sudah sadar. Apa yang kamu rasakan, Nak?" Kurasakan sentuhan hangatnya mengusap puncak kepala.


"Ibu siapa?" Aku balik bertanya.


"Saya Fatimah, saya bukan asli orang sini. Selumbari, saya menemukan kamu pingsan di jembatan, jadi saya membawamu ke rumah sakit," jawabnya, yang lantas membuatku teringat dengan kejadian sesungguhnya.

__ADS_1


Aku tersenyum masam, rasa sakit kembali menyesakkan dada. Mengapa aku masih hidup, mengapa aku masih bertahan di dunia ini? Sesalku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Seharusnya Ibu tidak perlu menolongku," ucapku dengan tegas, namun gemetaran.


"Kamu pingsan dan kehujanan, Nak. Kamu___"


"Saya lebih baik mati, daripada ditolong dan diberi harapan palsu. Saya capek dikhianati, saya lelah hidup di dunia ini," pungkasku dengan intonasi tinggi. Kali ini bukan hanya berkaca-kaca, namun air mata itu telah luruh dan membasahi pipiku.


"Ibu tidak tahu apa yang telah terjadi denganmu, Nak, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Ibu ikhlas menolongmu, Ibu tidak mengharapkan imbalan, Ibu juga tidak punya niatan buruk. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Jangan menyerah, tetaplah bertahan dan berdoa kepada Tuhan," terang Bu Fatimah dengan lembut, tak ada emosi yang terpancar dalam dirinya.


"Percuma berdoa, Tuhan tidak mau mendengar." Kuulas senyum getir di antara air mata yang kian mengalir.


"Kenapa kamu bicara begitu, Nak?" Bu Fatimah menatapku lekat-lekat.


"Jika Tuhan mendengar, Dia pasti mencabut nyawaku," jawabku, tanpa ragu.


"Astagfirullaahal 'adhiim! Jaga bicaramu, Nak. Ingat ucapan adalah doa! Di luar sana banyak yang mengeluarkan uang hingga ratusan juta, demi mempertahankan sebuah nyawa. Lantas kenapa kamu malah berpikir demikian?" Bu Fatimah sedikit meninggikan intonasinya.


"Dunia sudah membuangku," ucapku, lirih.


"Nak, hidup ini sudah ada yang mengatur, jangan berputus asa karena ujian. Ibu tidak tahu apa keyakinanmu, tapi Ibu yakin dalam agamamu juga ada Sang Pencipta. Berdoalah, berkeluh kesahlah, ceritakan semua hal yang membebanimu. Tenangkan hati, dan ambil hikmah dalam setiap peristiwa. Ibu yakin, setelah itu kamu akan menerima garis hidupmu. Lihat, ada kehidupan lain yang bersemayam di tubuhmu. Apa kamu tidak ingin menatapnya?" Bu Fatimah meletakkan telapak tangannya di atas perutku.


Aku tak menghiraukan tindakannya, aku masih terpaku pada kalimat yang beliau lontarkan. 'Ibu tidak tahu apa keyakinanmu', entah mengapa kalimat itu rasanya sangat menusuk. Berkali-kali aku menghela napas panjang, guna menenangkan hati yang kian perih.


"Tidak ada kerudung yang menutupi kepalaku, dan gaun ini juga terlalu pendek untuk wanita Muslim. Sebenarnya bukan hal yang aneh jika Bu Fatimah tidak bisa menebak apa keyakinanku, tapi ... rasanya benar-benar tidak nyaman," ucapku dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2