
Tepat pukul 03.00 dini hari, Luna tiba di rumahnya. Dia menuju ke kamar dengan langkah pelan agar tak membangunkan sang ayah yang sudah tidur sejak dia pergi. Luna duduk di tepi ranjang sambil menutup wajah yang berkeringat. Rasanya tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan.
Niat hati ingin membunuh Rega dengan cara halus—meracuni dan merekayasa seolah overdosis minuman keras. Namun, rencananya gagal dan Rega terbunuh dengan cara ekstrem. Masih teringat jelas dalam pikiran Luna, betapa banyak darah yang bersimbah di antara kelopak mawar yang berjatuhan di lantai. Karena rasa takut yang amat besar, Luna sekadar membersihkan jejak. Dia melupakan video yang entah tersimpan dalam ponsel atau laptop.
"Tenang, aku harus tenang." Luna menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Melakukannya berulang kali agar perasaannya sedikit tenang.
"Aku sudah menguburnya dengan rapi dan bekas darahnya pun sudah kubersihkan. Jadi, polisi tidak mungkin menemukan kasus ini. Untuk video, Rega sudah mati. Jadi, walau masih ada, nggak mungkin tersebar ke media. Aku pasti aman," sambung Luna kembali menenangkan diri.
Kemudian, Luna merebahkan tubuhnya dengan pelan. Lantas, menutup mata dan berusaha melupakan semuanya. Namun, tak bisa. Ingatan tentang Rega terus menghantui dan memaksa matanya tetap membuka.
Hal itu berlanjut sampai sang surya menampakkan diri di ufuk timur.
Karena pikiran tak juga tenang, Luna memutuskan untuk menghubungi Kaivan. Dia ingin berbincang dengannya, sekaligus meminta maaf atas sikapnya semalam. Akan tetapi, keadaan tak berpihak. Berulang kali menelepon, sekadar operator yang memberikan jawaban—nomor Kaivan di luar jangkauan.
Luna berdecak kesal, lalu bangkit dan menatap fotonya bersama Kaivan yang dipajang di atas meja.
"Semoga setelah ini hubungan kita bisa membaik, Kai. Maafin aku yang menyimpan kebohongan, tapi aku benar-benar mencintaimu. Rega hanya kesalahan masa lalu, kuharap kamu tidak mempermasalahkan hal itu," batin Luna.
____________
Sentuhan dingin di pipi menyadarkan Nadhea dari alam mimpi. Perlahan matanya terbuka dan menangkap sosok suami yang sudah rapi dalam balutan pakaian kerja.
"Bangunlah! Ini sudah jam delapan, kamu harus sarapan agar rahimmu sehat dan bisa menampung benihku," ucap Arsen.
Nadhea berdesis pelan, menahan rasa sakit yang mendera di sekujur tubuh. Karena kesal dengan Kaivan, juga alasan agar dirinya cepat hamil, lagi-lagi Arsen menggaulinya melebihi batas wajar.
"Mungkin, kamu harus lebih lembut, Mas, agar___"
Kalimat Nadhea terhenti karena tamparan keras mendarat begitu saja di wajahnya. Padahal, saat itu dia baru saja bangkit.
"Jangan sok pintar di hadapanku, Dhea! Kamu saja yang bodoh dan tak bisa hamil, jadi jangan pernah menyalahkan sikapku!" bentak Arsen.
"Mungkin, aku memang mandul, Mas. Ada baiknya kamu mencari wanita lain. Siapa tahu, dia bisa memberikan keturunan untukmu," ujar Nadhea dengan kepala yang menunduk.
"Itu tidak akan pernah terjadi!" Arsen berkata tegas sambil menatap tajam.
__ADS_1
Dia sadar, sulit mencari wanita yang patuh seperti Nadhea. Dengan hati yang masih terpaut pada cinta lain, mustahil ada wanita yang bisa menerimanya. Terlebih lagi, menuruti keinginan yang terkadang tidak normal. Bagi Arsen, Nadhea adalah wanita yang paling tepat karena istrinya itu tak punya tempat untuk berlindung, sehingga tak mungkin memberontak.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu," batin Arsen. Lalu, dia meraih tas kerja dan melangkah keluar kamar.
Sepeninggalan Arsen, Nadhea turun dari ranjang dan melangkah tertatih menuju lemari yang ada di sudut ruangan. Di dalam sana tersimpan pakaiannya, juga barang berharga yang dia beli sewaktu pulang dari rumah orang tua—pil KB.
"Tinggal sedikit, aku harus memikirkan cara untuk membelinya." Nadhea membatin sambil mengambil obat yang diselipkan di antara helai baju.
Kemudian, Nadhea meraih sebotol air dan menelan obat itu. Namun nahas, pintu kamar tiba-tiba dibuka dari luar, ternyata Arsen yang datang.
Nadhea tersentak dan botol minumannya jatuh ke lantai. Dengan gerakan cepat, Nadhea meraih bungkus obat yang masih tergeletak di meja. Akan tetapi, gerakannya tak luput dari pandangan Arsen.
"Apa itu?" tanya Arsen.
"Bukan apa-apa, hanya vitamin," dusta Nadhea.
Tak percaya dengan ucapan Nadhea, Arsen langsung menghampiri dan merebut bungkus obat yang digenggam erat. Detik selanjutnya, dada Arsen naik turun menahan emosi. Kali ini, dia benar-benar murka.
"Sejak kapan kamu mengonsumsi ini, hah?" bentak Arsen diiringi cengkeraman di lengan.
"Sekarang semuanya sudah terungkap, membantah ataupun tidak, dia akan tetap murka dan tak mungkin memberi ampun. Entah hasilnya seburuk apa, aku harus berusaha. Aku tidak boleh menyerah dan mati di tangannya," batin Nadhea.
"Kamu pembohong, Dhea! Beraninya kamu mengkhianatiku!" Arsen berteriak sambil memukul Nadhea hingga tersungkur ke lantai.
Nadhea memanfaatkan kesempatan itu untuk menggigit kaki Arsen dengan kuat. Lelaki itu mengerang dan berusaha melepaskan diri. Pada saat yang sama, Nadhea bangkit dan berlari keluar kamar.
Arsen berteriak dan mengejarnya dengan sedikit tertatih. Namun, Nadhea tak menoleh sedikit pun. Tekadnya sudah bulat untuk kabur dari rumah itu.
Akan tetapi, langkah Nadhea terhenti sebelum tiba di ruang tamu. Dua lelaki kekar menghalangi langkahnya, mereka adalah bawahan Arsen yang sudah lama bekerja di sana—menjaga Nadhea agar tak keluar rumah tanpa didampingi Arsen.
"Tolong lepaskan aku!" pinta Nadhea dengan penuh harap.
"Maaf, Nona, kami hanya menjalankan tugas. Tolong maklumi kami yang butuh uang untuk menghidupi keluarga," jawab salah satu dari mereka.
"Tapi, tidak seharusnya kalian membutakan mata. Kalian___"
__ADS_1
"Jangan pernah berpikir untuk pergi, Dhea! Selamanya, kamu harus menjadi istriku!" teriak Arsen yang sekarang sudah berada di belakang Nadhea.
Nadhea menoleh dengan tubuh gemetaran, "Tolong lepaskan aku, Mas! Aku janji tidak akan memberitahukan hal ini pada siapa pun. Tapi, tolong biarkan aku pergi! Jangan membuatku bertanggung jawab atas pengkhianatan yang tidak ada hubungannya denganku!"
"Jangan banyak bicara! Apa pun yang terjadi, yang jelas kamu adalah milikku!" Arsen mendekat dan kembali mencengkeram lengan Nadhea.
Nadhea meringis sakit, bahkan air matanya sampai berlinang. Namun, Arsen dan kedua bawahannya tak ada yang bersimpati. Wanita paruh baya yang biasa menaruh iba, kini pun sedang tak ada. Seolah keadaan turut andil dalam kehancuran Nadhea.
Dengan kasar, Arsen menyeret Nadhea dan membawanya kembali ke kamar, tak lupa pula mengunci pintunya. Arsen mengempaskan tubuh Nadhea ke atas ranjang, lalu pergi ke kamar mandi karena hajat tak bisa ditunda lagi—niatnya kembali memang karena itu.
Di sela-sela rambut yang berantakan di wajah, Nadhea melihat ponsel Arsen tergeletak di meja. Tanpa memedulikan rasa sakit, Nadhea bergegas mengambil benda itu, beruntung tidak dipasang sandi. Awalnya, dia terkejut melihat fotonya terpampang sebagai gambar latar. Namun, Nadhea tak ingin membuang waktu. Ada hal yang lebih penting, yang harus diselesaikan.
"Maafkan aku, Mas. Aku tak bermaksud menghancurkanmu, hanya berusaha melepaskan diri dari semua ini. Aku tidak kuat lagi, Mas," batin Nadhea usai mengirim pesan kepada seseorang.
Bersambung...
Yang gemes, yang emosi, tahan bentar ya, bentaaaaaaarrrrr doang. Ini lagi masuk konflik utama, nggak lama lagi ada manis-manisnya kok, semanis otornya🙃🙃🙃🙃🙃🙃🙃🙃🙃
Bagi yang berpendapat, kok tokoh utamanya lemah?
Yaaaa, karena memang dia perempuan yang enggak sempurna, yang dari kecil ditindas karena otaknya yang payah. Sebagai seseorang yang nggak pernah dihargai, bahkan sering dibully, wajar jika mentalnya down, apalagi sekarang satu-satunya orang yang pernah peduli, juga menindasnya tanpa hati.
Btw, maaf ya belum bisa bales komen. Lagi berusaha up rutin biar bulan depan bisa lahiran yang baru. Tapi, tenang aja, nanti aku balesin kok. Tungguin yahhh☺☺☺
Oiya, sambil ngucapin Happy Reading, sekalian aku mau tanya dong. Di antara judul di bawah ini, mana yang menurut kalian paling menarik. Jawab yahh!
Gadis Kecil Sang Black Devil (Action, romance)
Mantanku Mertuaku (Romance)
Mutiara yang Ternista (Religi)
Labirin Cinta di Pulau Dewata (Romance, Comedi)
__ADS_1