
Di atas ketinggian yang lebih dari 30.000 kaki, Kaivan dan kawan-kawannya sedang dalam keadaan panik. Bagaimana tidak, pesawat hilang kendali dan melenceng jauh dari rutenya. Semua terjadi karena cuaca buruk yang datang secara tiba-tiba. Badai dan petir menerjang ketika pesawat masih dalam ketinggian.
Di antara banyak penumpang yang menjerit histeris, Kaivan berusaha tenang sambil memanjatkan doa. Dia berharap Tuhan akan menyelamatkannya dari segala macam bencana. Kalaupun takdirnya sudah dekat, setidaknya menutup mata di pangkuan sang ibunda. Bukan di tempat jauh, yang jenzahnya pun belum tentu berwujud.
Di sampingnya, Kennan dan Elbi juga melakukan hal yang sama. Mereka berdoa dan memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Dalam situasi seperti ini, ke mana lagi akan meminta pertolongan jika bukan kepada Tuhan.
Tanpa mereka ketahui, keluarga yang ada di rumah pun sama paniknya. Mereka menangis sambil menatap televisi yang menayangkan berita tentang pesawat hilang kontak. Tak terkecuali Kirana dan Athreya. Mereka tak henti-hentinya menitikkan air mata. Walaupun Darren dan Reyvan sudah menenangkan, tetapi mereka tetap kalut dalam pikiran-pikiran buruk.
Sekitar setengah jam kemudian, Tuhan menunjukkan keajaiban. Pesawat yang sempat hilang kendali dan hampir kehabisan bahan bakar, kini kembali menemukan rutenya. Sayap kiri mengalami kerusakan, tetapi sang pilot berhasil mendaratkannya di bandara Lombok walaupun dengan pendaratan yang sangat buruk. Meski hampir semua penumpang mengalami trauma, tetapi mereka selamat dan tidak ada yang terluka.
Setelah dipastikan bahwa semuanya baik-baik saja, berita tersebut langsung diunggah ke media. Darren dan anak istrinya langsung bersujud, mereka bersyukur karena Kaivan dalam keadaan baik-baik saja. Walaupun saat ini belum mendapat kabar darinya, setidaknya sudah tahu bahwa pesawat yang ditumpangi selamat sampai tujuan.
"Kenapa Kak Kai belum telfon, Pa? Aku sudah tidak sabar untuk menanyakan hal ini padanya. Dia sendirian, pasti sangat takut, Pa," ucap Athreya di sela-sela isakannya.
__ADS_1
"Sabar, Reya. Mungkin Kak Kai masih menenangkan diri. Seperti yang dikatakan reporter tadi, para penumpang banyak yang trauma." Reyvan bicara sambil memeluk adiknya.
"Kakakmu benar, Nak. Mari kita bersabar sejenak, Kak Kai pasti baik-baik saja," timpal Darren.
Pada waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Kaivan dan kawan-kawannya menjauh dari badan pesawat. Sebenarnya, ada petugas medis yang menyambut mereka, tetapi Kaivan dan yang lain memilih menjauh. Mereka hanya sedikit shock, tidak ada luka ataupun trauma yang berat. Mereka hanya butuh minum dan beristirahat sejenak. Petugas medis biarlah menolong mereka yang lebih membutuhkan—para ibu-ibu dan anak-anak.
Di sebuah lorong yang agak jauh dari lalu lalang orang, Kaivan mengambil sebotol air yang disimpan dalam ranselnya. Lantas, membukanya dan hendak meneguk. Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika bibir botol baru saja menyentuh bibirnya. Ada tangan lentik yang menyambar dan langsung meminumnya tanpa permisi.
Kaivan terperangah dan menatap tajam pada sang pemilik tangan—gadis muda dengan penampilan yang sedikit berantakan. Kaus hitam tanpa motif dipadu dengan kemeja panjang warna merah, sengaja tidak dikancing dan memperlihatkan kalung panjang dengan liontin berbentuk daun. Sementara kakinya, dibalut jeans panjang dan sepatu warna hitam dengan tali yang tak beraturan. Di pundaknya, menggantung tas ransel yang sedikit kusam, sangat serasi dengan rambut panjang yang dikuncir asal. Jika diamati, wajahnya lumayan manis. Terlebih lagi mekapnya sangat tipis, terlihat natural. Namun, tingkahnya yang sama sekali tidak manis.
"Kamu nggak punya sopan santun, ya?" Kaivan melemparkan tatapan tajam.
"Bekas bibir lo manis," jawabnya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar!"
"Sangat sesuai dengan wajah lo yang tampan." Gadis itu kembali bicara.
"Kamu gila!" bentak Kaivan.
"Iya, ketemu sama lo, gue mendadak gila. Sampai-sampai gue bermimpi bahwa suatu saat nanti bisa menggigit bibir ini." Tangan gadis itu terulur dan mengusap ujung bibir Kaivan, lembut dan hangat rasaya.
Tanpa menunggu reaksi Kaivan, gadis itu melangkah pergi dan meninggalkan Kaivan yang masih terpaku.
"Dasar cewek aneh, nggak punya urat malu," gerutu Kaivan.
Kendati demikian, dia mengusap bibirnya sendiri. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada perasaan aneh yang tiba-tiba merayap di relung hati. Namun, entah perasaan apa namanya, Kaivan sama sekali tak bisa mendefinisikan.
__ADS_1
Bersambung...