Noda

Noda
Isi Hati Arsen


__ADS_3

Nadhea mempercepat langkah dan berhenti tepat di hadapan Arsen, sedangkan Prawira duduk di kursi sambil menatap mereka berdua.


"Mas, apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba begini? Kamu tahu, aku akan mendiskusikannya dengan Kaivan untuk meringankan hukumanmu. Tapi, kamu malah ... ah." Nadhea menggigit bibir. "Mas, masih bisa mengajukan grasi, kan? Nggak benar-benar berakhir, kan?" sambungnya.


Arsen menggeleng, "Tidak perlu, Dhea. Ini pilihan yang terbaik."


"Tapi, Mas___"


"Semua yang kukatakan pada polisi itu benar, aku memang terlibat dalam perdagangan obat dan senjata terlarang. Aku pernah membunuh pacarku, aku juga sering menghabisi rival yang mengancam posisiku, dan terakhir, aku telah menyiksa istriku. Hukuman ini sebanding dengan kesalahanku, bahkan andai ada hukuman yang lebih berat, aku masih pantas mendapatkannya," pungkas Arsen dengan panjang lebar.


Nadhea menggeleng-geleng, lalu menggenggam tangan Arsen dan menatap matanya dengan lekat.

__ADS_1


"Aku masih tidak percaya kamu melakukan itu, Mas. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" ucapnya.


"Nggak ada yang kusembunyikan, Dhea. Sikapku kemarin, seharusnya sudah mencerminkan siapa diriku. Kenapa kamu tidak percaya?" Arsen balik bertanya.


Nadhea tak menjawab, sekadar menunduk sambil menatap tangan Arsen yang masih ada dalam genggamannya.


"Kamu sudah tahu, kan, bagaimana keadaan keluargaku? Sepupu, paman, dan juga saudara lain yang agak jauh. Mereka sangat mengincar posisi direktur serta saham yang ada di tanganku. Sebenarnya, itu tidak hanya terjadi padaku, tapi juga pada Papa ketika beliau masih muda. Itu sebabnya, Papa mengajariku tentang persaingan. Papa menunjukkan bagaimana kerasnya bisnis sejak aku remaja. Jadi jangan heran kalau aku tumbuh menjadi pribadi yang keras dan penuh ambisi. Aku tidak ingin posisiku tergeser, Dhea, justru inginku makin naik dan menjadi yang tertinggi. Itulah mengapa, jalan hidupku seperti ini," terang Arsen dengan panjang lebar.


Lagi-lagi Nadhea terdiam. Sedikit-banyak dia tahu persaingan dalam bisnis memang sengit. Terkadang, seseorang hanya bisa memilih jalan curang agar tidak terjatuh dalam posisi yang rendah. Dulu, ayahnya tidak mengakui keberadaannya juga karena bisnis. Kedudukan Arsen jauh lebih tinggi daripada ayahnya, maka tak heran jika persaingan di dalamnya pun jauh lebih sengit.


"Mas___"

__ADS_1


"Jangan katakan apa pun! Ini adalah pilihan yang terbaik." Arsen bicara sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nadhea. "Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin keberadaanku membuatmu menderita. Ini yang terbaik, Dhea," sambungnya dalam hati.


Arsen tahu benar seperti apa perangai dirinya—raja tega dan sulit mengendalikan emosi. Terbiasa hidup keras telah menempanya menjadi sosok yang seperti itu—sosok yang hampir menyerupai psikopat. Bagi Arsen, lebih baik mati daripada hidup tapi menjadi petaka untuk Nadhea.


Bukan tanpa alasan Arsen berpikir demikian, melainkan karena sadar betapa besar cintanya untuk Nadhea. Jika tidak bisa bersama, pasti dia sangat cemburu. Bukan mustahil dia akan membunuh siapa pun yang dicintai Nadhea, dan memaksa wanita itu kembali ke sisinya.


Namun, bersama pun bukan hal yang baik karena cemburunya sangat besar. Bukan tidak mungkin KDRT akan terulang lagi, dan lebih fatal dari yang kemarin. Maka dari itu, selagi pikirannya masih normal, Arsen membuat keputusan yang paling bijak.


"Aku harap ini sekedar mimpi, Mas. Aku ingin kamu hidup dan menjadi pebisnis seperti kemarin," bisik Nadhea.


Arsen membatin sambil tersenyum getir, "Kamu berharap begitu karena tidak tahu sepenuhnya tentang aku. Dhea, kamu tahu kenapa dulu aku membunuh pacarku? Karena aku cemburu, dia menjalin hubungan dekat dengan lelaki lain. Jika kamu bertanya, kenapa aku tidak melakukannya pada Liora? Karena kemarin perasaanku padanya sudah pudar. Yang benar-benar kucintai adalah kamu, itu sebabnya aku bertindak kejam setelah melihatmu bercanda dengan Kaivan."

__ADS_1


"Mas___"


Bersambung....


__ADS_2