
Dentingan sendok terdengar nyaring ketika Kaivan meletakkan kembali alat makannya. Tanpa mengucap sepatah kata, Kaivan bangkit dan beranjak pergi. Awalnya, Darren hendak berteriak dan melayangkan protes atas tindakan yang kurang sopan. Namun, Kirana menahannya. Bahkan, dia juga memanggil Kaivan dan memberitahukan hal yang membuat Darren mengernyit.
"Kaivan, makan! Jangan seperti anak kecil, Kennan akan menggantikanmu!"
"Sayang___"
"Kita berangkat lusa setelah kamu menemui Pak Bahri. Pak Wira pasti mau mengerti," pungkas Kirana.
"Tapi, acaranya lusa pagi. Mana bisa kita berangkat lusa sore. Sudah kelar, Sayang," protes Darren.
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."
"Tapi___"
Ucapan Darren terhenti karena Kirana menatapnya dengan lekat. Akhirnya, dengan berat hati dia mengizinkan Kennan menggantikan Kaivan.
"Terima kasih, Bunda," ucap Kaivan ketika sudah kembali ke tempat duduknya.
"Lain kali belajar profesional. Jangan mencampur aduk pekerjaan dengan urusan pribadi. Paham?"
"Iya, Pa." Kaivan mengulum senyum sambil meraih piring dan sendok. Kali ini, dia akan makan dengan tenang.
"Besok jam berapa berangkat ke Batu?" tanya Kennan di sela-sela suapannya.
__ADS_1
"Sekitar tengah hari. Kamu tinggal berangkat aja, segala sesuatunya sidah kusiapkan," jawab Kaivan yang kemudian ditanggapi dengan anggukan.
"Mmm, habis ini silakan siap-siap. Aku mau ajak kamu ke rumah Pak Chandra," sambung Kaivan.
"Hah! Untuk apa?" Kennan terkejut.
"Nggak enak kalau cuma bicara lewat telepon."
"Ya, kan, kamu bisa sendiri. Aku capek loh, Kai, dari luar kota belum istirahat," ujar Kennan.
"Berkorban sedikit lah, Ken. Ingat, dulu aku juga bantuin kamu," kata Kaivan tanpa rasa bersalah.
Kennan tak lagi menyahut, sekadar memelotot tajam dan mengepal. Namun, Kaivan tak menanggapi dengan serius. Dia justru tersenyum lebar penuh kemenangan.
________________
Akan tetapi, tingkah Kaivan tidak sampai disitu saja. Semalam Kaivan juga membuat heboh, hingga penghuni rumah tidur dini hari. Kaivan memaksa mereka membantu menyiapkan barang untuk dibawa ke Bali. Maklum, rencana Kaivan tidak sekadar menghadiri peresmian galeri. Namun, ketika Darren dan Kennan banyak bertanya, Kaivan hanya menanggapinya dengan senyuman lebar.
"Semoga dengan ini, hubunganku sama dia nggak canggung lagi," batin Kaivan.
Perlahan sudut bibirnya melukis senyum menawan. Banyak hal indah yang kini berputar-putar dalam pikiran, salah satunya adalah baris pesan yang dikirimkan Nadhea semalam. Wanita itu berjanji akan menjemputnya di bandara.
"Udah lama nggak lihat dia, Kira-kira banyak berubah nggak, ya?" Kaivan kembali membatin. Kali ini sembari membayangkan paras cantik Nadhea ketika hadir di pernikahan Athreya. Malam itu, memang terakhir kali mereka bertemu.
__ADS_1
Karena terlalu larut dalam bayang-bayang manis, waktu satu jam terasa singkat bagi Kaivan. Rasanya belum hangat dia duduk, tiba-tiba pesawat sudah mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Kaivan terus mengulum senyum, tanpa peduli dengan pandangan penumpang lain, yang mungkin saja berpikir bahwa otaknya sedikit geser. Kaivan turun dengan langkah ringan, pun saat mengambil tas besarnya. Tak ada kata lelah atau pikiran penat, hanya bahagia, terlebih saat mengingat beberapa tahun silam—ketika turun pesawat dan disambut tingkah barbarnya Nadhea.
Usai mengambil tas, Kaivan berjalan sambil menghidupkan ponselnya. Rupanya, Nadhea sudah tiba di sana sejak lima belas menit yang lalu.
Tak ingin membuang waktu, Kaivan mempercepat langkah dan menuju ke tempat Nadhea.
Beberapa saat kemudian, Kaivan menatap sosok wanita yang sedang melambai ke arahnya. Jarak mereka belum terlalu dekat, tetapi Kaivan melihat jelas betapa menawannya paras Nadhea. Dalam balutan kaus panjang warna merah dan rok selutut warna hitam, kulit putihnya tampak lebih mulus. Belum lagi rambut yang dikuncir tinggi, sehingga leher jenjangnya terpampang jelas. Tak ada lagi tulang yang menonjol atau pipi yang cekung, tubuh Nadhea lebih berisi dari sebelumnya.
"Hai, apa kabar?" sapa Kaivan ketika tiba di hadapan Nadhea.
Senyuman Kaivan memudar saat sapaannya dijawab. Pasalnya, bukan hanya Nadhea, melainkan ada satu lelaki yang turut menyahut. Dilihat dari wajahnya, usia lelaki itu lebih muda dari Nadhea. Kulitnya putih mulus, hidung mancung, rambut cokelat, dan bibir sedikit kemerahan. Salah satu telinga dipasangi anting, leher dihiasi kalung, dan lengan dilingkari jam tangan hitam. Dengan wajah yang tergolong baby face, dia tampak sedap dipandang. Bahkan, jauh lebih menggemaskan dibandingkan dengan Kaivan.
Siapa gerangan? Mengapa datang bersama Nadhea?
"Selamat datang, senang bertemu dengan Anda," ucap lelaki itu membuyarkan lamunan Kaivan.
"Iya." Kaivan menjawab datar.
"Dhea___"
Tatapan Kaivan terpaku pada tangan lelaki itu, yang tanpa ragu memegang bahu Nadhea. Terlebih lagi, panggilannya begitu akrab 'Dhea'.
__ADS_1
Siapa sebenarnya dia?
Bersambung...