Noda

Noda
Tiba Di Bululawang


__ADS_3

Di bawah terik surya yang menyengat, aku melangkah di antara bus-bus yang berjajar. Aku ikut berdesakan dengan orang-orang yang berlalu lalang. Banyak di antaranya yang membawa tas besar, mungkin mereka sama sepertiku, hendak menempuh perjalanan jauh.


"Malang-Surabaya, Malang-Surabaya, ayo silakan! Silakan!"


Aku terus melangkah, meninggalkan kondektur yang sedang mencari penumpang. Surabaya bukanlah kota tujuanku.


Uang yang kupunya tidaklah banyak, tidak akan cukup jika aku hidup di kota. Tujuanku adalah Kecamatan Turen, sebuah tempat yang menjadi bagian dari Kota Malang, namun cukup jauh dari pusat kota.


Selama perjalanan tadi, aku sudah mencari informasi tentang daerah itu. Kontrakkan di sana cukup terjangkau, dan harga pangan pun relatif murah. Aku akan tinggal di tempat itu dan memulai hidup baru, seorang diri.


"Malang-Lumajang, Malang-Lumajang. Ayo naik, masih longgar. Murah meriah, murah meriah!"


"Ini jurusan Lumajang ya, Pak?" tanyaku pada pria dewasa yang berdiri di depan bus.


"Iya, Neng."


"Saya mau ke Turen," ucapku.


"Oh bisa, Neng. Silakan, mari saya bantu." Pria itu membawakan tasku, dan meletakkannya di bawah bangku, di dekat jendela.


"Terima kasih, Pak." Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Sama-sama, Neng." Lantas pria itu kembali mencari penumpang.


Lumajang adalah kota yang berbatasan dengan Kota Malang. Dari informasi yang pernah kudengar, Lumajang adalah kota asri yang terkenal dengan tanaman pisangnya. Sangat banyak dan kualitasnya pun terjamin. Bahkan banyak yang menyebut Lumajang sebagai Kota Pisang. Selain itu, banyak destinasi wisata di sana, terutama wisata pantai. Katanya, ada kuliner ikan bakar yang sangat khas.

__ADS_1


Dulu, aku dan Daniel pernah merencanakan liburan ke sana. Namun belum sempat terwujud, perpisahan yang lebih dulu menjemput. Untuk menuju ke sana, harus melewati banyak kecamatan terlebih dahulu, termasuk Bululawang, Turen, Dampit, dan Ampelgading. Itu sebabnya sekarang aku naik bus jurusan Malang-Lumajang.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya bus yang kutumpangi melaju meninggalkan terminal. Aku mengulas senyum lebar, kendati aku belum tahu seperti apa kehidupanku nanti, tapi setidaknya aku sudah berhasil meninggalkan orang-orang yang kukenal.


"Kita akan memulai hidup baru, Nak. Baik-baiklah di sana, Bunda sangat menantikan kehadiran kamu. Doakan semoga apa yang Bunda rencanakan berjalan dengan lancar." Aku membatin sambil mengusap perutku. Dia bergerak pelan, mungkin merespon sentuhanku, dan hal sederhana itu membuatku tersenyum lebar.


"Sudah berapa bulan, Mbak?" tanya Ibu-ibu yang duduk di sebelahku.


"Delapan, Bu." Aku menoleh dan menatapnya sambil tersenyum.


"Sudah hampir lahiran, ya. Semoga nanti persalinannya berjalan lancar, Mbak." Ibu itu membalas senyumanku.


"Aamiin, semoga saja, Bu."


"Ngomong-ngomong suaminya ke mana, Mbak?" tanya Ibu itu, yang lantas membuat perasaanku bergejolak.


"Oh gitu. Semoga rejekinya lancar, ya, Mbak. Semoga segala urusannya diberi kemudahan," ujar Ibu itu.


"Aamiin, terima kasih banyak untuk doanya, Bu," jawabku yang lantas ditanggapi dengan senyuman.


Bus melaju semakin jauh, seiring mentari yang kian merangkak ke arah barat. Sesekali aku membuang pandangan ke luar, menatap bangunan-bangunan megah yang berjajar di pinggir jalan.


Ibu yang duduk di sebelahku cukup ramah. Kami saling berbincang akrab, nyaris seperti saudara jauh yang baru saja bersua setelah sekian lama tak berjumpa.


Semakin jauh perjalanan yang kutempuh. Bus yang membawaku sudah memasuki Kecamatan Bululawang. Perasaanku semakin tenang, tidak lama lagi aku akan tiba di tempat tujuan. Aku akan memperbaiki hidupku di sana, aku akan menjadi Kirana yang berbeda. Tidak dihina, tidak direndahkan, dan tidak disakiti.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa menemukan aku, Za," batinku.


Nomor lamaku sudah kubuang, dan kini yang kupakai adalah nomor baru, nomor yang belum diketahui oleh siapa pun.


"Tempat yang indah," gumamku, ketika bus melewati jalan beraspal yang sangat teduh.


Di kanan-kiri jalan ditumbuhi pohon akasia yang rindang. Sejauh mata memandang, hamparan sawah menghijau dengan suburnya, sangat menenangkan.


Tak lama kemudian, bus kembali melewati bangunan-bangunan megah, namun kali ini tak sepadat di pusat kota.


Sekitar lima menit kemudian, laju bus melambat, dan akhirnya berhenti di depan gudang tua yang sepertinya sudah lama tak digunakan. Para penumpang bertanya-tanya, dan ternyata mesin bus sedang mengalami kendala.


Banyak yang menggerutu kesal, karena terpaksa turun dan menunggu perbaikan. Namun untungnya, ada bengkel yang bersebelahan dengan gudang itu. Aku pun ikut turun, aku menunggu sambil duduk di teras gudang, bersama penumpang yang lain.


"Mbak, di sana panas, duduk di sini yuk, teduh. Kasihan bayinya," ucap Ibu yang tadi berada di sebelahku. Dia sedang duduk di atas bangku panjang, di dalam gudang.


Aku tak menolak, karena yang kutempati sekarang memang panas. Aku pun merasa gerah dan tidak nyaman. Kutinggalkan tas besarku di teras, karena jaraknya tidak jauh, dan masih terjangkau dalam pandangan.


"Gerah ya, Mbak?" tanya Ibu itu. Mungkin beliau melihat peluh yang membanjiri wajah dan tubuhku.


"Iya, Bu," jawabku.


"Mau minum? Kebetulan saya masih ada dua botol."


Aku menerima botol yang beliau sodorkan, karena saat ini aku memang haus. Lega rasanya, masih ada orang yang peduli. Aku tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih. Beliau sangat pengertian, memberikan apa yang aku butuhkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2