
"Kamu cerai?"
Pertanyaan Kak Darren membuatku tersentak. Lalu aku mendongak dan melirik lembaran itu dengan cepat. Akta Cerai, tulisan pertama yang mencuri perhatianku.
"Syukurlah, ternyata bukan surat keterangan hamil," batinku.
"Iya, seperti maumu." Amanda mengangguk. "Sekarang, mana janjimu? Kapan kamu nikahin aku?" sambungnya.
"Jangan gila, Amanda! Aku sudah menikah, dan lagi itu sekedar candaan, bukan janji. Terakhir kali kita bersua, aku sudah menjelaskan semuanya. Kamu setuju, malah katamu akan memperbaiki hubungan dengan suami. Kenapa sekarang kamu mengungkit masa itu?" ujar Kak Darren dengan intonasi tinggi.
Kulirik sekilas dadanya tampak naik turun, embusan napas pun terdengar kasar.
"Tapi kuanggap serius, Ren." Amanda meraih kembali akta cerai miliknya. "Dulu aku setuju karena alasanmu ingin memperbaiki diri, bukan menikah. Kamu hanya milikku, aku nggak rela ada orang lain dalam hidupmu. Jika kamu ingin menikah, itu harus denganku. Aku cerai, itu untuk membantumu memperbaiki akhlak."
"Teorimu tidak masuk akal, Amanda. Aku sudah menikah, sampai kapan pun aku tidak akan menjadi milikmu!" Suara Kak Darren makin meninggi.
"Ren___"
"Kita bersama hanya mencari keuntungan dan kesenangan. Dari awal, kita berjanji tidak akan melibatkan rasa. Kita bisa berpisah kapan saja, dengan konsekuensi kehilangan keuntungan. Kita___"
"Tapi aku tidak pernah berjanji untuk berhenti mengusikmu setelah kita pisah," pungkas Amanda.
"Kamu___"
"Kamu hanya milikku."
Lagi-lagi Amanda memotong ucapan Kak Darren. Kali ini diiringi tatapan tajam dan senyuman licik ke arahku. Entah apa yang ia pikirkan. Aku rasa ekspresinya mirip dengan antagonis yang sedang menyusun rencana jahat. Ahh, semoga saja tidak.
Amanda melenggang pergi meninggalkan kami. Lantas aku membuang muka sembari melipat tangan di dada. Jujur hatiku tidak nyaman. Aku butuh penjelasan dari Kak Darren.
"Sayang, maaf ya. Acara makan kita sedikit terganggu. Aku nggak tahu kalau Amanda akan ke sini." Kak Darren bicara sambil menggenggam bahuku.
"Kak Darren pernah janjiin apa sama dia?" tanyaku tanpa menoleh.
"Maaf, Mbak, Mas, ini ... jadinya pesan apa?"
Suara pelayan menyela perbincangan kami. Lantas aku menoleh sembari mengukir senyum hambar.
__ADS_1
"Maaf, Mbak, kami nggak jadi pesan," ucapku dengan cepat.
"Lho, kok nggak jadi, Sayang?" tanya Kak Darren.
Aku enggan menjawab, justru berbalik badan dan melangkah pergi. Kak Darren berusaha menahanku, tetapi akhirnya mengalah dan mengikuti langkahku.
Tak lama kemudian, kami tiba di mobil. Aku langsung masuk dan duduk di samping kemudi. Kak Darren pun menyusulku.
"Sayang." Kak Darren menggenggam tanganku. "Maaf, aku___"
"Kak Darren punya kenangan apa di sini? Terus ... dulu pernah janjiin apa sama Amanda?" pungkasku dengan cepat.
Kendati pertemuan tadi amat singkat, tetapi banyak sekali ucapan Amanda yang sangat mengganjal. Lagi pula, selama ini Kak Darren tak pernah bercerita detail tentang Amanda. Tak ada salahnya kalau sekarang aku bertanya banyak tentangnya.
"Tidak ada kenangan apa-apa, Sayang. Sejak kuliah, kedai ini adalah tempat favoritku. Dulu aku kerap datang bersama teman-teman. Lalu setelah kerja, aku pernah mengajak Amanda ke sini, waktu itu ada proyek di kota ini. Dan soal janji ... itu tidak benar. Kala itu kami hanya bergurau," terang Kak Darren.
Aku menatapnya lekat dan melihat raut keseriusan di sana. Semoga saja penjelasannya memang benar. Tak tahu betapa rapuhnya hati ini, jika yang kuterima adalah kebohongan.
"Berapa kali Kakak mengajaknya ke sini, kok, Amanda sampai ingat?"
"Seperti apa berguraunya, kenapa dia benar-benar cerai?" Aku masih terus bertanya.
Kak Darren menghela napas panjang, "memalukan kalau diceritakan. Tapi percayalah, Sayang, itu benar-benar gurauan. Sedari dulu dia memang tak suka dengan suaminya. Jadi aku yakin, alasannya cerai bukan hanya aku."
Aku tak menjawab karena sedikit-banyak bisa menebak ke mana arah maksudnya. Kegiatan 'itu' terkadang melumpuhkan logika, memancing khayalan-khayalan tanpa tepi, yang akhirnya kembali pada hal yang sama.
Aku tak menyalahkan Kak Darren, karena aku pun pernah demikian. Meracau akan mengabaikan Tuhan, demi cinta yang bertumpu pada hawa na*su.
"Dia mencintaimu, Kak, bahkan berkali-kali menegaskan bahwa kamu adalah miliknya." Aku menunduk dan bicara pelan.
"Sayang." Kak Darren meraih daguku dan memaksa mendongak, hingga mata kami kembali beradu. "Aku tidak mencintainya. Di dalam hatiku hanya ada namamu. Biarlah dia bicara apa, yang penting kita tetap teguh dalam menjalin cinta. Saling percaya dan saling menjaga hati. Jika kita demikian, apalagi yang perlu dikhawatirkan? Lagi pula, ada Allah yang menjaga kita. Jika dia berniat buruk, Allah tidak akan diam," sambungnya.
"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu 'kan, Kak? Kamu benar-benar jujur, 'kan?" tanyaku.
Kak Darren tersenyum dan menangkup pipiku, "demi Allah aku jujur, Sayang."
Aku tak berkata-kata, sekadar mengulas senyum yang teramat lebar. Lantas Kak Darren meraih tengkukku dan mencium keningku cukup lama.
__ADS_1
Setelah itu, Kak Darren mulai menghidupkan mesin mobil. Kami memutuskan pulang dan makan di rumah.
"Tapi ... ada satu hal yang masih kusembunyikan," ujar Kak Darren yang lantas membuatku kembali cemas.
"A ... apa?" tanyaku dengan terbata.
"Kamu yakin ingin tahu?" Kak Darren menaikkan kedua alisnya.
"Kak, jangan bercanda."
"Ini ... tentang Daniel. Dia ... masih mencintaimu," ucap Kak Darren diiringi tatapan lekat.
"Nggak mungkin, itu nggak mungkin." Aku menjawab sambil menggeleng cepat.
"Kamu tahu apa yang dia bisikkan kemarin. Aku masih mencintainya, tolong jaga dia untukkku. Aku bahagia, jika dia bahagia."
"Ti ... tidak mungkin, Kak. Kami, kami sudah lama pisah," ujarku.
"Aku tahu, tapi dia masih mencintaimu."
Aku menunduk dan hanya mengucapkan kata maaf.
"Tidak perlu meminta maaf, karena aku juga tak mempermasalahkan hal itu. Aku yakin kamu tidak akan kembali padanya," sahut Kak Darren yang lantas menyejukkan hatiku.
_____________
Satu bulan telah berlalu sejak aku berkunjung ke kantor polisi. Om Markus dan Mayra masih ditahan di sana. Sedangkan dalang yang sebenarnya masih belum ditemukan. Meski demikian, Daniel tak sehancur kala itu. Ibunya sudah keluar dari rumah sakit dan kondisinya pun hampir pulih. Aku berharap hal baik terus terjadi padanya. Perihal perasaan yang ia bisikkan pada Kak Darren, aku tak pernah menanyakan, pun dengan hadiah yang ia berikan. Entah apa maksudnya, ia memberiku Al-Quran.
Tentang Amanda, entah ke mana wanita itu. Sejak bertemu di kedai bambu, ia tak pernah muncul lagi. Mungkin sudah pulang dan sadar bahwa tindakannya itu salah. Semoga saja.
Hubunganku dengan Kak Darren, makin ke sini makin harmonis. Nyaris tak ada selisih paham di antara kami, justru manis cinta yang kian terasa. Lusa kami berencana pergi honeymoon. Sedikit terlambat, karena pasca menikah Kak Darren cukup sibuk. Aku pun tak masalah, karena kala itu juga ada musibah yang menimpa Daniel dan Mayra.
Detik ini, aku sedang bermain dengan Dara di ruang tamu. Berdua saja. Bibi sedang mencuci pakaian di belakang, Bu Fatimah pergi ke toko, dan Kak Darren masih di kantor.
Pada saat kami bercanda, tiba-tiba bel berbunyi. Aku beranjak dan membuka pintu lebar-lebar. Perempuan ayu nan manis berdiri tegak di hadapanku. Ia tersenyum lebar, seolah tak mau tahu dengan keterkejutanku.
Bersambung...
__ADS_1