Noda

Noda
Di Mana Luna?


__ADS_3

Luka yang dialami Nadhea cukup berat, bahkan menurut dokter bisa berakibat fatal jika terlambat ditangani. Itu sebabnya, dia tak sadarkan diri hingga enam jam lamanya.


Kaivan menunggu di depan IGD dengan cemas. Tak henti bibirnya memanjatkan doa untuk keselamatan Nadhea. Entah karena kasihan atau mungkin ada alasan lain, Kaivan sama sekali tak rela bila Nadhea tidak tertolong.


"Aku tahu dia wanita yang tegar, pasti baik-baik saja, Kai." Kennan memberikan semangat sambil menepuk bahu Kaivan.


"Arsen pria gila. Aku sampai nggak tega melihat keadaannya," ucap Kaivan.


"Tuntut dengan seberat-beratnya, Kai, biar kapok tuh orang."


"Aku yakin polisi akan mengambil keputusan yang adil. Tapi, ada sedikit mengganjal, Ken," kata Kaivan.


"Apa?"


"Om Wira." Kaivan menghela napas panjang. "Sekarang, cara beliau memperlakukan Nadhea sudah terungkap. KDRT ini juga ada hubungannya dengan tindakan beliau. Mau tidak mau polisi akan memeriksanya, yah walaupun sekedar diberi peringatan. Statusku yang calon mantu, agak susah menjelaskan hal ini, Ken," sambungnya.


"Dengan keadaan yang seperti ini, kamu masih menganggap dirimu calon mantu, Kai? Sorry, nggak bermaksud apa-apa, tapi ... andai aku yang ada di posisimu, mungkin pilih batal nikah aja. Kepada saudara saja dia bersikap seperti ini, apalagi pada orang lain. Nggak menutup kemungkinan, dia akan menginjak harga dirimu bila ada kejadian yang membuat kelebihanmu menghilang. Nggak menutup kemungkinan juga, dia akan bersikap kayak gini bila nanti punya anak yang nggak sesempurna dia," terang Kennan dengan panjang lebar.


Kaivan menoleh seketika, merasa tertampar dengan ucapan sahabatnya. Sebuah pendapat yang sejak tadi juga berkecamuk di benak. Namun, karena perasaan masih terpaut, Kaivan berusaha menepis pendapat itu.


"Walau aku nggak pernah pacaran, tapi aku pernah jatuh cinta. Kalau dipikir-pikir, cinta itu kadang konyol. Tapi, nggak seharusnya kita bodoh karenanya. Bukan maksudku menjelekkan Luna, tapi aku benar-benar kecewa dengan sikapnya. Ini sudah menyangkut nyawa, Kai, tapi dia masih abai. Semua itu nggak akan terjadi kalau dia masih punya hati," sambung Kennan.


"Aku juga sempat mikir ke sana, tapi ... yah katakan saja aku bodoh." Kaivan mengacak rambutnya.


"Aku tahu kamu tidak bodoh, kamu pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik. Sorry, aku udah bicara banyak."

__ADS_1


"Santai aja." Kaivan tersenyum tipis.


"Bagaimana kabar Athreya?" tanya Kaivan beberapa saat kemudian.


"Belum siuman. Doakan saja semoga dia baik-baik saja," jawab Kaivan.


"Aku selalu berdoa untuk dia. Lusa, pekerjaan di sini sudah selesai. Aku akan menjenguknya sebelum pulang ke Malang." Kennan tersenyum masam. "Kamu nggak tahu, Kai, betapa terpukulnya aku atas kejadian ini. Bagiku, dia adalah matahari, yang selalu ceria dan mampu menerangi orang-orang sekitar, juga ... yang terlalu tinggi hingga tak mampu kuraih. Impianku nggak muluk-muluk, melihatnya bahagia itu saja sudah cukup," sambungnya dalam hati.


"Nnati aku mau ke Malang, titip mobil ya. Sekalian tolong sampaikan sama Pak Chandra, aku minta Vita untuk menemani Nadhea di sini. Tadi, aku sudah telpon Om Wira dan Tante Rani, mengabari keadaan Nadhea. Tapi sepertinya, mereka nggak ada niatan ke sini. Luna juga sama, telpon dan chat-ku nggak ada satu pun yang direspon." Kaivan menatap Kennan sekilas.


"Malang? Bukan Surabaya?"


"Om Wira dan Tante Rani ada di Malang. Sebenarnya, aku berharap mereka di Surabaya, sekalian mau nyari lelaki yang namanya Gara. Menurut Nicko, ayahnya tinggal di Surabaya. Tapi, ya udah lah nggak apa-apa. Ada baiknya juga aku ke Malang, biar sekalian ketemu sama Luna," jawab Kaivan.


"Aku nggak mau menunda lagi, Ken. Entah seprti apa akhirnya, yang penting urusan ini cepat selesai." Kaivan menunduk.


"Kamu pasti bisa, Kai. Aku tahu kamu hebat. Tapi, ada baiknya tata hati dengan baik. Aku yakin Luna nggak senang dengan tindakanmu kali ini," ujar Kennan dengan tatapan lekat.


"Aku tahu. Aku sudah mempersiapkan hati dengan kemungkinan terburuk." Kaivan memejam sesaat. Sesungguhnya, berpisah dengan Luna adalah sesuatu yang sulit baginya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Dari waktu ke waktu, keadaan memaksa mereka makin menjauh.


___________________


Tepat pukul 08.00 pagi, Kaivan tiba di depan rumah Luna. Dia memang sengaja memilih penerbangan yang paling pagi agar segera tiba di sana. Usai turun dari taxi, Kaivan terpaku di depan gerbang yang terbuka lebar. Lelah dalam perjalanan yang cukup panjang, ternyata tak selelah hati dan pikiran atas kisah cinta yang rumit.


"Walau hubungan kita sudah hambar dan akhir-akhir ini aku mengabaikanmu, tapi cinta itu masih jelas ada, Luna. Jika boleh memilih, aku ingin kamu berubah dan tetap bersamaku. Tapi, entahlah. Setelah ini, aku tidak yakin hubungan kita masih sama seperti dulu," batin Kaivan sebelum melangkah masuk.

__ADS_1


"Mas Kaivan, silakan masuk, Mas! Kebetulan Tuan dan Nyonya baru saja pulang," ujar pelayan ketika Kaivan tiba di ambang pintu.


"Terima kasih, Bi."


Kaivan terus berjalan dan tak lama kemudian tiba di ruang tamu. Bibirnya terpaksa senyum ketika beradu pandang dengan Prawira dan Rania, yang saat itu sedang duduk di sofa.


"Kaivan!" Mereka tampak kaget.


"Selamat pagi, Om, Tante," sapa Kaivan. Dia berusaha tenang meski pikiran tak karuan.


Sebelum bicara lebih lanjut, Kaivan turut duduk di sofa. Matanya tak henti menatap ke arah ruang tengah, mencari seseorang yang biasa ditemui di rumah itu.


"Masih ada urusan di sini, jadi kami belum bisa ke Bandung. Terima kasih atas bantuanmu, Kai. Ke depannya, kami akan memperlakukan Nadhea dengan lebih baik lagi," ucap Prawira sebelum Kaivan memulai pembicaraan.


"Maafkan tindakan saya yang sudah lancang, Om. Tapi, saya tidak ada pilihan. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Nadhea." Kaivan tersenyum lebar. Tanggapan baik dari calon mertua membuatnya sedikit lebih tenang.


"Tidak apa. Jangan terlalu dipikirkan!"


"Tolong maafkan Luna, Kai. Kami yang salah, terlalu memanjakannya sejak kecil." Rania turut menyela, dengan tatapan yang meredup.


"Tidak apa-apa, Tante, nanti saya akan bicara dengan dia. Tapi ngomong-ngomong, di mana dia?" tanya Kaivan.


Prawira dan Rania diam seketika, bahkan juga berpaling dan menghindari tatapan Kaivan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2