
Hari demi hari bergulir menjadi minggu. Minggu pun terus berputar menjadi bulan dan tahun.
Sabrina Dara Azzahra, sudah genap setahun beristirahat di pembaringan terakhirnya. Rindu, tentu saja iya, tetapi aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin, inilah takdir yang terbaik. Aku percaya, Tuhan tidak akan mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang lebih istimewa. Dalam hal ini pun, aku tetap yakin dengan kasih sayang Tuhan walau sampai detik ini anugerah-Nya belum tumbuh di rahimku.
Dalam mengikhlaskan Dara, aku butuh banyak waktu dan dukungan. Selama ini Kak Darren-lah yang paling berperan. Setiap waktu ia menenangkanku dengan kalimat-kalimat indahnya. Memelukku dengan hangat, lantas mengajakku merangkai harapan untuk masa depan.
Dalam genggam tangannya, kutemukan tawa yang dulu sempat memudar, kujumpa bahagia yang dulu sempat sirna. Namun, untuk kesekian kali bahagia itu tak bertahan lama. Entah apa yang terjadi, dalam dua bulan ini sikap Kak Darren berubah.
Awalnya, kupikir aku yang sensitif. Namun, makin hari perubahan sikap itu makin jelas terlihat. Ia yang dulu sangat penyabar, sekarang mudah emosi, terlebih lagi bila menyangkut tentang anak. Ia yang dulu selalu terbuka, kini seolah ada banyak hal yang sengaja ditutupi. Satu hal yang membuatku kerap berprasangka adalah ponsel. Kak Darren tak pernah meninggalkannya, bahkan ke kamar mandi pun dibawa dengan alasan takut rekan bisnisnya menelepon. Jika benar sekadar rekan, bukankah tidak masalah menunggu sebentar saja? Terkadang aku berpikir, ia sengaja menghindar agar aku tidak mendengar apa yang diperbincangkan.
Pagi ini, aku duduk di tepi ranjang sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Kak Darren sedang membersihkan diri di sana dan seperti biasa ponsel dibawa serta. Berulang kali aku menghela napas panjang, mencoba menerka apa kira-kira yang disembunyikannya.
"Menyebalkan." Aku menggerutu sambil meraih bantal. Lalu, kutelungkupkan wajah di sana sembari berusaha menepis segala prasangka.
"Sayang, kenapa?"
Aku sedikit terkejut saat mendengar suara Kak Darren. Entah kapan datangnya, tiba-tiba sudah ada di kamar. Ketika aku mendongak, kudapati wajahnya yang segar dan rupawan, sangat memesona. Namun, aku tak lantas memuji karena ada beban yang mengacaukan suasana hati.
"Sayang!" Kak Darren kembali memanggil, kali ini sambil meletakkan ponsel ke atas meja.
"Kenapa selalu dibawa?" tanyaku dengan pelan.
"Rekan-rekan itu kadang telfonnya nggak kira-kira, Sayang. Takutnya mereka menghubungi pas aku lagi mandi, kan___"
__ADS_1
"Kan bisa ditelfon balik, atau kalau enggak, aku aja yang angkat. Biar mereka bicara pentingnya apa, lalu aku tinggal ngomong sama Kak Darren. Dulu juga gitu, kan, kenapa sekarang berubah?" Kupungkas ucapannya dengan cepat dan tegas.
"Bukan berubah, Sayang. Cuma ... nanti dianggap kurang profesional, 'kan malah runyam urusannya," jawab Kak Darren.
"Kurang profesional, memangnya mereka melihat dari segi mana? Kak, jangan aneh-aneh deh, mana ada telfon diangkat istrinya dan dikata kurang profesional. Nggak masuk akal!" Aku beranjak dan menatapnya dengan tajam. Namun, ia melenggang menuju almari. Sedikit pun tak membalas tatapanku, justru menunduk dan memilih kemeja serta celana kerja.
"Sayang___"
"Kecuali ... rekan Kak Darren itu wanita. Memang sangat tidak profesional kalau aku yang angkat." Lagi-lagi kupotong ucapan Kak Darren. Kali ini, berhasil membuatnya menoleh, bahkan sampai meletakkan kemejanya dan melangkah ke arahku.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan tegas.
"Sikapmu yang membuat aku curiga, Kak." Aku membuang pandangan ke samping, tak rela jika ia melihat mataku berkaca-kaca.
"Sayang, jangan sembarangan menilai. Jangankan melakukan, membayangkan saja aku tidak pernah. Kamu adalah satu-satunya wanita yang kucintai, jadi tidak mungkin aku selingkuh. Membawa ponsel ke kamar mandi, itu masalah sepele, Sayang. Tolong jangan dibesar-besarkan apalagi dikait-kaitkan dengan kesetiaan. Aku tidak pernah menghianati kamu," kata Kak Darren dengan panjang lebar.
"Pekerjaanku bertambah, Sayang. Kapan hari sudah kukatakan 'kan kalau aku mencoba pekerjaan baru yang sangat menjanjikan." Kak Darren menggenggam kedua bahuku. "Walaupun kita masih berdua, tidak ada salahnya 'kan memikirkan masa depan?" sambungnya yang lantas membuat dadaku sesak.
"Maaf, aku memang belum bisa memberimu keturunan." Aku menunduk.
"Sayang, aku___"
"Aku tahu kamu kecewa, Kak. Setiap kali membahas sesuatu yang berhubungan dengan anak, kamu selalu emosi," pungkasku.
__ADS_1
"Aku tidak pernah emosi. Memangnya kapan aku memarahimu?" Suara Kak Darren terdengar gemetaran.
"Kak Darren memang tidak memarahiku, tapi aku tahu Kakak emosi. Setiap kali kita membahas itu, Kak Darren langsung diam dan menghindar, menatap datar dan mengembuskan napas kasar, tak jarang juga membanting barang yang ada di sekitar. Lalu setelah itu, Kak Darren sedikit bicara sampai berhari-hari. Aku diam bukan berarti tidak mengerti, Kak, melainkan menjaga hubungan agar tidak terjadi pertengkaran. Namun, kamu tetap saja seperti ini. Rasanya sakit, Kak!" Kuungkapkan segala beban yang selama ini berkecamuk di dalam hati.
"Sayang___"
"Maaf, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna," ucapku lirih.
"Jangan salah paham, apalagi menarik kesimpulan yang bukan-bukan. Aku ... tidak pernah kecewa sama kamu." Kak Darren mengeratkan gengggamannya.
Belum sempat aku menyahut, tiba-tiba ponsel Kak Darren bergetar. Dengan cepat ia melangkah menuju meja dan meraih ponselnya.
"Coba angkat di depanku jika itu memang rekan biasa," ucapku ketika Kak Darren mulai melangkah , yang kuyakini akan menuju kamar mandi.
Bersambung.....
Apa kabar kakak semua? Semoga sehat-sehat dan selalu dalam lindungan-Nya, ya, amiin. Maaf ya, up-nya masih sering sendat, ada sedikit anu yang tidak bisa dianu.
Btw, sambil nyapa sekalian promosi juga ya. Boleh, kan? Boleh dong, kalau nggak boleh nangis di pojokan aku.
Aku ada karya baru yang up di aplikasi ini juga, judulnya 'Padam Suluh Jiwa'. Kisah tentang Vander Hanz dan Hafizah Humairah. Vander adalah lelaki pemuja kebebasan yang tak mengenal dosa dan ajaran agama, sedangkan Hafizah adalah wanita bercadar yang senantiasa taat dengan agamanya.
Dua insan yang sangat jauh berbeda, bagaimana bisa menjalin suatu kisah? Yukk, intip jawabannya di novel 'Padam Suluh Jiwa'.
__ADS_1
Terima kasih🤗🤗🤗