
Ketika masih diliputi rasa penasaran, Kaivan kembali dikejutkan oleh getar ponsel. Kali ini bukan telepon, melainkan notifikasi pesan masuk.
"Aku hanya ingin tahu kabar___"
Entah apa lagi lanjutan dari chat itu, hanya empat kata yang terlihat di jendela layar. Lagi-lagi Kaivan bertanya-tanya, siapa gerangan si 'Beban Hidup'?
Di tengah rasa penasaran, Kaivan menyandarkan punggungnya sambil menatap langit-langit ruangan.
"Dia hanya bertanya kabar, kan, mungkin hubungan mereka sekedar teman. Jika ada sesuatu yang tidak benar, pasti Luna membawa ponselnya. Tidak mungkin meninggalkannya di hadapanku." Kaivan mengusap wajahnya. "Nggak seharusnya aku curiga sama dia. Luna gadis baik, pastilah setia," sambungnya.
"Sorry, nunggu lama." Suara Luna beriringan dengan suara pintu yang terbuka.
Kaivan menoleh dan mendapati senyuman semanis madu, sontak saja detak jantungnya kembali terpacu. Ah, Aluna, Kaivan benar-benar jatuh dalam jeratmu.
"Ayo!" ajak Luna sembari memasukkan ponsel ke dalam tas.
Kaivan mengangguk dan kemudian turut beranjak. Sebelum keluar ruangan, Kaivan meraih tangan Luna dan menggenggamnya dengan erat. Kulit lembut dan mulusnya, perlahan menjalarkan rasa hangat di sekujur tubuh Kaivan. Lalu, dia menunduk dan berusaha menenangkan hati yang berdebar melebihi batas normal. Di sampingnya, Luna juga menunduk. Pipinya makin merah dan merona, mungkin juga merasakan hal yang serupa.
Setelah hati masing-masing kembali normal, keduanya melangkah beriringan, sesekali beradu pandang dan melemparkan senyuman. Siapa pun yang menyaksikan, pasti bisa merasakan besar cinta yang mereka punya.
"Sarah, aku akan keluar. Kamu dan yang lain silakan pulang seperti biasa. Nanti, sekalian antarkan mobilku!" kata Luna pada sekertarisnya.
"Iya, Bu." Sarah mengangguk patuh.
Setelah itu, Luna dan Kaivan kembali melanjutkan langkah. Mereka menuju halaman kantor dan memasuki mobil Pajero hitam milik Kaivan. Tak membutuhkan waktu lama, mobil meluncur di atas jalan raya, berpacu dengan kendaraan lain yang turut memadati jalanan.
"Kai!" panggil Luna.
"Iya." Kaivan menoleh sekilas.
"Besok aku akan pulang ke Surabaya," ucap Luna.
"Besok?" Kaivan mengernyitkan kening. "Bukannya pulang ke sana tiap akhir bulan, Luna? Sekarang, kan, masih tengah bulan," sambungnya.
"Sebenarnya iya, tapi ... Papa lagi sakit," jawab Luna.
"Om Wira sakit apa?" tanya Kaivan dengan cepat. Demi apa dia tidak tahu bahwa calon mertuanya sedang sakit.
"Nggak serius sih, hanya pusing dan lemes. Mungkin karena kelelahan. Kebiasaan Papa nggak mau istirahat kalau pekerjaan belum kelar. Cuma kan, aku ini anak tunggal. Jadi, khawatir banget lah. Nggak tega kalau biarin Papa cuma berdua sama Mama, yahh walaupun hanya pusing," jawab Luna.
__ADS_1
"Kamu anak yang berbakti, Luna." Kaivan tersenyum tipis.
"Itu nggak seberapa dibandingkan dengan perjuangan mereka, Kai. Aku bisa sekolah tinggi, bisa punya pekerjaan ini, semua berkat mereka. Sebenarnya, aku dulu keberatan Papa buka cabang di sini. Gimana ya, aku tuh nggak terbiasa jauh dari orang tua." Luna menjeda kalimatnya.
"Tapi, ada hikmahnya juga aku bekerja di sini, jadi ... ketemu kamu. Kalau misalkan aku tetap di Surabaya, pasti masih jadi jomlo sejati sampai sekarang," sambung Luna dengan tawa renyah.
"Iyakah? Bukannya di sana cowoknya cakep-cakep, yah?" canda Kaivan.
"Aku nyari cowok nggak lihat cakep enggaknya, Kai, tapi hatinya. Percuma cakep kalau sifatnya buruk, mending yang wajahnya standar, tapi sifat dan hatinya baik. Namun ... ternyata aku malah dapat dua-duanya, wajah cakep, hati juga baik," terang Luna.
Kaivan terdiam sejenak. Entah mengapa tiba-tiba dia teringat dengan Nadhea, yang punya pemikiran lain dari Luna.
"Kai! Kok malah diem?" tegur Luna.
"Eh, sorry, aku ... aku seneng aja mendengar ... penuturan kamu barusan," dusta Kaivan.
"Bukankah ucapanku tadi adalah hal wajar? Kamu memilihku bukan karena rupa, kan, Kai?" tanya Luna setengah bercanda.
"Tentu saja tidak, Luna." Kaivan menjawab cepat. Dia juga berusaha menepis jauh bayangan Nadhea.
"Syukurlah."
"Mmm, Luna!" panggil Kaivan beberapa saat kemudian.
"Iya."
"Tanya saja."
"Kamu ... punya masa lalu tidak? Sebelum kenal aku," tanya Kaivan. Jujur, dia sangat penasaran dengan kisah asmara Luna. Apakah dulu pernah memiliki cinta yang istimewa, ataukah dirinya menjadi yang pertama.
Luna menunduk sambil mencengkeram tali tasnya, "Kamu ingin jawaban yang jujur?"
"Tentu saja."
"Aku pernah satu kali jatuh cinta dan kami sempat menjalin hubungan. Tapi ... kemudian kandas karena dia mendua. Kai, kamu tidak akan mengkhianatiku, kan?" Luna mendongak dan menatap Kaivan.
Kaivan membalas tatapan Luna sekilas, lalu mengusap pipinya sambil mengucap janji bahwa ke depannya tidak akan ada orang ketiga. Namun, benarkah demikian? Entahlah. Terkadang sesuatu yang sudah direncanakan, justru berantakan karena kenyataan terjadi di luar dugaan.
"Kai!" panggil Luna.
__ADS_1
"Hmm."
"Kalau aku ... pacar keberapa kamu?" tanya Luna.
"Kamu cinta pertama dan pacar pertamaku, Luna." Jawaban Kaivan membuat Luna tersipu.
"Oh ya, Luna, bagaimana kalau besok kuantar saja? Sekalian menjenguk ayah kamu," kata Kaivan kembali pada topik awal.
"Tidak usah, Kai, aku sama sopir saja. Besok, kan, kamu ada job," jawab Luna.
"Kennan pasti bisa handle semuanya," sahut Kaivan.
"Jangan, kasihan dia. Kerja aja, Kai, aku ada sopir kok. Lagian ... sakit Papa juga nggak parah, cuma pusing aja." Luna berusaha meyakinkan Kaivan.
"Baiklah."
________________
Tepat pukul 09.00 malam, Luna tiba di rumahnya. Kaivan baru saja pergi usai mengantarnya dan kini tinggal dia seorang yang berdiri di teras. Lantas, Luna memasuki rumahnya yang megah dan mewah dengan langkah cepat, bahkan sapaan pelayan pun sekadar ditanggapi dengan anggukan.
Luna berhenti di kamarnya dan melemparkan tas di sembarang tempat. Kemudian, menghempaskan tubuhnya di ranjang sambil menghidupkan ponsel. Sedari tadi dia sudah gatal untuk menghubungi seseorang yang disebut 'Beban Hidup'.
"Nggak usah hubungi aku lagi! Aku tuh udah muak dengan kamu!" teriak Luna ketika sambungan telepon sudah terhubung. Tanpa mengucap salam, dia langsung berkata kasar pada seseorang di seberang.
"Aku hanya ingin tahu kabar Papa. Katanya beliau sakit."
"Papa kamu bilang? Dengar baik-baik ya, dia papaku, bukan papa kamu. Kamu bukan lagi bagian dari keluargaku, jadi ... berhenti menyebutnya papa dan berhenti sok peduli. Paham!" jawab Luna masih dengan intonasi tinggi.
"Aku tidak sok, aku memang___"
"Diam! Aku tidak mau mendengarkan alasan apa pun dari mulut kamu. Bagiku, kamu hanya beban hidup. Jadi, berhenti mengusikku!" pungkas Luna.
"Entah syetan apa yang merasukimu, Luna. Kamu___"
"Diam!" bentak Luna.
"Baiklah, semoga kamu bahagia dengan hidupmu. Semoga semua yang kamu capai bisa abadi, agar kamu tidak merasakan sakitnya terjatuh. Mulai detik ini juga, aku akan mengikhlaskan semuanya. Nikmati harta yang kamu rampas dariku, semoga menjadi berkah dalam hidupmu."
Sambungan telepon terputus sebelum Luna memberikan tanggapan. Sembari menatap layar ponsel yang perlahan padam, Luna menelan ludahnya. Terselip rasa takut di dalam hatinya. Kendati ucapan barusan adalah doa yang baik, tetapi pikiran Luna mengarah pada sisi yang berbeda. Dia takut bila suatu saat nanti keadaan berbanding terbalik.
__ADS_1
"Tidak! Itu tidak mungkin! Dia hanya orang lemah, mana bisa membalikkan keadaan. Itu sangat musathil!" ucap Luna dalam kesendirian.
Bersambung...