
Cinta, sebuah rasa yang tumbuh dengan sendirinya. Kita tak bisa memilih ke mana hati akan bertahta.
Cinta, dia datang dengan sejuta keindahan. Melukiskan warna dalam jiwa, menggoreskan pelangi dalam sanubari.
Namun tak jarang, cinta jua menjelma bak belati. Mengiris hati, dan menciptakan luka yang terpatri.
Jika demikian, pantaskah cinta disalahkan? Tidak, dia hanya sebuah rasa, tergantung bagaimana kita mengendalikannya. Tunduk dan menjadi bodoh karenanya, atau membuatnya takhluk dengan logika yang kita punya. Pilihan ada dalam tangan masing-masing.
Dikutip dari novel 'Noda' karya Gresya Salsabila.
Kutatap layar ponselku sambil tersenyum. Berulang kali kubaca tulisan itu, sebuah deskripsi bijak tentang cinta. Di masa lalu, aku pernah tunduk dan menjadi bodoh karena cinta, lantas aku menyalahkannya kala ujian datang menerpa.
Namun kini, aku bisa berpikir dari sisi yang lain. Bukan cinta yang salah, melainkan diriku sendiri. Aku terlalu lemah, aku tak bisa mengendalikan hasrat yang mengatas namakan cinta, hingga akhirnya akal sehat dan logikaku rapuh karenanya.
Saat ini, hidupku sudah lebih baik. Aku bisa menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupku. Empat bulan sudah waktu berjalan, sejak Mayra bertandang dan nyaris salah paham. Selama itu pula, aku benar-benar hilang kontak dengan Daniel.
Usia kandunganku sudah menginjak 8 bulan, secara berkala aku bisa merasakan gerakannya. Dia adalah penyemangat yang senantiasa menghiburku.
Sejak seminggu yang lalu, aku sudah berhenti bekerja. Sebenarnya aku masih kuat, namun Reza melarangnya dengan keras, dan aku memilih untuk menurutinya.
Hubungan kami semakin dekat, meskipun aku belum menerima cintanya. Sikap dan perhatian Reza, mencerminkan sosok lelaki yang bertanggung jawab, namun hatiku masih tak terketuk olehnya. Entah karena aku tahu Mayra mencintainya, atau karena perasaanku sendiri yang belum bisa melupakan Daniel. Ahh, terlalu sulit memahami apa yang kurasakan.
__ADS_1
Ra, aku nggak jomblo lagi sekarang.
Kuterima satu pesan dari Mayra, lantas aku mengernyit heran, apa maksudnya?
Detik berikutnya, Mayra kembali mengirim pesan, kali ini sebuah foto. Di dalam restoran yang interiornya sangat mewah dan elegan, Mayra duduk bersanding dengan seorang lelaki. Ia tersenyum sambil memamirkan cincin permata yang melingkar indah di jari manisnya.
Kamu punya pacar, May?
Iya, ganteng, 'kan?
Siapa dia?
Guru di tempatku magang.
Dua bulan yang lalu, Mayra dan Reza sudah mulai magang. Aku turut bahagia dengan hal itu. Kendati aku gagal menjadi guru, setidaknya orang terdekatku berhasil melangkah sampai ke sana.
Di saat aku masih berbincang dengan Mayra via chat, tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor yang tak dikenal. Awalnya aku ragu, namun akhirnya kuterima karena dia menelepon hingga 3 kali.
"Hallo," sapaku pada seseorang di seberang sana.
"Kirana, ini aku. Tolong buka pintunya, ya, aku ada di depan."
__ADS_1
Jantungku berdetak cepat, seakan ia meloncat dari tempatnya. Aku ingat itu suara siapa, Rafael Daniel Vernandez, lelaki berengsek yang sama sekali tidak punya hati.
"Kirana!"
"Untuk apa kamu datang ke sini!" bentakku tanpa basa-basi.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan, tolong temui aku, Kirana," jawabnya.
"Tidak ada hal penting, Daniel. Karena aku juga tidak penting dalam hidupmu!" sindirku dengan sinis. Enak sekali dia, datang dan pergi tanpa permisi.
"Kirana, tolonglah."
Kumatikan sambungan telepon secara sepihak, lantas kulemparkan ponselku ke atas ranjang. Perutku yang membuncit terlihat naik turun, mengikuti irama napas yang memburu. Emosi kian tersulut, dan itu membuat mataku berkaca-kaca.
"Kenapa kamu datang, di saat aku sedang berusaha melupakan. Kamu benar-benar kejam, Daniel!" geramku dengan tangan yang mengepal.
"Tidak, aku tidak akan sudi menemuimu! Tidak akan! Pergilah sana! Jangan mengganggu hidupku! Mati saja kamu, Daniel!" umpatku pada layar ponsel yang masih menyala.
Detik berikutnya, Daniel kembali menghubungi. Lagu Because Of You, milik Kelly Clarkson, terdengar nyaring di telingaku.
"Telfon saja sesuka hatimu, tapi aku tidak akan menerimanya. Kamu berengsek! Aku benci kamu, Daniel! Aku benci!" pekikku dengan penuh amarah.
__ADS_1
Lolos sudah air mata yang sedari kutahan, pipiku kembali basah, karena seorang lelaki yang bernama Daniel.
Bersambung...