Noda

Noda
Gara


__ADS_3

Kaivan berjalan pelan menuju ranjang tempat Athreya berbaring. Hatinya teriris perih melihat kondisi sang adik—lengan dipasang slang infus dan hidung dipasang oksigen, juga monitor yang merekam detak jantungnya yang sangat lemah.


Air mata Kaivan menetes saat menggenggam jemari Athreya, rasanya dingin, tidak hangat seperti biasa, pun dengan wajah, sangat pucat dan matanya menutup rapat.


"Maafkan Kakak yang nggak becus menjaga kamu, Reya," bisik Kaivan.


Detik berikutnya, tangan Kaivan terulur dan menyentuh perut Athreya yang tertutup selimut. Entah benih siapa yang pernah tumbuh di sana, yang jelas lelaki itu sangat brengsek. Berani menghamili, tetapi tidak berani menikahi. Menurut dugaan Kaivan, lelaki itu mangkir sehingga Athreya nekat bunuh diri.


"Cepat sadar, Reya, dan lihat bagaimana Kakak akan memberikan pelajaran pada lelaki yang telah menyakitimu. Kakak janji akan mencari lelaki itu, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun," sambung Kaivan dengan mata yang terpejam.


Kemudian, Kaivan memeluk tubuh Athreya dan mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Air mata merembas keluar dan membasahi pipi yang pucat pasi. Namun, terlalu indah mimpi di bawah alam sadar, sehingga Athreya tak jua membuka mata meski dingin air mata tak berhenti menetesinya.


Setelah cukup lama bersama Athreya, Kaivan keluar dan berganti Niken yang masuk. Sementara itu, Kaivan menarik tangan Nicko dan membawanya ke halaman rumah sakit.


"Katakan apa pun yang kamu tahu!" ucap Kaivan dengan tegas.


"Aku tidak tahu apa-apa, Kak."


"Jangan menguji kesabaranku, Nicko!" bentak Kaivan. Dia yakin lelaki itu menyembunyikan sesuatu. Pasalnya, sedari tadi selalu menghindari tatapannya.


Sebelum Kaivan melontarkan ancaman, tiba-tiba Nicko berjongkok dan memeluk kaki Kaivan. Selain terus mengucap kata maaf, Nicko juga berjanji akan memberitahukan alamat lelaki yang bernama Anggara.


"Bangunlah dan terangkan dengan jelas! Aku tidak akan marah jika kamu berkata jujur," ujar Kaivan.


Perlahan, Nicko bangkit dan menunduk di hadapan Kaivan. Lagi-lagi dia menyesali kejadian silam—menuruti permintaan kawan yang kerap disapa Gara, yaitu mengenalkannya pada Athreya. Andai tahu kejadiannya akan sefatal ini, Nicko tidak akan pernah melakukannya.


"Jelaskan!"


"Gara adalah kawan SMP-ku. Kami cukup dekat meski tidak lagi menempa pendidikan di tempat yang sama. Waktu itu, dia datang ke rumah dan bertemu dengan Athreya. Atas permintaan Gara, aku mengenalkan Athreya padanya. Kupikir, mereka nggak akan dekat. Athreya adalah gadis alim yang tidak pernah melepas jilbab, sedangkan Gara adalah pemabuk, perokok, dan penampilannya pun jauh dari kata baik. Aku kaget waktu Athreya jujur bahwa dirinya sudah pacaran dengan Gara. Aku pernah mengingatkan, tapi tak diacuhkan, Athreya justru mewanti-wanti agar aku merahasiakan hal itu dari siapa pun, termasuk Mama dan Papa. Bodohnya, aku menuruti permintaan Athreya," terang Nicko dengan panjang lebar.


"Lanjutkan!"


"Aku sering mengingatkan Athreya agar baik-baik menjaga diri karena aku tahu bagaimana sifat Gara. Dulu, dia sering gonta-ganti pasangan, tak jarang juga meniduri mereka. Tapi, Athreya tetap pacaran dengan Gara." Nicko menghela napas panjang. "Tadi, aku pulang larut karena merayakan ulang tahun teman kampus. Waktu melintas di depan kamar Athreya, aku mendengar suara rintihan. Kugedor-gedor kamarnya, tapi nggak ada respon. Akhirnya kudobrak dan kudapati dia sudah tergeletak di lantai. Di sampingnya, ada botol pembasmi serangga yang sudah kosong. Selain itu, aku juga menemukan tes pack bekas pakai di atas ranjang. Aku langsung paham dengan masalahnya, tapi aku belum sempat menemui Gara. Keadaan Athreya sangat parah, jadi aku lebih dulu ke sini. Tapi, tadi sewaktu menunggu dokter, aku berusaha menghubungi Gara, hanya saja ... nomornya tidak aktif," sambungnya.


Kepalan tangan Kaivan mendarat kasar di wajah Nicko, hingga tubuhnya terhuyung dan nyaris terjatuh.


"Kenapa kamu mengenalkan adikku pada lelaki sebrengsek itu, hah!" bentak Kaivan sambil melayangkan pukulan kedua.


"Kaivan, hentikan!" Reza berteriak sambil menahan tubuh Kaivan.

__ADS_1


"Kamu tidak berhak menyalahkan anakku! Kalau sekarang hamil sebelum nikah, itu salah adikmu sendiri yang tidak bisa menjaga pergaulan. Sudah baik kami mengizinkan dia tinggal di rumah, kamu malah tidak tahu terima kasih!" maki Mala. Emosinya terpancing ketika melihat lebam di wajah Nicko, sedangkan putranya itu sama sekali tak mau melawan.


"Ma, sudah, Ma. Jangan memperkeruh suasana," ujar Reza.


"Terus saja bela dia, Mas! Kamu memang nggak bisa lepas dari masa lalu. Masih cinta, kan, sama Kirana!" bentak Niken.


"Ma, sudah. Ini memang salahku, sudah mengenalkan Gara pada Athreya," sela Nicko. Dia tak ingin ibunya kembali salah paham dengan masa lalu.


"Kalau dia bisa menjaga diri. Kenal dengan siapa pun tidak akan hamil duluan."


"Sudah, sudah, semuanya sudah. Athreya sedang kritis di sana, tidak seharusnya kita ribut di sini." Reza kembali angkat bicara.


"Kamu___"


"Ma, jangan mengungkit masa lalu! Aku sudah melupakan itu sejak menikah denganmu." Reza memungkas ucapan Niken sambil merengkuhnya dengan erat, agar emosi mereda seperti sediakala.


Tak lama kemudian, masing-masing saling diam dan kembali ke depan IGD, kecuali Kaivan. Lelaki itu tetap berdiri di tempat semula, ada satu hal yang mengganjal di pikiran.


"Apa maksud ucapan Tante Niken? Ada hubungan apa antara Om Reza dengan Bunda?" batin Kaivan.


____________________


Usai memastikan bahwa ibunya baik-baik saja dan sekadar syok, Kaivan mengajak Nicko menemui Gara. Di sinilah mereka sekarang, meluncur dengan kecepatan tinggi di atas jalan raya di Ibu Kota.


"Perempatan depan belok kiri," ujar Nicko memberikan instruksi.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, Kaivan menghentikan mobilnya di depan rumah megah berlantai dua. Menurut Nicko, itu adalah kediaman Gara dan ibunya.


"Mudah-mudahan saja dia ada," ucap Nicko sebelum melangkah turun.


Kaivan tak menanggapi ucapan Nicko, justru langsung turun dan bergegas menuju pintu gerbang. Dengan tergesa-gesa, dia memencet bel yang ada di sana. Satu kali, dua kali, hingga lima kali tak ada respon sama sekali.


"Ah, sial!" Kaivan menggeram sambil menendang pagar besi yang ada di hadapannya.


"Sabar, Kak, mungkin dia masih tidur. Biasanya bangunnya memang siang."


"Katamu dia tinggal dengan ibunya, ada pembantu juga. Apa mereka ikut bangun siang?" jawab Kaivan dengan intonasi tinggi.


Nicko menunduk. Lalu mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Gara. Namun, hasilnya tetap nihil. Nomor Gara di luar jangkauan.

__ADS_1


"Cari siapa, Tuan?" tanya wanita dewasa yang melintas di sana sambil menenteng belanjaan.


"Saya nyari Gara, Bu," jawab Nicko.


"Waduh, Tuan Gara sedang tidak ada. Semalam, beliau dan ibunya pergi ke luar kota, bahkan asistennya juga ikut."


"Ke luar kota? Kalau boleh tahu ke kota mana ya, Bu?" tanya Kaivan.


"Maaf, Tuan, saya kurang tahu. Semalam pas saya tanya ke Mbak Darmi, katanya ke luar kota gitu aja."


Karena tidak mendapatkan titik terang, Kaivan dan Nicko beranjak pulang. Nicko memasang raut cemas, sedangkan Kaivan lebih terlihat kesal. Dia melupakannya dengan menginjak pedal gas kuat-kuat.


"Kira-kira ke mana dia?" tanya Kaivan tanpa menoleh.


"Aku tidak bisa menebak pasti, Kak. Selama ini yang kutahu hanya ayahnya tinggal di Surabaya. Tapi, entah dia akan ke sana atau tidak. Setahuku, hubungan mereka tidak terlalu baik. Ayah dan ibunya cerai, sejak kecil Gara ikut ibunya," jawab Nicko.


"Kamu ada fotonya?"


"Ada, Kak."


"Kirim ke nomorku!" perintah Kaivan.


"Baik, Kak."


Setelah tiba rumah sakit, Kaivan tak segera turun. Dia tidak peduli meski Nicko sudah keluar dan mungkin sudah tiba di depan IGD. Kaivan fokus menatap wajah lelaki yang terpampang di layar ponselnya. Meski tampan, tetapi penampilan sedikit urakan. Rambut dicat, telinga dipasang anting, kalung hitam melingkar di leher, juga tato yang menghiasi lengan kiri. Selain itu, jemarinya tampak menggapit rokok yang tinggal setengah.


"Rasanya ... wajah ini sedikit familiar. Apa aku pernah bertemu dengannya?" gumam Kaivan.


Usai mengamati wajah Gara, Kaivan membaca chat yang semalam belum sempat dibuka. Selain dari Luna, Kaivan juga membaca chat dari tiga nomor asing. Dua di antaranya dari klien yang berterima kasih atas hasil kerjanya, sedangkan yang satu dari seseorang yang sontak membuat jantungnya berdetak cepat.


Bersambung...


Dalam novel, biasanya banyak hal yang saling berhubungan. Ada yang bisa menebak Gara ini siapa?


Seorang tokoh yang sebelumnya pernah muncul (sebagai sampingan sekilas yang kemungkinan langsung dilupakan)


Atau seseorang yang ada hubungannya dengan tokoh yang sering muncul?


Terus, siapa kira-kira yang mengirim pesan kepada Kaivan?

__ADS_1


Monggo ditebak🙃🙃🙃🙃🙃🙃


__ADS_2