Noda

Noda
Takdir Selalu Indah


__ADS_3

Aku mengulas senyum getir, sebelum menjawab ucapan Bu Fatimah. Ingatan tentang Ibu kembali melintas di pikiranku. Wanita yang hadirnya bak malaikat, sekarang aku tinggalkan tanpa kabar. Rasa rindu ini sebenarnya sangat menyiksa, namun apa bisa dikata, aku tak ingin menjebak Ibu dalam dilema. Mas Denis dan Mas Bayu sudah menolak kehadiranku, sedangkan mereka yang lebih pantas berdiri di sisi Ibu.


"Kirana!"


Suara Bu Fatimah membuyarkan lamunanku.


"Orang tuaku sudah meninggal, Bunda. Ibu meninggal saat melahirkan aku, sedangkan Ayah, beliau meninggal saat tahu aku hamil. Aku memang bodoh, Bunda," jawabku tidak berbohong, namun juga tidak sepenuhnya jujur.


Bukan tanpa alasan aku menjawab demikian. Jika aku mengatakan Ibu adalah ibu kandungku, aku takut Bu Fatimah akan mengembalikan aku ke rumah, karena beliau tidak tahu sesulit apa posisiku di sana. Aku tidak mungkin menceritakan statusku yang sebenarnya. Sebagai seorang anak, tidaklah pantas mengumbar aib orang tua.


"Jangan mengatakan demikian, Kirana. Manusia itu memang tempatnya salah dan khilaf." Bu Fatimah beranjak dan duduk di sebelahku. Sentuhan hangatnya, mengusap lenganku dengan lembut.


"Terima kasih, Bunda. Maaf ya, waktu itu aku sempat mencurigai Bunda," ucapku, penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Bunda paham, Kirana. Ngomong-ngomong, kenapa malam itu kamu ingin bunuh diri? Apa ada hubungannya dengan ... kehamilan kamu?" tanya Bu Fatimah dengan suara lirih. Seolah beliau takut, jika pertanyaan itu menyinggungku.


"Iya, Bunda. Aku merasa lelah dengan hidupku. Aku sudah memperbaiki diri, sudah menerima semua ini dengan ikhlas, tapi ... Tuhan masih saja mengujiku. Rasanya aku tidak kuat, Bunda." Aku menunduk, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang.


"Kirana, ujian yang Allah berikan untuk kita, itu semata-mata untuk membimbing kita ke jalan yang benar. Sebelum kamu berniat bunuh diri, sudahkah kamu kembali ke jalan Allah?" Bu Fatimah menyibakkan rambutku yang menjuntai menutupi wajah.


"Aku___"


"Ceritakan saja, tanpa menyebutkan nama. Bunda akan menjadi pendengar, dan insyaa Allah akan memberikan masukan," sahut Bu Fatimah.

__ADS_1


"Aku hamil dengan lelaki Non Muslim, Bunda." Kutatap wajah Bu Fatimah. Beliau sedikit terkejut, namun detik berikutnya kembali tersenyum.


"Lanjutkan."


"Kami mempertahankan keyakinan masing-masing, itu sebabnya kami tidak bisa menikah. Dia mencarikan rumah kontrakan untukku, dan mengirimkan uang setiap bulannya. Dia meminta tolong pada seseorang untuk menjagaku, seorang lelaki yang katanya mencintaiku. Di waktu yang sama, dia menjalin hubungan dengan sahabat dekatku." Kuhela napas panjang, sebelum meneruskan cerita.


"Aku dan dia sudah tidak ada jalan untuk bersama, jadi aku mulai belajar mencintai lelaki yang tinggal di dekat kontrakan. Beberapa bulan berjalan, aku berhasil melakukannya. Aku mulai menerima dia sebagai kekasih. Akan tetapi, di saat yang sama aku kembali terluka. Cintanya palsu, dia hanya orang suruhan yang melakukan itu demi uang. Aku berniat pergi ke Turen, aku ingin meninggalkan semua kisah kelamku di sini. Namun, di tengah jalan aku ditipu oleh ibu-ibu. Dia memberiku minuman yang membuatku tertidur, dan semua barang-barangku diambil olehnya. Lalu aku berjalan tak tentu arah, dan akhirnya tiba di jembatan itu," sambungku dengan panjang lebar.


Kudengar embusan napas Bu Fatimah yang panjang nan kasar. Lantas aku mengangkat wajah, dan menatap beliau.


"Boleh Bunda berpendapat?" Bu Fatimah balas menatapku dengan senyuman.


Aku tak membuka suara, namun aku menanggapinya dengan anggukan.


"Ujian adalah bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya. Dia memberikan ujian, agar manusia kembali ke jalan yang benar, bukan kembali ke alam baka. Nak, selalu ada hikmah di balik musibah. Takdir Allah itu selalu indah dan tak pernah salah," sambung Bu Fatimah, tanpa mengalihkan tatapannya.


Aku bergeming dalam waktu yang cukup lama. Aku bergelut dengan perasaanku sendiri. Menutup aurat adalah hal yang selama ini tak pernah kupikirkan. Jika takdir itu selalu indah dan tak pernah salah, apakah pertemuanku dengan Bu Fatimah itu juga bagian dari takdir? Mendengar petuah beliau, hatiku terketuk untuk mengubah penampilan. Aku juga lebih tenang dan ikhlas dalam menerima semua hal yang telah terjadi.


"Maaf, jika Bunda menyinggungmu. Bunda___"


"Tidak, Bunda, aku justru berterima kasih. Berkat Bunda, aku sadar dimana salahku. Aku merasa malu telah mengeluh dan menyalahkan takdir Allah. Bunda, apakah pertemuan kita ini juga takdir?" Aku tersenyum riang.


"Mungkin saja, Nak." Bu Fatimah mengusap puncak kepalaku. "Oh ya, kamu mau tahu tidak, seperti apa kisah kelam Bunda?"

__ADS_1


"Mau, Bunda," jawabku dengan antusias.


Bu Fatimah diam sejenak, mungkin menata hati sebelum mengulik luka lama.


"Bunda dulu menikah dengan lelaki yang Bunda cintai. Waktu itu Bunda belum menutup aurat, malahan Bunda sering memakai pakaian minim. Awalnya kami hidup bahagia, namun semuannya berubah ketika Bunda tak kunjung hamil. Kandungan Bunda lemah dan bermasalah. Menurut dokter sangat sulit untuk punya anak, dan kalaupun bisa itu kemungkinannya akan cacat. Sejak saat itu, suami Bunda mulai hilang perasaan. Setiap harinya hanya bermain wanita, tanpa memikirkan hati Bunda."


Kulihat setitik air membasahi sudut mata Bu Fatimah, aku paham betapa sakitnya luka yang masih tertinggal. Lantas kugenggam jemari beliau, kuyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Di tahun ke-4, Bunda mulai hamil, dan suami Bunda perlahan mengubah kebiasaannya. Dia nyaris kembali seperti awal menikah. Namun, semua itu hanya harapan semu. Anak yang Bunda lahirkan kurus dan sakit-sakitan, bahkan dia sudah divonis lumpuh oleh dokter. Suami Bunda sangat marah, dia tidak bisa menerima kenyataan. Dia tega menceraikan Bunda karena hal itu. Bunda menghidupi anak seorang diri, dan kemudian ditolong oleh seseorang. Berkat orang itu, Bunda berhasil seperti sekarang. Punya kehidupan yang layak, juga punya iman kepada Allah. Selamanya, Bunda akan menganggap orang itu sebagai kakak," sambung Bu Fatimah, kali ini diiringi senyum simpul.


"Lantas sekarang, di mana suami Bunda? Dan ... bolehkah aku tahu tentang anak Bunda?" tanyaku dengan hati-hati.


"Suami Bunda kecelakaan, dua tahun setelah kami berpisah. Waktu dia dirawat di rumah sakit, Bunda sempat menjenguk. Dia minta maaf, dan memberikan amanat yang terlalu sulit untuk Bunda pahami. Dia meninggal, sehari setelah Bunda jenguk. Sedangkan untuk anak Bunda, dia meninggal ketika usianya belum genap 15 tahun. Penyakit yang ia bawa sejak lahir, semakin parah dan ia tak sanggup bertahan," jawab Bu Fatimah.


"Sabar, ya, Bunda." Kupeluk Bu Fatimah dengan erat.


"Iya, Nak, Bunda sudah ikhlas. Hanya saja ... terkadang Bunda masih kepikiran dengan amanatnya," ucap Bu Fatimah.


"Memangnya, apa amanatnya, Bunda?" tanyaku, penasaran.


"Tolong sampaikan kata maafku padanya. Bunda tidak tahu 'dia' siapa yang dimaksud. Jadi, sampai saat ini Bunda belum bisa menjalankan amanat itu," jawab Bu Fatimah, yang lantas membuatku berpikir keras.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2