
Getar mesin mobil masih jelas kurasakan, tetapi pikiranku terus menerawang. Tak peduli seperti apa jalan yang kulalui, bayangan hari ini yang lebih mendominasi. Daniel, Mayra, betapa banyak ujian yang menimpa mereka. Dalam hati aku bertanya-tanya, siapa gerangan yang menghamili Mayra. Rasa penasaran, yang kemudian membuatku berprasangka buruk pada orang-orang yang pernah dekat dengannya.
"Sayang, dari tadi kamu gelisah," kata Kak Darren.
Aku menatapnya sekilas, lalu menunduk dan meremas botol minuman yang sedari tadi kugenggam.
"Aku ... kepikiran soal Mayra. Aku tidak rela dia hancur kayak gini. Harusnya orang itu ikut bertanggung jawab, Kak," ucapku dengan pelan. Tak kusebutkan bahwa aku juga memikirkan Daniel, tak ingin ia salah paham. Lagi pula aku memikirkannya bukan karena suka, melainkan prihatin atas masalah yang menimpa.
"Memikirkan boleh, tapi jangan terlarut-larut. Nanti berpengaruh pada kesehatan kamu, Sayang." Kak Darren bicara sambil mengusap punggung tanganku.
"Sebenarnya, aku ingin tahu siapa lelaki yang telah menghancurkannya, tapi___"
"Sayang, aku tahu kalian bersahabat. Tapi jika dia enggan berbagi, kamu tidak boleh memaksa. Sedekat apa pun persahabatan, privasi itu pasti ada," pungkas Kak Darren.
"Iya, Kak." Aku mengangguk dan tersenyum. "Tapi ... kapan-kapan mau 'kan besuk Mayra lagi?" sambungku.
"Tentu saja, Sayang." Kak Darren mengusap pipiku sambil tersenyum lebar.
Tak lama kemudian, Kak Darren membelokkan mobilnya. Aku mengernyitkan kening. Pasalnya, Kak Darren belok ke kanan, sedangkan jalan pulang seharusnya ke kiri.
"Kak, kita mau ke mana?" tanyaku.
"Makan sebentar ya. Aku laper, Sayang. Nanti sekalian beli sesuatu untuk Dara dan Bunda," jawab Kak Darren. Sejak kemarin ia memanggil Bu Fatimah dengan sebutan 'bunda', sama sepertiku.
"Boleh."
"Aku mau ajak kamu ke tempat yang adem, tenang, dan romantis. Siapa tahu dengan begitu kamu bisa lebih tenang." Kak Darren bicara sambil menatapku sekilas.
"Iya, Kak. Mmm, tapi di mana tempatnya, jauh kah?" Aku kembali bertanya.
"Tidak." Kak Darren menggeleng. "Ini bukan tempat mewah, Sayang. Sederhana, tapi ... luar biasa."
__ADS_1
"Ngikut aja deh," sahutku dengan tawa renyah.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Kak Darren menghentikan mobilnya, tepat di depan kedai yang terbuat dari bambu. Aku menilik dari balik kaca. Sangat asri dan menenangkan. Kendati di sekitar juga banyak kedai yang serupa, tetapi di hadapanku ini yang paling istimewa. Ukurannya lebih besar dan warnanya pun lebih mencolok. Aneka macam anggrek ditata sedemikian rupa, amat elok dipandang mata.
"Bagus, nggak?" tanya Kak Darren.
"Banget." Aku menoleh dan tersenyum lebar.
"Di dalam jauh lebih indah," kata Kak Darren. "Masuk, yuk."
Aku mengangguk dan membuka pintu mobil, Kak Darren pun melakukan hal yang sama. Lantas kami melangkah dan memasuki kedai.
Tiba di ambang pintu, netraku langsung disambut dengan ruangan yang elegan dan natural. Kendati meja dan kursi terbuat dari bambu, tetapi warnanya terang dan mengkilap. Tak kalah indah dengan perabotan impor. Berbeda dari tempat kebanyakan, di kedai ini menggunakan bunga hidup sebagai hiasan. Baik di meja, maupun di sudut ruangan.
"Di sana yuk," ajakku pada Kak Darren. Kutunjuk meja nomor 05, tepat di dekat jendela.
"Ayo." Kak Darren mengangguk dan membimbingku ke sana.
"Darren, ini beneran kamu?"
Seketika aku mendongak dan menatap ke sumber suara. Wanita berparas cantik dan berpenampilan menarik. Kutilik dari ujung kaki hingga ujung kepala, nyaris tak ada cela. Tubuh dan wajahnya tampak terawat, pakaian dan aksesorisnya pun terlihat mewah. Aku yakin ia orang kaya.
"Siapa dia, mengapa Kak Darren menatap lama?" batinku.
"Amanda," gumam Kak Darren, beberapa detik kemudian.
Jantungku berdetak cepat. Aku ingat siapa Amanda. Atasan, sekaligus masa lalunya. Kendati aku pun punya masa lalu, tetapi tak kumungkiri rasa cemburu itu ada. Apalagi saat melihat parasnya yang menawan, mendadak rasa insecure yang menguasai diri.
"Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini, Ren. Masih suka ya, sama tempat ini?" Kulihat matanya mengerling. Ahh, membuatku makin kesal saja.
"Aku hanya___"
__ADS_1
"Aku paham, kamu lagi kangen 'kan sama tempat ini?" pungkas wanita itu tanpa tahu malu.
"Amanda, kamu___"
"Aku pun demikian, Ren. Aku sangat kangen dengan tempat ini, apalagi ... dengan orang yang pernah mengukir kenangan di sini."
Lagi-lagi wanita itu memungkas kalimat Kak Darren. Namun kali ini, ucapannya membuatku tersentak. Orang yang pernah mengukir kenangan, mungkinkah yang ia maksud Kak Darren? Jika iya, lantas mengapa Kak Darren mengajakku ke sini?
Susana hatiku makin tak nyaman, terlebih lagi saat melihatnya duduk di samping Kak Darren. Entah sengaja atau matanya memang bermasalah. Sama sekali tak mau menatapku, seolah diri ini sekadar angin yang tak ada wujudnya.
Sebenarnya, mudah saja melemparinya dengan buku menu atau juga pot bunga. Namun, demi menjaga martabat dan etika, aku masih menahan diri.
"Cukup, Amanda! Kamu salah paham. Aku ke sini hanya untuk makan, tidak ada alasan kangen atau yang lain. Aku ke sini dengan istriku." Kak Darren bicara dengan intonasi tinggi, sembari tangannya menunjuk ke arahku.
Wanita itu menatapku dengan mata yang menyipit, sepertinya ia kurang suka dengan diriku. Kuikuti ekor matanya, juga sudut bibir yang perlahan membentuk senyuman miring.
Tanpa bisa kutahan, tanganku mencengkeram buku menu dengan erat. Sepatah saja mulut itu merendahkan, tak segan-segan kubalas dengan tindakan.
Bersambung...
Jawaban bagi yang bertanya, kenapa up-nya lama;
Terima kasih untuk Kakak-kakak semua yang masih bersedia mendukung karyaku. Maaf, beribu maaf, bila sekarang up-ku sangan selow. Bukan apa-apa, tapi sedikit lelah aja. Apalagi sejak diterapkan sistem yang baru, yang mana hanya memberikan peluang besar bagi penulis dengan jumlah pembaca jutaan (sedangkan aku masih merangkak di ratusan)
Sudah setahun lebih aku menulis di sini (empat novel tamat, satu lagi on going) belum pernah sekali pun karyaku dipromosikan di beranda (promosi dalam arti yang sebenarnya, bukan sekejab lewat lantas hilang)
Promo sana-sini, mencari pembaca sendiri, lumayan sulit. Dulu aku berharap, ada saatnya salah satu novelku bisa masuk beranda. Aku positif thinking sambil tetap memperbaiki PUEBI dan alur. Namun kenyataannya, semua itu hanya angan belaka.
Mungkin, kriteria 'novel bagus' di sini sangat tinggi, sehingga novel-novelku termasuk buruk dan tidak layak dipromosikan di beranda. Awalnya, aku masih berusaha dan terus belajar. Namun, sekarang aku sudah menyerah. Sudah berusaha keras, tapi tetap saja. Karyaku tidak pernah dipromosikan di sana. Sekarang, aku berusaha menerima kenyataan, bahwa novelku di sini termasuk buruk. Jadi aku tidak mengejar lagi. Aku lebih memilih bercabang di tempat lain (si ungu/kuda terbang)
Itulah mengapa aku gak bisa up serajin dulu.
__ADS_1
Novel Noda TIDAK akan pindah, tetap tamat di sini. Hanya saja up-nya sangat selow. Aku nggak bisa janji dua hari sekali atau tiga hari sekali (tapi tetap up sampai tamat). Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya.