Noda

Noda
Apa Kamu Tetap Mencintaiku?


__ADS_3

"Kai, aku nggak___"


"Sejak kecil aku nggak pernah berprestasi, bahkan mendapat nilai cukup saja sangat beruntung. Aku sudah belajar dan berusaha keras, tapi hasilnya tidak ada. Aku tetap bodoh. Aku berbeda jauh dengan kedua adikku yang sangat berprestasi, yang entah sudah berapa banyak piala yang mereka kumpulkan. Sejak kecil, hobiku hanya menikmati keindahan alam dan mengabadikannya dalam sebuah potret. Berulang kali Papa menyuruhku belajar bisnis, tapi aku selalu gagal." Kaivan bicara panjang lebar sambil beranjak dari duduknya.


"Kai___"


"Asal kamu tahu, Luna, aku pernah tidak lulus SMA. Lantas, aku mengulang setahun untuk mendapatkan ijazah. Sekarang kamu tahu, kan, betapa miripnya aku dengan Nadhea?" potong Kaivan dengan nada datar.


"Kamu tidak sama, Kai. Kamu dan dia sangat berbeda." Luna turut beranjak. "Mungkin, kamu memang punya kekurangan, tapi kamu giat berusaha. Bahkan, kamu bisa mengasah hobimu dan menjadikannya profesi yang menjajikan. Sementara Nadhea, dia sama sekali tidak berusaha. Dia pemalas, hobinya pun tidak berguna," sambungnya.


"Aku berusaha karena ada dukungan, Luna. Aku bisa mengasah hobiku karena keluarga mendukung. Walau otaknya jauh di atasku, Reyvan dan Athreya tidak pernah membenci. Mereka justru memberikan semangat untukku. Begitu pun dengan Papa dan Bunda. Meski aku kerap mengecewakan, tapi mereka selalu bangga dan mendukung pilihanku. Andai aku diabaikan seperti Nadhea, semua ini tidak akan bisa kudapatkan. Aku___"


"Jadi menurutmu, aku dan orang tuaku yang salah?" Kali ini Luna yang memungkas ucapan Kaivan.


"Apa menurutmu tidak?" Kaivan balik bertanya.


Luna mengembuskan napas kasar, lalu berpaling sambil melipat tangan di dada.


"Hobinya hanya melukis dengan hasil yang payah. Sebenarnya dia tidak ada bakat dalam hal itu, tapi ... ah, namanya juga pemalas. Sewaktu kecil Mama dan Papa sudah memberikan fasilitas yang lengkap, tapi dia tidak mau berusaha. Lantas, apakah salah jika Mama dan Papa mencabut fasilitas itu? Bukankah hanya sia-sia membiayai seseorang yang tidak ada niatan untuk maju?" ucap Luna.


"Bukan tidak ada niatan, Luna, tapi kemampuannya memang sebatas itu. Dan untuk hobi melukis yang kamu sebutkan, semua butuh proses. Awal yang buruk, bila diasah dan ditekuni lama-lama akan menjadi bakat yang istimewa. Untuk biaya, entahlah, itu akan sia-sia atau tidak. Tapi yang jelas, Papa dan Bunda tidak pernah perhitungan padaku. Sewaktu aku tidak lulus, mereka menawariku sekolah di luar kota agar aku tidak malu. Tapi, kutolak. Kemudian, mereka memberiku modal untuk mendirikan Romantic Resto, padahal sangat tahu aku payah dalam bisnis. Tapi, mereka tetap mendukung. Akhirnya, restoran itu berhasil berkembang atas bantuan Reyvan. Intinya, dukungan keluarga yang membawaku pada posisi ini."


"Kai, kenapa kamu terus membela Nadhea sih?" Luna menatap Kaivan dengan sedikit memicing, ada perasaan kesal karena Kaivan terus menyudutkannya.

__ADS_1


"Aku nggak membela, Luna. Aku hanya bicara apa adanya. Tanpa dukungan keluarga, aku pasti sama seperti Nadhea," jawab Kaivan.


"Beda, Kai. Sudah berulang kali kukatakan kamu dan dia beda. Kamu ada niatan, sedangkan dia sangat malas. Setiap orang tua punya cara sendiri-sendiri untuk mendidik anaknya. Tante Kirana dan Om Darren sangat lembut, sedangkan Papa dan Mama sedikit keras. Tapi, semua itu mereka lakukan demi kebaikan Nadhea juga, agar dia punya pikiran untuk maju."


"Termasuk dengan menghapus namanya dari daftar keluarga?"


Luna mengerjap cepat, lalu menunduk dan menggenggam tangan Kaivan.


"Mungkin dalam hal itu Mama dan Papa sedikit berlebihan, tapi apa yang bisa kulakukan. Itu keputusan mereka, aku tidak punya keberanian untuk ikut campur," ucapnya.


Kaivan memejam sesaat. Entah mengapa dia ragu bahwa ucapan Luna adalah sesuatu yang benar. Namun, Kaivan tak mempertanyakan hal itu. Dia justru menanyakan hal lain yang sedari tadi membuatnya penasaran.


"Masa lalumu, apakah ada hubungannya dengan Nadhea?" tanya Kaivan.


Luna mendongak dengan cepat dan menatap Kaivan dengan lekat.


"Saat itu aku baru mengenal cinta, dan aku juga masih remaja, baru lulus SMA. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan ketika Novan datang menyatakan cinta. Iya, dia adalah pacarnya Nadhea," jawab Luna.


"Lalu, kenapa kalian putus?"


"Dia selingkuh."


"Aku ingin bertanya satu hal lagi," kata Kaivan.

__ADS_1


"Tanyakan saja!"


"Andai saja keluargaku tidak memberikan dukungan penuh. Andai aku tidak lanjut sekolah ketika gagal lulus SMA, juga tidak mengasah hobi sebagai fotografer. Andai aku bekerja serabutan dengan gaji yang tidak pasti. Apakah kamu tetap mencintaiku, Luna?" tanya Kaivan.


Kemudian, dia berhitung dalam hatinya. Sampai hitungan ke-35, Luna belum memberikan jawaban, sekadar bola mata yang menari ke sana kemari, juga bibir yang bergerak pelan. Dengan batin yang sedikit sesak, Kaivan mengulas senyum lebar.


"Lupakan saja! Toh sekarang aku punya pekerjaan yang lumayan. Ada gaji pasti setiap bulannya." Kaivan berucap sambil mengusap lembut puncak kepala Luna.


_____________


Di salah satu sudut Kota Jakarta, di sebuah rumah megah berlantai tiga, Athreya dan Nicko duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Athreya tampak anggun dalam balutan rok panjang dan kemeja warna dusty pink, juga kerudung segi empat warna senada. Sementara Nicko, dia mengenakan celana pendek dan kaus putih tanpa kerah. Keduanya terlibat obrolan yang serius.


"Aku nggak bisa kayak gini terus, Reya. Aku nggak mau menodai kepercayaan Papa dan Om Darren," ujar Nicko.


"Tapi aku nggak punya pilihan lain, Kak." Athreya menjawab lirih sambil meremas ujung kemeja.


"Kamu ada pilihan, Reya. Akhiri saja semua ini!" kata Nicko.


"Aku tidak bisa."


"Kenapa?" Nicko menatap lekat. "Kamu gadis yang cerdas, Athreya, seharusnya tidak memilih jalan ini," sambungnya.


Tidak ada jawaban dari mulut Athreya, sekadar isakan yang samar-samar mulai terdengar.

__ADS_1


"Satu hal yang paling kusesali adalah mengenalkanmu padanya. Jujur, aku sangat kecewa denganmu, Athreya," ucap Nicko yang lantas membuat Athreya makin sesenggukan.


Bersambung...


__ADS_2