Noda

Noda
Fakta-fakta Mengejutkan


__ADS_3

Tanpa banyak kata, Kak Darren membimbing lenganku dan kami melangkah menghampiri dua lelaki di depan sana.


Jantungku berdetak cepat. Ada rasa waswas dan cemas yang datang secara tiba-tiba. Daniel, ada apa gerangan? Mengapa ia di kantor polisi, dan mengapa tangan ayahnya diborgol?


"Daniel."


Kak Darren terlebih dahulu menyapa, sebelum aku membuka suara. Kurasakan genggamannya makin mengerat. Entah karena prihatin dengan keadaan Daniel, atau justru tidak rela bila aku bertemu dengan lelaki itu.


Daniel menoleh dan menatap kami. Banyak kemelut yang bersarang dalam netranya, aku tak bisa menebak apa saja yang ia pikirkan. Sekilas ia mengulas senyum tipis, lantas bergumam menyebut nama kami berdua.


"Ada apa?" Aku bertanya pelan sembari melirik ayahnya—Om Markus.


Daniel tak menjawab, sekadar menunduk dan mengembuskan napas kasar. Sedangkan Om Markus, beliau dibawa pergi menuju ruang pemeriksaan.


Aku dan Kak Darren pun ikut diam. Hingga tubuh Om Markus menghilang di balik dinding, hanya derap langkah yang tertangkap pendengaranku.


"Papa ikut terlibat ... seperti ... Mayra," ucap Daniel dengan pelan.


Sontak aku langsung menatapnya. Ia menunduk dengan tangan yang mengepal erat. Bintik-bintik keringat membasahi pelipis dan juga rahangnya. Raut wajah amat layu, bak tak ada lagi gairah hidup. Sekian tahun aku mengenalnya, baru sekarang melihatnya sangat kacau. Bahkan ketika aku menolaknya pun, ia tak separah ini.


"Narkoba?" tanya Kak Darren.


"Iya." Daniel mengangguk. "Entah dari mana Papa memulainya, semua itu di luar pengetahuanku. Mama pun sangat kaget, sampai-sampai ... jantungnya kambuh dan sekarang koma di rumah sakit."


Penuturan Daniel membuatku kesulitan menelan ludah. Begitu besar cobaan yang menderanya saat ini. Dalam hati tak henti-hentinya kupanjatkan doa, berharap ia tetap tegar menghadapi segala ujian.


"Apa ini yang kamu maksud kemarin?" tanya Kak Darren yang lantas membuatku penasaran. Apa maksudnya?


"Iya." Lagi-lagi Daniel mengangguk.


"Yang sabar, ya. Serumit apa pun masalah, pasti ada jalan keluarnya. Sebagai ayahnya Dara, aku juga peduli sama kamu. Katakan, apa yang bisa kulakukan untukmu?" kata Kak Darren.

__ADS_1


"Tidak banyak. Cukup penuhi apa yang kuminta kemarin. Aku sangat berharap kamu bisa, Ren." Daniel menepuk bahu Kak Darren dan melangkah pergi meninggalkan kami.


"Daniel," panggilku sebelum ia benar-benar menjauh.


Daniel menoleh dan tersenyum tipis. Entah sekadar ilusi atau memang benar adanya, kulihat tatapannya sama persis seperti waktu dulu. Mengapa?


"Hidup ini ada yang mengatur. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, itulah yang terbaik. Tuhan Maha Tahu atas diri kita. Seberat apa pun ujian yang menimpa, serendah apa pun titik kita terjatuh, tetaplah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan begitu, segalanya akan terasa mudah. Percayalah, Tuhan selalu ada bersama kita," ucapku padanya.


"Terima kasih, aku akan selalu mengingat nasihatmu." Daniel makin melebarkan senyuman, tetapi hanya sekilas. Lantas ia kembali melanjutkan langkah dan masuk ke ruangan yang sama dengan ayahnya.


Setelah Daniel hilang dari pandangan, aku menoleh dan menatap Kak Darren. Namun, ia masih menatap ke depan. Matanya sedikit sayu, seolah ada hal yang dipikirkan.


"Kak," panggilku.


Kak Darren mengusap wajahnya dan menatapku. Lantas langsung memelukku dengan erat.


"Aku mencintaimu, Sayang, sangat mencintaimu. Aku akan membuatmu bahagia. Bersamaku, kamu tidak boleh sedih sedikit pun. Jika ada yang membuatmu tak nyaman, katakan saja. Jangan memendam apa pun sendiri, berjanjilah untuk selalu bahagia," ucapnya di sela-sela pelukan.


"Kak, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" Aku bertanya sambil berusaha melepaskan pelukan. Jujur, aku masih penasaran dengan perbincangannya bersama Daniel. Namun, Kak Darren tak menjawab, justru mendekapku makin erat.


"Kak," panggilku karena Kak Darren masih saja terdiam.


"Dia___"


"Maaf, tolong bersikap sopan di tempat kami. Bila tidak ada keperluan, kami persilakan pergi."


Salah seorang polisi menegur kami dan membuat Kak Darren menghentikan kalimatnya. Kami tersentak dan spontan melepaskan pelukan. Usai meminta maaf, kami mengutarakan maksud kedangatangan, yakni membesuk Mayra.


Polisi menyuruh kami duduk di ruang tunggu. Sambil menunggu Mayra, aku menggerutu dan mengomeli Kak Darren. Karena sikapnya, aku terpaksa menahan malu. Namun bukannya menyesali perbuatan, ia malah tertawa senang, seolah tindakannya adalah sesuatu yang membanggakan.


Tak lama kemudian, polisi datang sambil membimbing Mayra. Hatiku bergetar seketika. Sahabat yang biasanya cantik menawan, pakaian mewah dan rambut selalu mengikuti mode, kini hanya mengenakan kaus biru khas tahanan. Rambutnya pun kusut dan berantakan. Ahh, sangat memprihatinkan.

__ADS_1


"Mayra!" Aku beranjak dan menghambur ke pelukannya. Tak kupedulikan meski seorang polisi masih ada di sampingnya.


"Bagaimana kabarmu, Ra, baik 'kan? Pernikahannya lancar, 'kan? Dara juga sehat-sehat aja, 'kan?" Mayra melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.


Sesak di dadaku makin terasa. Aku tahu ia rapuh, tetapi bersikap tegar di hadapanku. Aku tahu netranya menyimpan tangis, tetapi ia justru tersenyum manis. Mengapa?


"May, maafin aku yang nggak bisa bantuin kamu," bisikku dengan air mata yang mulai berderai.


"Hei jangan nangis, aku nggak apa-apa. Lihat, aku baik-baik saja, 'kan?"


Mayra melangkah mundur dan memamirkan postur tubuhnya yang memang sempurna. Aku menatapnya nanar, sampai akhirnya ia menunduk dan menitikkan air mata. Senyum dan tawanya tadi, sekadar palsu belaka.


"Aku sahabatmu, May. Kamu bebas berbagi denganku, jangan menyimpannya seorang diri." Kudekati ia dan kuusap air matanya. Lantas aku membimbingnya duduk di kursi.


"Masa depanku udah hancur, Ra," bisik Mayra dengan kepala yang menunduk.


"May___"


"Aku nggak tahu berapa tahun lagi bisa keluar dari sini. Selain jadi perantara, aku juga ... pemakai. Walau baru 2 kali aku memakainya, tapi ... hasil tesku sudah positif," pungkas Mayra yang lantas membuatku tersentak.


"Apa? Kenapa, May?" tanyaku dengan cepat.


"Aku memang bodoh, sedikit rasa kecewa membuatku bertingkah gila. Kala ada ujian, bukannya berlari pada Tuhan, justru aku memilih jalan yang lebih salah. Aku bodoh, Ra," kata Mayra di sela-sela tangisnya.


"May, aku masih tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" Aku bicara sambil menggenggam pundaknya.


"Belum lama aku membunuh janin yang ada di rahimku. Maaf, Ra, aku tidak bisa cerita dari mana asalnya. Yang jelas, aku sangat terpuruk setelah itu. Saban hari aku dihantui perasaan bersalah, sampai akhirnya aku memilih alkohol dan narkoba untuk melupakan semuanya."


Mataku membelalak mendengar penjelasannya. Tak pernah kusangka Mayra mengalami hal serumit itu. Jujur, aku sangat penasaran siapa yang telah menghancurkannya. Namun, aku juga tak bisa memaksa. Aku menghargai privasinya.


"Aku tidak terima dengan perlakuannya. Kamu sehancur ini, jadi dia pun harus bertanggung jawab. Katakan apa yang bisa kubantu, May?"

__ADS_1


"Ini salahku, bukan salah dia, Ra. Kamu tidak usah melakukan apa pun, baik-baik saja dengan pernikahanmu." Mayra tersenyum padaku dan kemudian menatap ke arah Kak Darren. "Kak, jaga Kirana, ya," sambungnya.


Bersambung...


__ADS_2