Noda

Noda
Rindu Tapi Malu


__ADS_3

"Hai, gimana kabar kamu?"


Lelaki tampan dengan gaya rambut taper cut melangkah mendekati Nadhea. Tubuh tegapnya dibalut celana jeans panjang dan kaus santai warna putih. Sebelah tangannya menenteng jaket hitam dan sebelahnya lagi membawa parsel buah. Senyum terkulum manis di bibirnya, menambah pesona yang sudah menyebar ke mana-mana.


Nadhea kembali menunduk, menenangkan detak jantung yang tiba-tiba di luar batas normal. Berkali-kali hatinya berteriak, mengingatkan bahwa lelaki tampan itu adalah calon adik ipar. Tak seharusnya dia rindu, apalagi memelihara rasa yang pernah ada. Namun, benaknya terlalu angkuh untuk mendengarkan logika itu.


"Sorry baru datang sekarang, aku abis dari Jakarta. Adikku juga sakit di sana." Lelaki yang tak lain adalah Kaivan kembali bicara sambil meletakkan parsel buah di atas meja.


"Sakit apa? Sekarang keadaannya gimana?" tanya Nadhea. Dia menatap sekilas, lantas kembali menunduk, mengalihkan kegugupan dengan mengaduk-aduk sisa bubur yang masih setengah.


"Alhamdulillah udah baikan. Ada Bunda dan Papa yang menemani dia di sana," jawab Kaivan. Dia tersenyum tipis sembari mendaratkan tubuhnya di kursi, di sebelah ranjang.


Nadhea belum bicara, bahkan hingga detik telah berubah menjadi menit. Dia justru menyuap sedikit demi sedikit bubur agar Kaivan tak curiga dengan diamnya. Jujur, meski rindu dia juga malu bertemu dengan Kaivan. Bagaimana tidak, lelaki itu sudah membaca novel 'Sayap-Sayap Patah' yang di dalamnya ada tokoh Kaisar alias Kaivan versi fiksi—yang dia sanjung sedemikian rupa.


"Om sama Tante belum ke sini lagi?" tanya Kaivan memecah keheningan.


"Lagi? Mama bahkan belum ke sini, Kai." Nadhea menjawab sambil tertawa. Bukan tawa yang sebenarnya, melainkan cara untuk menutupi kesedihan.


Kaivan terkesiap. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Ambar—calon mertua yang gagal. Hanya karena otak payah, lantas diabaikan begitu saja, bahkan ketika sang anak sedang koma. Selagi dalam kategori waras, seharusnya seorang ibu tidak sekejam itu.


"Kai___"


"Tunggu!" pungkas Kaivan dengan cepat. Nadhea sampai mendongak dan menatap lekat.


"Jangan panggil aku Kaivan. Kamu memanggilku dengan sebutan itu saat pingsan kemarin, dan aku nggak mau hal itu terulang lagi. Jadi panggil aja Bang Kai, karena inginku kamu selalu tertawa seperti saat di Rinjani waktu itu," sahut Kaivan. Sebuah teori yang kurang masuk akal, tetapi tak dipungkiri dia memang lebih suka dipanggil Bang Kai. Entahlah, rasanya seperti ... ah, sulit dijelaskan.


Nadhea tersenyum sambil membuang pandangan, "Jangan bicara sembarangan! Dua hal itu nggak berhubungan."

__ADS_1


"Mungkin tidak, tapi beneran, aku mau kamu selalu tersenyum. Aku nggak ingin lihat kamu sedih lagi kayak kemarin."


"Sedih-bahagianya aku, ada pengaruhnya kah untuk kamu?" Nadhea bertanya sambil menyuap kembali buburnya.


"Tentu saja ada. Aku akan bahagia kalau orang-orang di sekitarku juga bahagia. Begitu pula sebaliknya." Kaivan tersenyum. Namun, lain halnya dengan Nadhea. Wanita itu malah menunduk sambil memejam.


"Memangnya aku mengharap apa? Dia menganggapku istimewa? Heh, konyol sekali," batin Nadhea.


"Sorry, ya, waktu itu aku terlambat. Pas kamu kirim chat, ponselku lagi low bat dan kutinggal di hotel. Malamnya aku belum sempat baca karena ada telepon dari Bunda, kasih kabar kalau adikku sakit. Aku panik, jadi langsung pergi ke Jakarta," terang Kaivan selagi Nadhea masih diam.


"Kamu datang tepat waktu kok. Terima kasih, ya," jawab Nadhea.


"Kalau tepat waktu, kamu nggak sampai kayak gini." Kaivan menghela napas panjang. "Sekarang Arsen sudah dipenjara. Polisi akan membantu kalau kamu menggugat cerai," sambungnya.


"Iya."


"Aku bisa sendiri, Kai." Nadhea meraih gelas yang ada di tangan Kaivan, yang hampir didekatkan ke bibirnya.


Kaivan menanggapinya dengan senyuman. Walau membiarkan Nadhea melakukan sendiri, tetapi dia tak beranjak dari ranjang, tetap duduk di sebelah Nadhea sampai wanita itu menghabiskan minumannya.


"Kamu kok malah ke sini jenguk aku, Kai? Mmm, maksudku Bang Kai," tanya Nadhea.


"Aku juga pengin tahu keadaan kamu, Nadhea. Aku bisa tenang kalau sudah memastikan sendiri kamu baik-baik saja. Lagipula, sudah ada Papa dan Bunda yang menemani Reya. Keadaannya juga makin membaik, jadi nggak apa-apa meski aku ke sini," jawab Kaivan.


"Maksudku bukan adikmu."


"Hah?" Kaivan mengernyitkan kening.

__ADS_1


"Luna lagi kesulitan, kan? Dia pasti senang kalau kamu ada di sampingnya," ujar Nadhea.


Kaivan tersenyum masam, lalu menunduk dan menyisir rambutnya dengan jemari, "Aku udah pisah sama dia."


Nadhea terkesiap. Tanpa sadar, dia langsung menatap Kaivan dengan lekat. Namun sayang, lelaki itu terus menunduk, sehingga Nadhea tak bisa melihat kemelut yang tersimpan di bola matanya.


"Mungkin itu berat bagimu, tapi percayalah, lebih berat lagi bagi Luna. Kamu dan dia saling cinta, harusnya jangan pergi saat dia sedang membutuhkan. Bang Kai, aku tahu kamu bukan pengecut," ucap Nadhea.


Meski dalam hati bersorak girang karena Kaivan dan Luna sudah pisah—yang artinya ada kesempatan untuk dirinya—walau sedikit, tetapi Nadhea tak ingin memanfaatkan kelemahan. Seburuk apa pun sikap Luna, dia tetaplah adiknya. Ada darah yang sama yang mengalir di tubuhnya. Saat ini Luna sedang ditimpa musibah, sangat tidak etis jika dia memanfaatkan peluang itu untuk mendapatkan Kaivan.


Kaivan mendongak, "Kalau aku pengecut, sekarang aku tidak akan ada di sini. Nadhea, mendengar dari ceritamu bahwa Tante nggak pernah ke sini, sepertinya Om juga memberikan informasi yang salah ke kamu."


"Maksudmu?"


"Intinya, aku tidak akan meninggalkan orang yang benar-benar kesulitan. Jadi jika aku memilih pergi, itu karena ada alasan lain yang mengecewakan dan nggak bisa dimaafkan," Kaivan tersenyum.


"Aku masih nggak paham."


Senyum Kaivan makin melebar, "Nggak usah diambil pusing! Daripada memikirkan hal yang nggak penting, mending pikirkan saja alur novelmu. Kamu punya hutang ending sama aku dan ribuan pembaca yang lain."


Nadhea tak menjawab, justru membuang muka dengan cepat. Dia sangat malu mendengar ucapan Kaivan.


Di sisi lain, Kaivan menatapnya sambil tersenyum geli. Seseorang yang dulu pernah barbar, bahkan sampai membuatnya kehabisan kata untuk menjawab, juga membuatnya dihukum satu bulan tanpa ponsel, sekarang tersipu malu sampai pipinya bersemu.


"Dalam menghadapi ujian, seseorang memang punya cara sendiri-sendiri. Caramu cukup bagus, Nadhea. Kamu berusaha bersikap tegar, tanpa mengeluh dan merutuki takdir. Semoga setelah ini ada kebahagiaan yang hakiki meski tanpa keluarga yang setengah nggak normal itu," batin Kaivan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2