
[Bohong ya bohong, Kai, tapi kira-kira. Ingat, ucapan adalah doa! Bisa-bisanya kamu bilang Kennan dan orang tuanya sakit. Kennan sudah bantu kamu, jangan bicara yang nggak-nggak tentang dia.]
Pesan panjang yang dikirimkan Darren, yang sontak membuat Kaivan berpikir keras. Sebelum Kaivan membalas pesan tersebut, satu pesan dari Darren kembali masuk ke ponselnya.
[Nggak perlu tanya macam-macam sama beliau, kecuali kalau kamu sudah nggak mengharap restunya!]
Kalian memijit pelipis, tak menyangka jika Prawira akan memberitahukan hal itu pada Darren.
"Bang Kai, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Nadhea, kali ini sambil melangkah lebih dekat.
"Iya, nggak apa-apa. Tadi adikku yang kirim pesan. Aku kaget karena dia marah-marah minta uangnya dikembalikan, kayak nagih hutang, eh ternyata salah kirim." Kaivan tertawa sumbang.
"Oh."
"Mmm, aku ke kamar dulu ya. Agak pegel badanku, mau istirahat sebentar," pamit Kaivan.
"Lama juga nggak apa-apa." Nadhea tersenyum.
Kemudian, Kaivan melangkah pergi dan bergegas menuju kamar. Namun, sebelum tiba di sana, dia melihat Prawira sedang memainkan ponselnya di sofa. Kaivan menyapa canggung, perasaannya mendadak tidak enak, khawatir jika Prawira tahu perihal kebohongannya.
Setelah tiba di dalam kamar, Kaivan menutup pintu dan menguncinya. Kemudian, duduk di kursi sambil menghubungi ayahnya.
"Hallo, Pa," sapa Kaivan dengan buru-buru.
"Assalamu'alaikum," sahut Darren dari seberang sana.
"Wa'alaikumussalam. Pa, aku mau bicara penting."
"Mau nanya soal Pak Wira? Iya, tadi dia ngomong banyak sama Papa. Kenapa? Kamu mau protes?" ujar Darren.
"Enggak, Pa. Memang aku yang salah. Lain kali nggak bohong lagi deh. Mmm, Pa, tadi Om Wira ngomong apa aja? Nggak curiga, kan, kalau aku bohong?" tanya Kaivan.
__ADS_1
"Curiga sih enggak."
"Syukurlah, kalau___"
"Tapi, yakin," pungkas Darren.
"Maksud Papa?"
"Semalam, saat kamu pergi ke rumah Pak Chandra, Papa telpon Pak Wira. Papa bilang kalau ke sananya telat karena ada janji dengan Pak Bahri. Papa jelaskan juga kalau Reyvan nggak ada dan Kennan nggak bisa mewakili," terang Darren.
"Aduh, Pa, kenapa nggak bilang ke aku kalau Papa udah telpon Om Wira." Kaivan menepuk kening dengan kesal.
"Memang kamu ada nanya? Enggak, kan? Papa itu diundang loh, masa mau datang telat nggak kasih kabar dan alasan yang akurat."
"Terus, Papa bilangnya Kennan ke mana?" tanya Kaivan penasaran.
"Gantiin kamu memotret di Kota Batu. Sekalian Papa jelasin kalau kamu ngebet pengin ke Bali, sampai mogok makan kalau nggak diizinkan ke sana."
"Jadi laki itu yang gentle. Kalau cinta ya nyatakan, minta sama orang tuanya, jangan berbelit-belit. Kamu itu bukan wanita yang pantas menunggu pinangan, paham?" Darren memotong ucapan Kaivan.
"Iya, Pa. Tapi, Papa kok kok tahu kalau aku suka sama dia?"
"Kamu pikir Papa lahir langsung tua begini? Nggak pernah muda? Nggak pernah pacaran?" Darren menyahut cepat.
"Ya ... nggak begitu juga, Pa."
"Udah, Papa sibuk. Kamu baik-baik di sana, jangan ngomong macem-macem lagi. Jangan bikin malu Papa!" kata Darren.
"Iya, Pa."
"Mumpung ayahnya belum berubah pikiran, ingat, jangan berbelit-belit!"
__ADS_1
"Iya, Pa." Kaivan menjawab sambil mengulum senyum.
________________
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, tetapi beberapa orang masih terlihat sibuk menata tempat untuk acara peresmian esok pagi.
Kaivan pun masih ada di antara mereka. Usai membantu menata kursi, dia kembali menikmati keindahan karya yang memenuhi galeri. Sangat lengkap, mulai dari lukisan, ukiran, sampai patung. Selain itu, karya yang dipajang bukan hanya hasil seniman dalam negeri. Namun, banyak di antaranya yang diciptakan oleh seniman mancanegara.
Di antara banyak jenis karya, Kaivan lebih menyukai lukisan. Baik yang aliran abstrak, realisme, romantisme, atau juga yang surealisme.
Ketika Kaivan masih mengagumi salah satu lukisan abstrak, tiba-tiba Nadhea datang mendekat.
"Belum tidur?" tanyanya.
"Belum ngantuk." Kaivan menoleh dan menatap Nadhea. "Kamu aja gih yang istirahat, besok capek loh kalau tidurnya larut," sambungnya.
Nadhea tersenyum tipis, "Aku masih ada sedikit pekerjaan."
"Apa?" Kaivan mengernyit. Lantas menatap sekeliling, sepertinya tidak ada pekerjaan yang mengharuskan tenaga Nadhea.
"Beresin ... sesuatu."
"Biar aku saja. Beresin apa sih?" tanya Kaivan.
"Nggak usah, aku aja. Cuma dikit kok dan ... nggak berat juga," jawab Nadhea.
"Baiklah.Tapi, aku temani ya."
Karena Kaivan bersikeras menemani, maka Nadhea pun tak menolak. Dia membawa Kaivan ke ruang pribadi yang ada di lantai satu.
Pertama kali menginjakkan kaki di sana, Kaivan terkejut. Ternyata___
__ADS_1
Bersambung...