Noda

Noda
Gagal


__ADS_3

Di antara debu-debu yang membubung di udara, Kaivan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ada sedikit hal yang menganggunya hari ini, hingga dia tak berani pulang dan memilih menyusuri jalanan tanpa arah tujuan. Terik surya tak dihiraukan karena yang ada dalam pikirannya hanyalah kegagalan, yang pasti akan mengecewakan kedua orang tuanya.


Setelah lelah berputar-putar, Kaivan menghentikan motornya di depan kedai kecil, di pinggir jalan sepi. Dia sengaja mencari tempat yang jauh dari keramain guna menenangkan hati yang bergejolak.


Kaivan melepaskan helm dan turun dari motor besarnya. Wajah tampan serta penampilan yang tak membosankan mencuri perhatian beberapa pasang mata yang kebetulan singgah di sana.


"Buk, es teh satu," ujar Kaivan kepada pemilik kedai.


Kemudian, dia duduk di salah satu kursi sambil menyisir rambutnya dengan jemari. Lalu, melepas jaket hitam yang sedari tadi menutupi seragam putihnya. Tampak di sana gelang karet hitam menghiasi lengan kirinya. Entah sudah berapa kali guru menegur dan menyitanya, tetapi Kaivan tetap membeli dan mengenakan aksesori itu.


Sebelum es teh pesanannya diantar, Kaivan menyempatkan diri membuka ponsel. Memeriksa barisan pesan serta daftar panggilan yang tidak terjawab, mulai dari sahabat, teman, dan juga gadis-gadis yang selama ini mengaguminya.


[Van, kamu baik-baik aja, kan?]


[Van, kamu nggak apa-apa, kan?]


[Van, kamu di mana?]


[Van, cepat kabari!]


Isi pesan mereka kurang lebih sama, yakni menanyakan posisi dan keadaan Kaivan. Kemudian, disusul dengan rentetan pesan penyemangat dan kepedulian.


"Silakan, Dek!"


Kaivan menghentikan aktivitasnya dan tersenyum sekilas pada sang pemilik kedai. Lalu, dia meraih gelas minuman dan memainkannya sejenak. Ingatan tentang momen-momen indah di SMA Harapan kembali terlintas, ketika dirinya bercanda bersama kawan-kawan, ketika menyanyi di panggung dalam acara tahunan, juga ketika mendapat surat cinta dari para gadis. Di sekolahnya, Kaivan terkenal tampan dan low profil. Tak heran banyak yang mengidolakannya, bahkan ada beberapa yang tak sungkan mengutarakan perasaan.


Namun, Kaivan belum pernah membuka hati untuk mereka. Dirinya masih banyak kekurangan. Mana pantas bermain cinta, sementara membuat orang tuanya bangga saja dia tak bisa.

__ADS_1


"Apa yang harus kukatakan pada Papa dan Bunda," batin Kaivan sambil menunduk.


Ketika masih larut dalam lamunan, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Athreya yang menelepon. Namun, Kaivan tak menanggapi. Untuk pertama kalinya, dia mengabaikan telepon dari Si Bungsu.


"Maaf, Reya. Kakak lagi pengin diam," gumam Kaivan.


Cukup lama Kaivan berdiam diri di kedai, bahkan sang pemilik sampai keheranan dibuatnya. Setelah matahari mulai condong ke arah barat, Kaivan beranjak dan mengenakan jaketnya.


"Empat ribu, Dek," ucap sang pemilik kedai ketika Kaivan mendekatinya.


Kaivan mengulurkan uang ratusan ribu, "Kembaliannya untuk Ibu."


"Tapi ini terlalu banyak, Dek."


"Tidak apa-apa." Kaivan tersenyum dan melangkah pergi.


________________


Tepat pukul 04.00 sore Kaivan tiba di rumahnya. Dia memarkirkan motor di garasi dan nyalinya langsung menciut ketika melihat mobil ayahnya. Sebelum turun, Kaivan berulang kali menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Berharap hatinya tenang dan mampu mengakui kegagalan dengan jantan.


"Semoga semuanya baik-baik saja." Kaivan berucap sambil melangkah turun.


Dia berjalan gontai menuju pintu utama, yang saat ini sedang terbuka lebar. Ketika tiba di sana, Kaivan langsung disambut dengan perbincangan orang tua dan adik-adiknya, lengkap dengan gelak tawa.


Dengan detak jantung yang makin tak menentu, Kaivan berjalan pelan menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum," sapanya dengan lirih.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


"Kakak!" Athreya berteriak sembari menghambur ke pelukan Kaivan. Namun, Kaivan tak segera menyambut. Dia masih sibuk berkompromi dengan hatinya sendiri.


"Kak, aku lulus dan berhasil meraih ranking satu. Bahasa Inggrisku mendapat nilai sempurna, aku hebat, kan, Kak?" sorak Athreya tanpa melepaskan pelukan.


Kaivan terdiam sambil memejam, bahkan sampai saat ini tangannya belum bergerak, seolah-olah Athreya sedang memeluk sebuah patung.


"Kak Reyvand juga berhasil, Kak. Dia ranking dua. Katanya sangat bahagia dan kita akan ditraktir makan-makan malam ini. Kak Kai ikut, ya?" sambung Athreya sambil mendongak.


Kaivan hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan adiknya. Tahun ini, mereka sama-sama menghadapi Ujian Nasional. Athreya UN tingkat SD, Reyvand tingkat SMP, dan Kaivan tingkat SMA. Kendati ujian dilaksanakan dalam waktu yang berbeda, tetapi kebetulan sekali pengumuman jatuh di hari yang sama, yaitu hari ini.


Kaivan membuka mata dan mengerjapkannya dengan cepat. Bukan iri atau dengki, melainkan sangat terpukul. Adik-adiknya selalu berhasil meraih prestasi, bahkan sudah banyak piala dan piagam yang dikumpulkan dari hasil perlombaan. Sementara dirinya, jangankan piala atau piagam, nilai sempurna dalam tugas harian saja belum pernah.


"Kak, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Reyvan. Namun, Kaivan tak memberikan jawaban sepatah kata pun.


Karena menangkap kegelisahan yang amat besar dalam diri Kaivan, Kirana langsung melangkah dan menghampiri putranya. Lantas, digenggamnya lengan Kaivan dengan pelan.


"Apa ada masalah, Nak?" tanya Kirana.


Lagi-lagi Kaivan tak menjawab. Dia sekadar menunduk dengan bibir yang gemetaran. Cukup lama dia terpaku dalam posisi itu, bahkan sampai Athreya melepaskan pelukan.


"Kai!" panggil Darren dengan tegas.


Perlahan tangan Kaivan bergerak dan mengambil sesuatu dari saku celana, sebuah kertas yang lipatannya sudah lecek.


"Papa, Bunda. Maaf, aku tidak lulus." Kaivan berbisik sambil mengulurkan kertas di genggamannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2