
Lima hari telah berlalu sejak Daniel datang menemuiku. Selama itu, aku selalu terjebak dalam dilema. Bayangan Daniel yang menangis dan menatapku dengan sendu, kerap kali menghantui hati dan pikiran. Nyala cinta yang berusaha kupadamkan, kian berpendar setiap kali kuingat tentangnya.
Namun, aku tak mau lagi menjadi bodoh karena cinta. Aku akan berpikir dengan logika. Jika dia memang mencintaiku, dia pasti bertanggung jawab. Dia tahu aku pergi dari rumah, dia tahu butuh usaha keras untuk mencukupi biaya hidup, tapi dia tidak pernah membantuku.
Jika dia mencintaiku, tidak mungkin dia jalan dengan perempuan lain. Tidak mungkin menjauh dan sama sekali tak peduli dengan keadaanku. Tidak, Daniel sudah tidak mencintaiku. Perasaannya pasti berubah, seiring ruang dan waktu yang membentang di antara kami.
"Aku harus melupakan dia. Aku tidak boleh terus-terusan memikirkannya," gumamku seorang diri.
Kuteguk susu cokelat yang baru saja kuseduh. Kuhela napas panjang berulang kali, aku berusaha menepis bayangan Daniel yang masih terus mengganggu.
Perihal kedatangannya, aku tidak memberitahu siapa pun, baik Reza maupun Mayra. Entahlah, aku masih ingin menyimpannya sendiri.
Beberapa hari terakhir, Mayra gencar menceritakan kekasihnya. Katanya, dia adalah lelaki yang bijak, pengertian, romantis, dan tidak perhitungan.
Aku ikut bahagia, May, kamu mendapat pasangan yang sempurna. Tapi ... berkacalah dariku, jangan mengesampingkan logika demi cinta. Jangan melakukan kesalahan seperti yang kulakukan. Aku tidak rela jika kamu hancur dan terluka seperti diriku.
Mayra menanggapinya dengan tawa, ketika aku menasihatinya. Entah mengapa dia mengangap lucu, padahal saat itu aku sedang serius. Namun aku tak menyerah, sebagai seorang sahabat, aku tidak akan membiarkan dia jatuh ke lubang yang sama denganku. Aku senantiasa menyelipkan nasihat itu di setiap obrolan kami.
Tak lama kemudian, aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Aku beranjak dan bergegas membukanya, ternyata Reza yang datang.
"Kesukaan kamu." Reza tersenyum sambil menunjukkan kantong plastik yang dibawanya.
"Apa?" tanyaku.
"Martabak telur. Dimakan sekarang, ya, mumpung masih hangat," jawab Reza.
__ADS_1
"Nggak perlu repot-repot, Za. Kamu___"
"Ssstt." Reza menempelkan jari telunjuknya di bibirku. "Aku senang bisa hadir dalam hidup kamu. Semua ini tak seberapa, Kirana. Kamu tahu, kesempatan dekat denganmu, itu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku," sambungnya.
"Za, aku___"
"Aku tidak memaksa kamu untuk menerima cintaku. Sekedar kamu anggap ada, itu sudah lebih dari cukup bagiku," pungkas Reza, tanpa menarik jemarinya.
Aku menunduk, menata hati yang mulai tak menentu. Kendati dalam hati ini, masih jelas ada rasa cinta untuk Daniel, namun sebagian ruangnya mulai terbuka dan mau menerima kehadiran Reza.
"Aku tidak sekedar menganggapmu ada, Za. Kamu punya peran penting dalam hidupku, aku tidak akan pernah melupakan kehadiranmu," ucapku dengan senyum lebar.
"Ra, apa ini berarti ... kamu___"
"Aku beli martabak ini untuk kamu, Ra. Aku temani aja, ya," jawab Reza. Dia mengikuti langkahku yang menuju meja makan.
"Aku tadi masak rendang, yakin nggak mau ngincip?" Aku berkata sambil mengerlingkan mata.
"Mmm baiklah, pasti enak banget masakan calon istriku ini." Reza mengusap puncak kepalaku sambil tertawa renyah.
Aku tak membantah saat dia mengucapkan kalimat itu, aku malah menggapinya dengan senyuman. Lantas kami duduk bersama di meja makan. Aku menyantap martabak, dan dia menikmati rendang yang kumasak. Kami saling berbincang dan bercanda. Melihat tawanya, aku berhasil keluar dari dilema.
"Mungkin ini adalah jalan untuk keluar dari luka. Tuhan telah mengirimkan cinta yang lain untuk Mayra, tidak ada lagi beban bagiku untuk memilihmu, Reza," ucapku dalam hati.
_______
__ADS_1
Dering alarm menyadarkanku dari dunia mimpi. Aku lekas beranjak dan menuju ke kamar mandi. Aku punya agenda yang sangat penting pagi ini.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya Reza, dan aku akan memberikan kejutan untuknya. Kebetulan sekarang tanggal merah, jadi dia tidak mengajar. Biasanya, dia memanfaatkan hari libur untuk menengok butiknya.
Satu jam kemudian, aku sudah rapi dengan balutan gaun longgar warna merah maroon. Rambut kubiarkan tergerai, meriap, menutupi bahu yang dihiasi kain renda. Aku tersenyum menatap pantulan diri di dalam cermin. Wajahku terlihat lebih segar dengan polesan make up yang tipis.
Setelah merasa cukup, aku melangkah keluar. Aku kembali tersenyum saat menatap kue ulang tahun yang kubuat tadi malam. Aku rela tidur terlambat, demi memberikan kejutan untuknya.
"Hatiku memang belum sepenuhnya mencintai kamu, Za. Tapi, aku sudah mulai menerima kehadiranmu. Lambat laun, aku akan memberikan rasa ini, utuh untukmu." Aku bergumam sambil memasukkan kue itu ke dalam kotak mika.
"Aku akan menghubungi kamu, setelah aku tiba di butik. Aku tidak sabar melihat ekspresimu, Za." Aku melangkah keluar, dan menuju butik yang berdiri tepat di sebelah rumah.
Aku masuk lewat pintu belakang, karena di depan ada banyak pengunjung. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian, karena membawa kue ulang tahun yanh cukup besar.
Aku berhenti sejenak di depan pintu, aku menghubungi Kyla dan meminta bantuannya, namun teleponku tidak diangkat hingga berulang kali.
"Ckkk, gimana ini, masa iya aku balik," gumamku seorang diri.
Lantas mataku tertuju pada gagang pintu. Kucoba memutarnya, dan ternyata tidak dikunci.
"Baiklah aku masuk aja, tidak mungkin 'kan berdiri terus di sini. Aku akan langsung menemui Mbak Alena." Aku melenggang masuk dan hendak menemui Alena.
Namun, langkahku terhenti di depan ruangan Reza. Ada suara yang cukup menyita perhatianku.
Bersambung...
__ADS_1