
Gundukan tanah yang masih basah, taburan kelopak mawar yang masih segar, serta batu nisan yang bertuliskan nama Sabrina Dara A. Aku menjerit dalam tangis, tak percaya bahwa anakku benar-benar meninggal.
"Sayang, tenanglah! Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kamu kuat. Aku tahu kamu wanita hebat, Sayang." Kak Darren mengulurkan tangannya dan membimbingku untuk bangkit.
Dalam genggamannya, aku berjalan mendekati tempat terkahir Dara. Di sana ada Bu Fatimah dan Ibu yang masih menunduk di samping pusara. Mereka menangis dan memberikan tatapan iba kala melihatku.
"Kirana, semoga kita sabar menghadapi semua ini," ucap seseorang yang lantas membuatku menoleh.
"Da-Daniel," sapaku, ketika melihatnya bersimpuh sambil mencengkeram kelopak-kelopak mawar.
Kulihat matanya sangat sembap, bahkan masih ada setitik air yang membasahi sudutnya. Ia pasti merasakan hal yang sama sepertiku. Sakit karena kehilangan sesuatu yang amat dicinta.
"Maafkan aku yang lemah, sehingga tidak bisa menjaga kamu dan Dara dengan baik," kata Daniel. Suaranya pelan dan tertahan, seolah menyiratkan penyesalan yang dalam.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" sahut Kak Darren sebelum aku sempat menjawab.
"Andai saja aku menjadi orang dekatnya Kirana, semua ini tidak akan terjadi. Darren, apa kamu lupa siapa yang membunuh Dara? Dia adalah Amanda, masa lalumu. Jadi ... apa aku salah bila menganggap semua ini bermula dari kamu?" jawab Daniel, pun sembari melayangkan pertanyaan.
__ADS_1
"Daniel___"
"Kamu menikahi Kirana, tanpa meluruskan masa lalumu terlebih dahulu," pungkas Daniel.
Aku diam meski berdiri di antara mereka. Tak tahu harus menjawab apa. Menyalahkan Daniel, itu tidak mungkin. Ia sangat kehilangan, dan aku paham benar bagaimana rasa sakitnya. Menyalahkan Kak Darren, itu lebih tidak mungkin lagi. Ia adalah suamiku, dan selama ini telah menjagaku dengan baik. Meski Amanda adalah masa lalunya, tetapi mereka sudah berpisah. Kak Darren tidak mungkin menyangka bila Amanda akan berbuat seperti ini.
"Aku sudah putus darinya. Aku___"
"Tapi buktinya dia masih mengusikmu, Darren. Bahkan sampai menghilangkan nyawa Dara dan bila terlambat ... mungkin juga menghilangkan nyawa Kirana," pungkas Daniel.
"Sudah, sudah. Kenapa malah bertengkar? Anak kalian baru saja dikebumikan, tolong hargai dia," timpal Ibu, tetapi Kak Darren dan Daniel tak mengacuhkan.
"Cintaku tidak membuatnya dalam bahaya. Dia bisa memberikan pengertian padaku, sehingga aku ikhlas dan bisa menerima keputusan ini. Kamu ... apa yang sudah kamu janjikan pada Amanda, sampai dia tidak terima dengan pernikahanmu?" Daniel beranjak dan membalas tatapan Kak Darren.
"Aku___"
"Kamu tidak bertanggung jawab, Darren!" pungkas Daniel dengan inyonasi yang sedikit tinggi.
__ADS_1
"Aku sudah bertanggung jawab. Amanda dan Mayra divonis hukuman seumur hidup!"
"Apa hukuman mereka itu bisa membuat Dara hidup kembali? Tidak, Darren!" Daniel menggeleng. "Dan ... bukan tanggung jawab itu yang kumaksud. Jika tidak bodoh, kamu pasti bisa mengerti," sambungnya.
"Cukup! Kalian sudah dewasa, tidak seharusnya bersikap seperti ini!" sahut Pak Fadil.
"Darren, Daniel, tolong hargai Dara. Jangan bertengkar seperti ini!" Bu Fatimah turut melerai.
Aku masih diam. Selain tidak tahu harus bicara apa, aku juga masih terpaku dengan pusara Dara. Tanpa memikirkan dari mana masalah ini bermula, aku terus menitikkan air mata. Bayang-bayang Dara yang bermain riang denganku, muncul dalam ingatan dan seolah masih nyata. Setelah aku sadar bahwa yang ada di hadapan sekadar gundukan tanah, rasa sakit yang mendera kian menjadi.
"Sabar, Kirana!" Daniel menepuk pundakku. Entah sejak kapan ia mendekat, aku terlalu fokus dengan Dara sampai tak menyadarinya.
Aku hendak menghindar, tetapi ia yang terlebih dahulu melepaskan pegangan. Saat aku menoleh dan menatapnya, ia mengulas senyum manis di antara gurat-gurat luka yang terpancar di wajahnya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, tatapan itu tampak berbeda dari biasanya, juga sentuhan yang selama kami berpisah tidak pernah ia lakukan.
Ketika aku masih sibuk menerka-nerka, tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya ke arahku sembari membisikkan kata-kata yang spontan membuat jantungku berdetak kencang.
Bersambung...
__ADS_1