Noda

Noda
Bebas


__ADS_3

"Hey! Kenapa bengong?"


Teriakannya menyadarkanku dari keterkejutan. Belum sempat aku bersuara, ia sudah tertawa renyah, mungkin ekspresiku sangat lucu baginya.


"Segitu kagetnya lihat aku, Ra," ucapnya.


"Ini ... ini beneran kamu, May?" tanyaku sedikit gugup.


Bagaimana tidak, ia adalah Mayra, sahabat yang bulan lalu dikurung di balik jeruji. Katanya ia positif pemakai dan juga seorang pengedar. Hukumannya tidak cukup satu atau dua tahun, tetapi mengapa sekarang ada di hadapanku? Dalam jeda satu bulan dan ia sudah bebas, rasanya itu mustahil. Namun, jika tidak bebas, mana mungkin ia bertandang ke rumah. Tidak ada cerita polisi memberi hari cuti bagi narapidana.


"Memangnya kamu punya sahabat yang serupa kayak aku, ya?" Bukannya menjelaskan, ia malah menggodaku.


"Kok, kamu bisa ada di sini? Gimana ceritanya, May?" tanyaku dengan cepat.


"Ceritanya panjang, Ra. Capek aku cerita kalau terus berdiri di sini," ucap Mayra yang lantas membuatku terbahak.


"Sorry, sorry, masuk ayo," ajakku.


Mayra turut tertawa. Lalu ia mengikuti langkahku dan duduk di ruang tamu. Untuk sesaat, kutitipkan Dara padanya. Aku masuk ke ruang tengah dan mengambil minuman dingin untuknya.


"Wih, seger ini, Ra," ucapnya ketika aku tiba di ruang tamu.


"Minum gih."


Mayra menyambar minuman itu dan meneguknya dengan cepat. Aku mengamatinya, sembari merangkai kata untuk bertanya.


"Aku udah bebas, Ra." Mayra bicara sembari menatapku.


"Serius, kok bisa?" tanyaku dengan cepat.


Mayra tak menjawab, sekadar memberikan tatapan aneh yang sulit kupahami. Mungkinkah ia salah paham dengan ucapanku?


"Mmm, sorry, bukannya aku nggak bahagia, cuma ... aku penasaran, gimana caranya kamu bisa bebas," terangku sebelum Mayra menyahut.


Kulihat Mayra tersenyum, "sebenarnya aku bukan pemakai."

__ADS_1


"Bukan pemakai?" Aku mengernyitkan kening. "Katamu ... waktu itu sudah positif," sambungku.


"Aku cuma 2 kali, dan itu nggak termasuk pemakai. Jadi ... aku lolos." Mayra tersenyum lebar.


Aku tak langsung menjawab, karena masih kesulitan mencerna penjelasannya. Dua kali dan tidak termasuk pemakai. Teori macam apa itu, setahuku meski hanya sekali sudah termasuk pemakai. Mungkinkah peraturan sekarang sudah berubah?


"Kok bengong?" Mayra menyenggol lenganku.


"Yang kasus mengedar bagaimana?" tanyaku, masih penasaran.


"Aku 'kan hanya orang suruhan, jadi ... hukumanku nggak terlalu berat," jawab Mayra.


Aku makin heran, semudah itukah melawan hukum?


"Ra!" panggil Mayra.


"Aku ... masih nggak paham, May," ucapku berterus terang.


Mayra kembali tertawa, "jangan terlalu dipikirkan, yang penting sekarang aku sudah bebas. Lumayan rumit sih, Ra, kemarin, tapi ... akhirnya berhasil."


Mungkinkah Mayra menyewa pengacara hebat, atau mungkin ia mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya. Namun, apa itu bisa?


"Ya sudahlah, nggak perlu aku pusingkan. Toh aku nggak terlalu paham dengan hukum. Yang penting dia udah bebas, aku turut bahagia dengan hal itu. Semoga saja Om Markus mendapatkan keberuntungan yang sama," batinku.


Kutatap Mayra yang saat ini sedang memangku Dara, lantas aku teringat dengan pertanyaan yang sejak jauh-jauh hari ingin sekali kulontarkan.


"May," panggilku.


"Hmmm."


"Katanya ... kamu hamil," pancingku.


"Iya." Dia mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Siapa yang melakukan itu?" Kucondongkan tubuhku ke arahnya, berharap mendapat jawaban secepatnya.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa, Ra. Dia hanya orang asing. Jangankan kamu, aku pun nggak kenal sama dia," jawab Mayra yang lantas membuatku terperangah.


Tidak kenal, tetapi bisa hamil, bagaimana ceritanya?


"Waktu itu aku pergi ke kelab dan nggak sengaja ketemu sama dia. Dia tampan dan aku terpesona, lalu kami tidur bersama dan lupa memakai pengaman. Jadi ... hamil deh," terang Mayra yang sepertinya paham bahwa aku butuh penjelasan.


"Nggak mungkin, bukan sifatmu itu, May." Aku menjawab sembari menggeleng.


Tidak hanya setahun-dua tahun aku mengenal Mayra. Selama ini, ia tumbuh menjadi gadis yang baik. Tidak mungkin ia pergi ke kelab malam dan on nihgt stand dengan lelaki asing. Tidak mungkin. Aku tidak percaya.


"Percaya nggak percaya, tapi itulah kenyataannya, Ra." Mayra makin melebarkan senyuman.


"Kalau memang seperti itu, lalu bagaimana?"


"Aku akan menikah dengan orang lain. Nah, kalau soal cowok ini ceritanya panjang banget. Bagaimana kalau kita keluar, jalan-jalan sambil bincang-bincang. Itung-itung buat rayain hari kebebasanku, Ra." Mayra terlihat antusias.


"Jalan-jalan, ke mana?" tanyaku.


"Terserah kamu deh maunya ke mana, aku ngikut aja." Mayra menjawab sembari memainkan rambut Dara yang kukuncir dua.


Aku mengambil napas dalam-dalam sebelum mengiakan ajakannya. Setelah menikah, aku belum pernah keluar rumah seorang diri. Kalaupun tidak dengan Kak Darren, pasti dengan Bu Fatimah. Sejak menikah juga, aku berhenti membuat kue. Kak Darren yang meminta, katanya agar aku full time dengan Dara.


"Ngobrol di sini juga seru lho, May. Di halaman belakang, ada ayunan, ada bermacam bunga juga. Aku sendiri yang menanam," ucapku pada Mayra.


"Seru sih, tapi___"


Mayra menggantungkan kalimatnya. Lantas menunduk dengan ekspresi yang murung. Mungkin, ia kecewa dengan jawabanku, yang memang menyiratkan penolakan.


Bersambung...


Bagi yang bertanya-tanya, kok bisa Mayra bebas, pidana narkoba nggak main-main lho.


Tenang, di episode selanjutnya ada penjelasan. Aku usahakan nggak terlalu menyimpang dari realita.


Btw, terima kasih banyak ya buat dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2